Harmoni Manusia dan Alam dalam Kearifan Ekonomi Nusantara

Kitadanalam.org Program Developer & Dosen Ekonomi UINFAS Bengkulu.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rahmat Putra Ahmad Hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia selalu hidup dari alam. Kita makan dari tanah, minum dari air, bernapas dari udara, dan membangun kehidupan dari apa yang disediakan bumi. Namun, semakin maju peradaban, semakin mudah manusia lupa bahwa dirinya tidak berada di luar alam. Hutan dilihat sebagai kayu, tanah sebagai lahan, sungai sebagai saluran, dan laut sebagai ruang produksi.
Cara pandang itu memang melahirkan kemajuan. Teknologi membuat manusia mampu menggali lebih dalam, menebang lebih cepat, dan memproduksi lebih banyak. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah segala sesuatu yang tersedia di alam memang harus kita ambil?
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi gambaran nyata. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya tentang kayu. Asap mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi, habitat satwa menyusut, dan tanah membutuhkan waktu untuk pulih. Karhutla mengingatkan kita bahwa alam dan manusia tidak pernah benar-benar terpisah. Ketika keseimbangan alam terganggu, manusia ikut menanggung akibatnya.
Di sinilah ekonomi perlu dipahami lebih dalam. Ekonomi bukan hanya soal memperoleh manfaat dari sumber daya, tetapi juga menentukan batas antara kebutuhan dan keserakahan, pemanfaatan dan penghabisan, serta kemajuan hari ini dan kehidupan esok. Kesadaran semacam ini telah lama hidup dalam berbagai kebudayaan Nusantara.
Belajar dari Kearifan Ekonomi Nusantara
Masyarakat Minangkabau mengenal falsafah Alam Takambang Jadi Guru. Alam yang terbentang adalah guru bagi kehidupan. Manusia tidak hanya datang kepada alam untuk mengambil, tetapi juga untuk belajar.
Alam mengajarkan bahwa kehidupan berlangsung dalam siklus. Ada waktu untuk tumbuh dan beristirahat, ada musim memberi dan menunggu. Tidak ada tanah yang dapat terus dipaksa menghasilkan tanpa dipulihkan, dan tidak ada sungai yang mampu menanggung beban tanpa batas. Pesannya sederhana: alam memiliki keteraturan, kemampuan untuk pulih, sekaligus batas yang harus dihormati.
Dari Bali, Tri Hita Karana mengajarkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Kesejahteraan tidak cukup diukur dari banyaknya kekayaan. Sebuah wilayah mungkin tumbuh secara ekonomi, tetapi apakah sungainya masih menopang kehidupan dan masyarakatnya ikut sejahtera?
Semangat tersebut tampak dalam Subak, sistem tradisional pengelolaan irigasi sawah di Bali. Air tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang dapat dikuasai, melainkan sebagai sumber kehidupan yang perlu dikelola dan dibagi. Subak menunjukkan bahwa sumber daya yang sama dapat menjadi sumber persaingan, tetapi melalui aturan dan kebersamaan dapat pula menjadi dasar kerja sama.
Falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana membawa tanggung jawab lebih jauh. Manusia tidak sekadar hidup di dunia, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjaganya. Di dalamnya terdapat tanggung jawab antargenerasi: apa yang kita nikmati hari ini merupakan warisan dari masa lalu, sedangkan apa yang kita tinggalkan akan menentukan kehidupan generasi pada masa depan.
Dari tanah Batak, Dalihan Na Tolu memberi pelajaran tentang keseimbangan. Sebagaimana tungku berkaki tiga membutuhkan setiap penopangnya agar tetap tegak, kehidupan pun membutuhkan hubungan yang saling menopang. Kemakmuran tidak akan kokoh jika satu kepentingan ditopang, sementara masyarakat dan alam menanggung bebannya.
Masyarakat Maluku mengenal Sasi, aturan adat yang membatasi pemanfaatan sumber daya dalam jangka waktu tertentu. Ketika Sasi berlaku, sumber daya tertentu tidak boleh diambil agar memiliki kesempatan untuk tumbuh dan pulih sebelum kembali dimanfaatkan.
Prinsip serupa ditemukan dalam Lubuk Larangan di sejumlah wilayah Sumatra. Pada bagian tertentu dari sungai, masyarakat untuk sementara waktu tidak diperbolehkan mengambil ikan. Setelah masa larangan berakhir, pemanfaatannya dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama.
Sasi dan Lubuk Larangan menunjukkan satu prinsip penting: hak untuk mengambil selalu disertai kewajiban untuk memberi alam kesempatan untuk pulih. Ada waktu untuk memanfaatkan, tetapi ada pula waktu untuk menahan diri.
Di sinilah salah satu kekuatan kearifan ekonomi Nusantara: tidak mengambil juga merupakan bagian dari kebijaksanaan ekonomi.
Ekonomi modern sering bertanya, “Berapa banyak yang dapat kita hasilkan?” Kearifan Nusantara menambahkan pertanyaan: “Berapa banyak yang pantas kita ambil, dan kapan kita harus berhenti?”
Merawat Harmoni Manusia dan Alam
Membicarakan kearifan Nusantara bukan berarti mengajak manusia kembali ke masa lalu. Kita tetap membutuhkan teknologi, industri, perdagangan, dan inovasi. Persoalannya bukan memilih antara tradisi dan modernitas, melainkan nilai apa yang membimbing modernitas itu.
Semakin besar kemampuan manusia mengubah alam, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami batas. Teknologi dapat membuat kita menghasilkan lebih banyak, tetapi tidak selalu menjawab apakah semua yang dapat dihasilkan memang perlu dihasilkan. Kemampuan untuk mengambil belum tentu berarti kebijaksanaan untuk berhenti.
Di titik inilah falsafah kearifan Nusantara menemukan relevansinya. Alam Takambang Jadi Guru mengingatkan manusia untuk membaca batas alam. Tri Hita Karana menempatkan keseimbangan sebagai bagian dari kesejahteraan. Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan tanggung jawab terhadap dunia yang diwariskan. Dalihan Na Tolu menegaskan pentingnya hubungan yang saling menopang. Sasi dan Lubuk Larangan mengajarkan kemampuan untuk membatasi diri.
Jika nilai-nilai itu dibawa ke dalam pembangunan hari ini, pertanyaan ekonomi tidak cukup berhenti pada besarnya investasi atau tingginya tingkat pertumbuhan. Kita juga perlu bertanya: siapa yang menerima manfaatnya, siapa yang menanggung biayanya, apakah alam masih memiliki ruang untuk pulih, dan apa yang tersisa bagi generasi berikutnya?
Konsep green economy, circular economy, dan sustainable development mungkin hadir dengan istilah modern. Namun, kearifan ekonomi Nusantara telah sejak lama mengajukan pertanyaan yang sama: bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya tanpa menghancurkan sumber kehidupannya sendiri?
Merawat harmoni bukan berarti berhenti memanfaatkan alam. Harmoni berarti memahami bahwa mengambil selalu disertai tanggung jawab untuk menjaga. Menggunakan membawa kewajiban untuk memulihkan. Menikmati hari ini membawa tanggung jawab terhadap hari esok.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan mungkin bukan seberapa jauh manusia mampu menaklukkan alam, melainkan seberapa dewasa manusia memahami bahwa dirinya tidak pernah berada di luar alam.
Sebab alam bukan sekadar tempat kita mencari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
