Minyak Bumi, Perjalanan Panjang dari Permukaan dan kembali ke Bumi

Geosaintis - Desainer - .......
Tulisan dari Rahmat Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Minyak bumi merupakan senyawa hidrokarbon dengan campuran senyawa organik lainnya yang kompleks. Partisipasi hidrokarbon dalam komposisi minyak bumi sangatlah besar, tepatnya 90 persen-97 persen dari total komposisi penyusun minyak bumi.
Hidrokarbon sebagai bahan utama pembentukan minyak bumi terbentuk atas berbagai senyawa makhluk hidup yang mengalami pelapukan. Makhluk hidup yang dimaksud adalah hewan, tumbuhan, hingga berbagai jasad renik. Semuanya tertimbun hingga ke dasar laut selama jutaan tahun.
Seluruh bekas kehidupan tersebut yang telah tertimbun, akan berubah mengalami penguraian hingga akhirnya menjadi minyak dan gas bumi karena tekanan dan suhu di bawah permukaan bumi yang semakin tinggi. Ketika momentum tekanan dan suhu telah memenuhi waktunya, maka seluruh bekas makhluk hidup ini akan berubah menjadi senyawa yang disebut hidrokarbon. Hidrokarbon tersebut berada ada batuan yang disebut batuan sumber, secara konvensional pembentukan minyak dan gas bumi.
Tempat hidrokarbon menetap ini merupakan bagian dari petroleum system, atau bisa disebut sistem pembentukan minyak bumi.
System ini terdiri atas 5 bagian secara umum, yaitu:
Batuan Sumber (Source) Batuan sumber merupakan rumah minyak bumi yang pertama kali. Di batuan inilah minyak bumi dimasak, dibentuk, dan dimatangkan oleh magma dan berbagai komponen yang ada di mantel bumi. Batuan sumber inilah menjadi awal perjalanan hidrokarbon ataupun minyak bumi. Batuan sumber ini dominan adalah berupa batuan beku. Setelah perjalanan berbagai bekas makhluk hidup terus ke bawah bumi, tertimbun dan tertimbun, mendapatkan tekanan dan suhu yang cocok, proses perjalanannya pun berlabuh di batuan sumber, tempat ia dimasak. Berubah dari awalnya sisa kehidupan menjadi senyawa hidrokarbon.
Batuan Penyimpan (Reservoir) Setelah batuan sumber menyelesaikan tugasnya, makan minyak bumi yang telah matang akan memiliki massa jenis relative lebih rendah hingga akhirnya mulai naik menuju permukaan. Karena, relative massa jenis magma yang ada di sekitar batuan sumber lebih besar daripada hidrokarbon maupun minyak bumi yang telah matang tersebut. Reservoir adalah batuan tempat minyak bumi disimpan dan tidak dapat lagi naik menuju permukaan. Batuan ini didominasi oleh jenis batuan sedimen, terutama adalah batupasir yang memiliki porositas (jarak antar rongga batuan) yang baik sehingga bisa digunakan oleh minyak bumi sebagai rumahnya.
Batuan Tudung (Seal) Minyak yang terus naik ke permukaan bumi karena massa jenis yang relative lebih rendah dibanding lingkungan, akan terhenti pada batuan ini. Batuan ini akan menghalangi minyak bumi naik ke permukaan. Dominan batuan ini merupakan batuan lempung atau pun batuan lanau yang memiliki porositas (jarak antar butir batuan) yang buruk, sehingga jarak antar butir yang rapat menjadikan minyak bumi tidak dapat lagi berproses naik menuju permukaan.
Proses Migrasi (Migration) Proses yang terjadi selama minyak berpindah dari batuan sumber menuju batuan penyimpan disebut dengan migrasi. Proses ini menjadi penanda bahwa minyak dan gas bumi memang dapat sudah matang dan sudah tidak lagi berada di batuan sumber yang bisa jadi menjadikannya overheat atau kualitasnya dapat berkurang karena suhu tinggi atau tekanan yang sudah berlebih.
Sistem Jebakan (Trap) Sistem jebakan adalah sebuah penampakan di mana minyak bumi tersebut tertahan pada bantuan penyimpan. System jebakan ini bisa saja beririsan dengan batuan tudung yang sama-sama menghambat minyak bumi naik ke permukaan bumi. Sistem jebakan ini memiliki cara lain untuk menjebak minyak bumi agar tetap di rumah penyimpanannya, yaitu jebatan structural. Yaitu jebakan yang terbentuk karena aktivitas patahan yang terjadi karena pergerakan tektonik maupun vulkanik dari mantel bumi.
