kumparan
KONTEN PENGGUNA
28 September 2019 22:54

Letusan Krakatau Tahun 1883: 136 Tahun Setelah 'Kiamat'

Gambar 1.png
Gambar 1. Letusan Krakatau 1883. Foto: Library of Congress
26 Agustus 1883 adalah hari yang sama seperti hari-hari lainnya bagi penduduk di Pulau Krakatau, Selat Sunda. Penuh kerja keras, penuh emosi, penuh juga dengan rasa sakit dari kerasnya kehidupan.
ADVERTISEMENT
Satu hal yang berbeda, namun tak asing, adalah munculnya asap dari gunung api yang menyusun pulau tersebut. Kebanyakan orang mungkin tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah saat-saat terakhir dalam singkatnya umur mereka. Dan setelah hari itu, mereka tidak akan pernah bisa berprasangka apa pun terhadap alam.

27 Agustus 1883

“Kapal yang kami kemudikan sudah mencapai Pontianak. Beberapa saat kemudian, kami diserang dengan rasa penasaran yang teramat sangat, tepatnya setelah kami mendengar ledakan yang sangat kuat dari kejauhan. Sesuai dugaan, kami mendapat perintah untuk menyelidiki lokasi ledakan (Selat Sunda). Dari hasil pengamatan kami, Gunung Krakatau masih berada di tempatnya, hanya saja tanpa bagian utara dari pulau tempat gunung tersebut bersinggasana. Lebih tepatnya, apa yang dulunya daratan, sekarang adalah lautan, dan berlaku sebaliknya di tempat lainnya”

- M. C. van Doorn, Komando Kapal Hydrograaf.

Gambar 2.png
Gambar 2. Peta Gunung Krakatau dan sekitarnya, sebelum dan sesudah letusan Krakatau 1883
Pada 27 Agustus 1883, terjadi 4 letusan masif yang diduga sebagai puncak erupsi. Letusan pertama pada pukul 05.30 pagi di Perboewatan yang memicu terbentuknya tsunami yang menuju ke Bandar Lampung. Letusan kedua terjadi pada 06.44 di Danan, yang memicu tsunami ke arah timur dan barat.
ADVERTISEMENT
Letusan ketiga merupakan letusan dengan kekuatan tertinggi yang terdengar hingga 4.800 kilometer jauhnya. Diduga, letusan ini memiliki intensitas bunyi hingga 180 dB. Kerasnya letusan ini menimbulkan anggapan bahwa pendengar yang berada pada jarak 16 kilometer akan mengalami ketulian. Kekuatannya sendiri mencapai 200 megaton TNT.
Letusan terakhir terjadi pada 10.41 pagi. Dengan demikian, pemerintah kolonial mencatat korban kematian hingga 36.417 orang. Tak lupa pula, langit terlihat berwarna merah oranye selama beberapa tahun setelahnya.

Bagaimana Bisa?

Beberapa peneliti memiliki dugaan atas proses tererupsinya Gunung Krakatau. Judd, misalnya, menyatakan bahwa erupsi Krakatau disebabkan oleh pendinginan magma secara besar-besaran oleh intrusi air laut.
Pendinginan ini menyebabkan timbulnya gas di bawah lapisan magma yang mengeras, sehingga tekanan yang berlebihan dari gas memicu terjadinya ledakan. Dengan kata lain, Gunung Krakatau tenggelam sebelum ledakan.
ADVERTISEMENT

Hal ini hanya dugaan belaka yang dipatahkan oleh beberapa bukti yang mereka temukan. Bukti-bukti tersebut meliputi penemuan aliran piroklastik di sebelah barat daya Pulau Rakata, tekstur batuan yang kasar, dan kandungan dari endapan batuan piroklastik itu sendiri.

- Self dan Rampino (1981)

Mereka juga mengemukakan bahwa intrusi air laut hanya terjadi dalam kuantitas kecil, namun dengan dampak besar. Intrusi air laut ke dalam pipa magma memicu letusan-letusan freatomagmatik kecil.
Letusan ini mampu memecah tudung yang berupa magma kental, dan pecahan ini memicu ledakan dari gumpalan magma (dalam jumlah besar) dari bagian atas pipa magma. Ledakan-ledakan ini diduga membentuk sumbatan pada vent, sehingga meningkatkan aktivitas mekanisme ledakan.
Di sisi lain, diduga terdapat peranan dari percampuran magma dalam menimbulkan erupsi. Namun, percampuran magma tidak dianggap sebagai penyebab utama dari ledakan.
ADVERTISEMENT
(Berkolaborasi dengan: M. Al Thariqsyah)

Referensi

The Eruption of Krakatoa, 1884, Nature 29(724), p. 268-269
Self, S. and Rampino, M.R., 1981. The 1883 eruption of Krakatau. Nature, 294(5843), p.699.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan