Konten dari Pengguna

Megathrust Selat Sunda Berpotensi Tsunami

Rahmat Hidayat

Rahmat Hidayat

Geosaintis - Desainer - .......

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negara yang sering sekali dilanda gempa bumi. Mulai dari gempa-gempa kecil hingga gempa berkekuatan besar. Gempa yang terjadi di Indonesia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Gempa tektonik adalah gempa yang berasal dari aktivitas tektonik atau pergerakan lempeng bumi. Sedangkan gempa vulkanik terjadi akibat aktivitas gunungapi, baik karena kekuatan letusan maupun longsoran material ketika gunung sedang aktif.

Letak geografis Indonesia sebagai tempat bertemunya tiga lempeng dunia dan beberapa lempeng mikro lainnya menyebabkan potensi bencana alam di Indonesia sangat tinggi. Salah satunya adalah bencana gempa bumi. Hampir seluruh wilayah Indonesia sering dilanda gempa bumi, mulai dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Maluku hingga Papua. Kecuali untuk Pulau Kalimantan, di mana intensitas gempa bumi yang terjadi jauh lebih sedikit karena sebagian besar wilayah termasuk dalam lempeng Eurasia dan tidak berbatasan langsung sebagai lokasi pertemuan dengan lempeng lainnya.

Seismic Gap

Walaupun Indonesia sangat sering dilanda gempa bumi, tetapi di beberapa bagian di wilayah Indonesia hampir tidak pernah terjadi gempa bumi berkekuatan besar. Lokasi inilah yang disebut sebagai seismic gap. Namun seismic gap masih aktif secara tektonik dan hanya terjadi gempa-gempa berkekuatan kecil (Daryono, 2019). Menurut Daryono (2019), zona-zona seismic gap ini sedang terjadi proses akumulasi energi medan tegangan kerak Bumi dan dapat memicu gempa-gempa berkekuatan sangat besar (megathrust). Ada enam zona seismic gap di Indonesia yaitu di sekitar Mentawai, Selat Sunda, di bagian Selatan Jawa Tengah, di Selatan Pulau Bali, Zona Sesar Matano dan Laut Banda.

Bahkan seluruh zona sismic gap Indonesia berada di wilayah laut. Sehingga jika benar terjadi gempa megathrust, potensi terjadinya tsunami besar sangatlah tinggi. Sehingga para ilmuwan terus mengembangkan penelitian di daerah-daerah ini untuk mendapatkan data seakurat mungkin mengenai kemungkinan adanya akumulasi energi tadi. Tentu saja hal ini untuk meminimalisir dan mempersiapkan tindakan mitigasi sedini mungkin karena bencana alam adalah hal yang tidak dapat dihindari atau dicegah.

Gambar 1. Zona seismic gap Indonesia (Daryono, 2019)

Selat Sunda

Selat sunda adalah lokasi strategis sebagai jalur perekonomian yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Selain itu Selat Sunda sebagai lokasi paling dekat dengan Ibu Kota Jakarta menyebabkan kawasan ini selalu ramai. Walaupun Selat Sunda adalah salah satu zona seismic gap dan hanya terjadi gempa kecil, tetapi karena lokasi dan jaraknya yang dekat dengan daratan sehingga potensi tsunami tergolong cukup tinggi.

Gambar 2. Peta sebaran sumber tsunami Indonesia (Tim Penyusun BMKG, 2019)

Berdasarkan data katalog tsunami Indonesia tahun 2019, telah terjadi beberapa kali tsunami yang bersumber di Selat Sunda, antara lain:

  1. Tahun 416-an Pernah terjadi tsunami pada tahun 416 di Selatan Pulau Jawa, atau di sekitar Selat Sunda. Tetapi catatan sejarah mengenai kejadian tsunami pada tahun ini belum tersedia.

  2. Tahun 1800-an Telah terjadi tsunami yang diperkirakan berlokasi di Selat Sunda sebanyak dua kali. Kedua tsunami ini terjadi di tahun 1883 dimana mekanisme sumbernya adalah akibat erupsi Gunungapi Krakatau. Tsunami pertama terjadi pada tanggal 26 Agustus 1883 dimana terjadi erupsi besar Gunungapi Krakatau yang menyebabkan 36.000 orang tewas dan merusak 297 desa (Tim Penyusun BMKG, 2019). Erupsi Gunungapi Krakatau tahun 1883 adalah masa kelam bagi dunia dimana abu erupsinya bahkan dapat mempengaruhi iklim dunia.

Referensi:

Daryono, 2019. Jakberketahanan. [Online]. Tersedia di: http://jakberketahanan.org/wp-content/uploads/2019/12/Forum-Jakber_Daryono_BMKG-DKI-Jakarta.pdf. [Diakses pada 22 April 2020].

Tim Penyusun BMKG, 2019. Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416-2018. Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. ISBN 978-602-52407-0-6