Bencana Pergerakan Tanah Itu Nyata, Kenali Dahulu Minimalisir Kemudian

Geosaintis - Desainer - .......
Tulisan dari Rahmat Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tinggal di Indonesia harus selalu siap terhadap bencana alam yang mungkin saja terjadi akibat konsekuensi tatanan geologi yang sangat kompleks. Bencana alam bisa terjadi pada skala besar maupun skala lokal. Beberapa bencana alam yang tidak dapat dicegah misalnya gempa bumi, gunung meletus maupun tsunami. Tetapi terdapat bencana alam yang sebenarnya dapat dicegah atau dilakukan usaha prefentif untuk meminimalisir dampak kerugiannya. Misalnya banjir ataupun pergerakan tanah (tanah longsor).

Pergerakan tanah atau tanah longsor adalah perpindahan material baik batuan, bahan rombakan, atau tanah yang bergerak dari dari atas ke bawah atau keluar lereng (ESDM). Tanah longsor ini terjadi pada permukaan bumi yang memiliki kemiringan tertentu. Tanah longsor juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut ESDM, yaitu:
Longsoran Rotasi
Longsoran Translasi
Runtuhan Batu
Rayapan Tanah (Creeping)
Pergerakan Blok
Aliran Bahan Rombakan
Ada banyak faktor yang dapat memicu terjadinya pergerakan tanah seperti curah hujan yang tinggi dan terjadi terus menerus pada kurun waktu tertentu. Adanya pelapukan batuan, hal ini dapat mengurangi kepadatan tanah dan memungkinkan terjadinya pergerakan tanah. Kemiringan lereng serta penggerusan permukaan tanah pada lereng bagian atas akibat adanya aliran air permukaan (Magma Indonesia) serta faktor penyebab lainnya.
Kecenderungan Masyarakat
Bentukan morfologi Indonesia yang hampir seluruhnya sangat berundulasi. Daerah-daerah yang umum ditinggali sebagai kawasan pemukiman antara lain di pesisir pantai, daerah dekat sungai, dataran tinggi maupun dataran rendah serta kaki gunung atau lereng. Masyarakat yang tinggal di dekat lereng tentu akan lebih rentan terhadap bahaya tanah longsor.
Daerah di Indonesia yang sering terjadi longsor yaitu di Pulau Jawa dengan jumlah kejadian jauh lebih banyak dibandingkan pulau lainnya. Sedangkan daerah yang sama sekali tidak terjadi longsor yaitu di Pulau Kalimantan yang daerahnya cenderung datar.
Usaha Pencegahan Bahaya Tanah Longsor
Suatu bencana dikatakan bahaya jika dapat merugikan dan mengancam kehidupan manusia secara langsung. Sehingga langkah paling tepat untuk mencegah dampak bahaya tanah longsor adalah membuat kawasan pemukiman yang jauh dari lereng atau tempat-tempat yang memiliki kemiringan cukup curam. Beberapa upaya pencegahan lainnya adalah membuat lubang-lubang di lereng menggunakan pipa untuk mengalirkan air agar tanah di lereng tidak jenuh air dan bisa memicu terjadinya gerakan tanah. Tetapi jika masih belum cukup, bisa dilakukan melalui pengamatan langsung tanda-tanda akan terjadi longsor sehingga dapat dilakukan evakuasi lebih cepat. Tanda terjadinya longsor menurut ESDM yaitu:
Munculnya retakan di lereng Salah satu penciri akan terjadinya gerakan tanah yaitu adanya retakan-retakan di lereng di mana arahnya sejajar dengan kemiringan lereng.
Muncul mata air baru Pergerakan tanah bisa terjadi karena tanah yang jenuh dengan air, sehingga penciri lainnya adalah munculnya mata air baru di sekitar lereng.
Tebing rapuh Tebing yang rapuh dapat terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya adalah pelapukan batuan. Tanda tebing yang rapuh yaitu kerikil atau tanah yang mulai berjatuhan.
Waspada hujan Terjadinya tanah longsor biasanya didahului adanya hujan lebat. Sehingga apabila terjadi hujan lebat pada periode waktu yang cukup lama, harus diwaspadai akan terjadinya tanah longsor dan penduduk di sekitar lereng harus segera dievakuasi.
Referensi:
Amelia, A. R. 2018. Katadata: Curah Hujan Meningkat, Ini Gejala Tanah Longsor yang Perlu Diwaspadai. [Online]. Tersedia di: katadata.co.id. [Diakses pada 25 April 2020].
ESDM, n.d. Pengenalan Gerakan Tanah. [Online]. Tersedia di: esdm.go.id. [Diakses pada 29 September 2018]
Magma Indonesia, n.d. Magma Indonesia: Gerakan Tanah. [Online]. Tersedia di: magma.vsi.esdm.go.id. [Diakses pada 25 April 2020]
