kumparan
KONTEN PENGGUNA
30 September 2019 11:53

Vesuvius, 75 Tahun dalam Peristirahatan: Sebuah Kilas Balik

Selain Gunung Krakatau di Selat Sunda, Gunung Vesuvius merupakan salah satu gunung api yang terkenal kehancurannya yang disebabkan erupsi (lebih dari 30 kali setelah tahun 79 setelah Masehi). Selain terkenal erupsinya, gunung ini juga terkenal soal sejarah penelitiannya yang sangat panjang, dari tahun 72 setelah Masehi (terhebat) hingga tahun 1944 (termuda). Korban utamanya tentu saja penduduk Romawi Kuno dan modern.
ADVERTISEMENT
Gunung Vesuvius diklasifikasikan ke dalam gunung api kerucut dengan erupsi yang dominan eksplosif. Eksplosivitas ini disebabkan peningkatan tekanan akibat tersumbatnya celah-celah pada tubuh gunung ini. Kuatnya tekanan ini dibuktikan oleh tinggi letusan yang mencapai 15 kilometer pada tahun 79 Masehi. Dalam hal interval erupsinya, Gunung Vesuvius diperkirakan mengalami erupsi setiap sekitar 600 tahun (setelah tahun 1037), tapi tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya.

Erupsi 79 Setelah Masehi: Sebuah Museum Tragedi

Erupsi terbesar Gunung Vesuvius terjadi pada tanggal 24 Agustus tahun 79 setelah Masehi. Material-material terlontar dengan sangat tinggi hingga dapat disaksikan dari ratusan mil jauhnya. Meskipun kekuatannya sangat tinggi, erupsi tahun ini masih memberikan kesempatan bagi penduduk Pompeii untuk menyelamatkan diri. Mereka yang tertinggal mati secara perlahan akibat sesak napas ataupun tertimbun debu vulkanik.
ADVERTISEMENT
Erupsi kala itu memuntahkan lava, gas beracun, debu, dan batuan dengan ketinggian hingga 20 mil ke atmosfer. Gas-gas beracun ini menutupi kota Pompeii, Herculaneum, dan Stabiae, dan batuan panas yang bercampur dengan udara menyebabkan langit menjadi gelap.
Diperkirakan sebanyak 16.000 orang terbunuh dalam erupsi tahun ini, dan tidak banyak yang dapat ditemukan dari sebuah kota yang tertimbun material vulkanik seberat 4 miliar ton, setidaknya hingga 1600-an tahun ke depannya. Meskipun demikian, timbunannya dapat dikatakan sangat “sehat” dengan ditemukannya makanan dan benda-benda yang masih awet pada tahun 1748.
qq.png
Gambar 1. Suasana mencekam ketika erupsi Vesuvius 16 Desember 1631 (oleh saksi mata)

Erupsi 1631: Serangan Fajar

Erupsi ini tidak benar-benar terjadi pada waktu fajar, namun lebih tepatnya pada pukul 6 hingga 7 pagi pada 16 Desember 1631. Dengan cepat, suasana di sekitar Gunung Vesuvius menjadi gelap dan serangkaian gempa terjadi setiap 1 hingga 15 menit. Hujan yang terjadi pada tengah malam 17 Desember 1631 hanya memperparah keadaan dengan menciptakan lahar dari debu-debu vulkanik yang berjatuhan.
ADVERTISEMENT
Pergerakan lahar ini terlihat menyerupai aliran air yang menghancurkan vegetasi dan bangunan lokal. Tidak lama kemudian, keadaan diperparah oleh kehadiran tsunami setinggi 2 hingga 5 meter akibat erupsi. Keadaan mulai membaik pada sore hari 17 Desember 1631, meskipun aktivitas vulkanik masih berlanjut.
Erupsi ini diperkirakan menelan korban jiwa sebanyak 3000 hingga 6000 orang. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kehadiran lava yang sangat cair yang tidak umum dijumpai pada erupsi-erupsi sebelumnya.

Erupsi 1944: “Letusan” Perang Dunia II

Erupsi 1944 terjadi sekitar 7 bulan setelah invasi Sekutu di Italia, tepatnya pada tanggal 17 hingga 23 Maret. Selama satu-setengah minggu, Gunung Vesuvius menghujani kota sekitarnya dengan batuan seukuran bola basket, beberapa meter debu, dan tentu saja lava kental yang menghancurkan apapun yang dilewatinya.
ADVERTISEMENT
Aktivitas erupsi kala itu digambarkan sebagai “tembakan artileri” oleh salah satu penulis New York Times pada tanggal 20 Maret. Erupsi ini tidak memakan korban sebanyak erupsi sebelumnya, hanya sekitar 26 penduduk Italia. Adapun proses evakuasi yang ditangani Sekutu disebut-sebut dalam Journal of Historical Geography sebagai management control yang sangat menakjubkan pada masa itu.

“Aku sedang duduk di tendaku ketika aku mendengar suara gemuruh dari gunung api setiap 4 hingga 10 detik sekali. Hari itu merupakan hari ketiga erupsi. Gemuruh itu lebih terdengar seperti bola bowling yang menghantam pin pada arena bowling raksasa. Melihat ke atas gunung pada malamnya membuat siapapun berpikir bahwa dunia sedang terbakar. Awan tebal di langit terlihat bersinar seperti sedang terjadi kebakaran hutan yang sangat hebat. Hari ini, diperkirakan lava cair sepanjang 1 mil, dengan lebar setengah mil dan kedalaman 8 kaki sedang menuruni gunung.”

- Buku harian Sersan Robert F. McRae, 20 Maret 1944.

qq.png
Gambar 2. Erupsi Gunung Vesuvius Maret 1944
Hasil kolaborasi bersama: M. Al Thariqsyah
ADVERTISEMENT

Referensi

https://volcanoassignment.weebly.com/eruption.html
https://www.earthmagazine.org/article/benchmarks-march-17-1944-most-recent-eruption-mount-vesuvius
https://blog.geolsoc.org.uk/2014/12/08/door-8-the-1631-eruption-of-mt-vesuvius/
https://www.history.com/topics/ancient-history/pompeii#section_3
Guidoboni, E., 2008. Vesuvius: A historical approach to the 1631 eruption “cold data” from the analysis of three contemporary treatises. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 178(3), pp.347-358.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan