Alam, Manusia, dan Ekonomi

Kitadanalam.org Program Developer & Dosen Ekonomi UINFAS Bengkulu.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmat Putra Ahmad Hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa pekan terakhir, kita dihadapkan pada rangkaian krisis ekologis: banjir bandang di kawasan Nepal dan Tibet, gelombang panas di Eropa, erupsi gunung api, serta kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Sumatra dan Kalimantan dengan asap pekat.
Fenomena-fenomena ini acap kali direspons dengan label pelindung yang naif: "bencana alam". Istilah itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi kerap menutupi bagian penting dari persoalan.
Jika gempa bumi dapat dimaknai sebagai pengingat kosmis tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam semesta, maka anomali cuaca global dan karhutla justru secara brutal menelanjangi keangkuhan rasionalitas ekonomi modern manusia.
Penetapan 72 orang sebagai tersangka dalam perkara karhutla yang ditangani di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa sebagian kerusakan tersebut bukan sekadar takdir, melainkan akibat dari pilihan manusia.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat hutan yang kehilangan kehidupan, hewan yang kehilangan habitat, masyarakat yang menghirup udara beracun, dan generasi mendatang yang menerima warisan kerusakan.
Alam sebagai Rumah Kehidupan
Secara etimologis, ekologi dan ekonomi berasal dari akar kata Yunani yang sama, yaitu oikos, yang berarti rumah. Ekologi terbentuk dari kata oikos dan logos, yakni pengetahuan tentang rumah, sedangkan ekonomi berasal dari oikos dan nomos, yaitu tata aturan atau cara mengelola rumah tersebut.
Namun, manusia modern tampaknya mengalami keterputusan makna. Ekonomi tidak lagi dipahami sebagai cara merawat rumah bersama, melainkan sebagai perlombaan untuk mengambil sebanyak mungkin dari rumah itu. Hutan dipandang sebagai lahan, sungai sebagai sumber daya, dan tanah sebagai aset ekonomi.
Keputusan untuk membakar hutan demi memangkas biaya pembersihan lahan memperlihatkan persoalan yang dekat dengan konsep Tragedy of the Commons: keuntungan dinikmati secara privat, sedangkan kerusakan lingkungan ditanggung bersama.
Secara filosofis, tragedi ini lahir dari alienasi manusia terhadap tatanan kehidupan. Alam tidak lagi dipandang sebagai entitas bersubjek yang memiliki nilai intrinsik, melainkan direduksi menjadi komoditas mati dengan nilai instrumental semata demi mengejar akumulasi kapital.
Akan tetapi, biaya sesungguhnya tidak hilang. Ia hanya dipindahkan kepada masyarakat dalam bentuk udara beracun, rusaknya keanekaragaman hayati, dan hilangnya fungsi ekologis hutan.
Keuntungannya diprivatisasi oleh segelintir pihak, sedangkan kerugiannya ditanggung bersama. Inilah wajah ketimpangan ekologis: mereka yang memperoleh manfaat terbesar belum tentu menanggung dampak terbesar.
Dalam pandangan spiritual, alam bukan benda mati yang boleh diperlakukan sesuka hati. Alam adalah bagian dari kehidupan yang memiliki keteraturan dan nilai yang melampaui harga pasar. Manusia memang membutuhkan alam, tetapi manusia bukan pemilik mutlak alam. Ia hanya menerima amanah untuk mengelolanya.
Masalahnya semakin rumit karena indikator keberhasilan ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB) tidak secara langsung menghitung hilangnya keanekaragaman hayati, rusaknya tanah, atau memburuknya kualitas udara. Aktivitas pembukaan lahan dapat meningkatkan angka produksi, sementara kerusakan ekosistem yang menyertainya tidak selalu tercermin dalam angka pertumbuhan.
Kita pun mudah terjebak dalam ilusi kemajuan: merayakan kenaikan produksi dan laba, sembari mengabaikan kenyataan bahwa fondasi kehidupan sedang dikikis.
Peningkatan Kesadaran dan Jalan Pulang Peradaban
Krisis ekologis pada dasarnya tidak hanya menunjukkan rusaknya hubungan manusia dengan alam, tetapi juga mencerminkan kegersangan batin manusia. Hasrat untuk menguasai telah menjauhkan manusia dari kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan penguasa yang berdiri di atasnya.
Selama berabad-abad, peradaban modern membangun kemajuan dengan mengandalkan kemampuan manusia menaklukkan dan mengubah alam.
Di baliknya berkembang gaya berpikir mekanistik Cartesian, yang cenderung memandang alam sebagai semacam mesin besar yang dapat dikendalikan dan direkayasa tanpa batas. Rasionalitas tersebut berhasil melahirkan teknologi dan meningkatkan produksi, tetapi juga membentuk anggapan bahwa segala sesuatu dapat dinilai dan dipertukarkan.
Hutan kehilangan makna spiritualnya ketika hanya dihitung sebagai kayu, tanah kehilangan kesuciannya ketika sekadar disebut aset, dan sungai kehilangan martabatnya ketika hanya dipandang sebagai sarana produksi.
Dalam berbagai tradisi agama dan kebudayaan, manusia adalah penjaga yang menerima amanah untuk merawat kehidupan. Dalam Islam, kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi mengandung tanggung jawab, bukan kebebasan untuk mengeksploitasi. Sementara itu, falsafah Jawa Memayu Hayuning Bawana mengajarkan kewajiban manusia untuk menjaga keselamatan, keindahan, dan keharmonisan dunia.
Berbagai ajaran tersebut mengingatkan bahwa alam bukan sekadar bahan baku produksi, melainkan ruang sakral tempat kehidupan saling terhubung. Merusak alam berarti mengingkari amanah, sekaligus merusak jaringan kehidupan yang menopang keberadaan manusia sendiri.
Karena itu, mengatasi krisis ekologis tidak cukup hanya melalui teknologi ataupun instrumen pasar. Semua itu diperlukan, tetapi harus ditopang oleh peningkatan kesadaran. Kesadaran ekologis bukan sekadar pengetahuan bahwa alam perlu dijaga, melainkan pemahaman batin bahwa manusia dan alam memiliki nasib yang tidak dapat dipisahkan.
Manusia perlu membangun kehidupan yang menghormati batas-batas alam. Pelaku ekonomi harus bertanggung jawab atas dampak kegiatannya. Sistem ekonomi harus dikembalikan pada makna asal oikos dan nomos: tata kelola rumah bersama untuk menjaga kehidupan, bukan cara menghabiskan isinya.
Inilah jalan pulang peradaban: memberi kembali jiwa pada kemajuan dan menempatkan alam sebagai rumah kehidupan. Alam tidak meminta manusia meninggalkan ekonomi. Alam hanya mengingatkan bahwa kesejahteraan tanpa keseimbangan akan berubah menjadi bencana.
Sebab, ketika manusia kehilangan rasa hormat kepada alam, sesungguhnya ia sedang kehilangan kesadaran untuk memahami dirinya sendiri.
