Pemilihan Diksi untuk Kemenangan "Agama" Atau Keuntungan Politik An Sich

Tulisan dari Rahmat Kurnia Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa hari terakhir ini penulis dengan sengaja mendengar kembali ceramah agama dari para guru, ustad dan kyai di kampung, yang tidak terlibat misi politik secara praktis tetapi lebih tepatnya berceramah dengan bahasa hati, bahasa yang menyentuh, bahasa yang mengkaji tentang diri dan memotivasi terhadap kehidupan agar lebih baik. Semuanya dilakukan dengan diksi yang bijak dan inspiratif. Hal ini tentu sangat berseberangan dengan fenomena pimpinan keagamaan dan tokoh yang justeru banyak mengkritik dengan ujaran dan bahasa sensitif mengundang sara.
Diksi sendiri adalah bahasa yang dapat menghujam sampai ke menara gading di mana tembok-tembok kekuasaan biasanya terasa sulit untuk ditembus. Dengan diksi yang dibahasakan oleh baginda Nabi Muhammad SAW tentang runtuhnya kekuatan Bizantium, sikap ksatria dan sebaik-baik mujahid yang disebut-sebut Nabi membuat sahabat seperti Abu Ayub Al Ansori sampai seterusnya Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Singgasana Konstantinopel yang terlindung cukup kuat karena secara alamiah dikelilingi oleh teluk Golden Horn, laut Marmara dan Selat Bosporus.
Sejarah sesungguhnya telah mencatat bahwa bahasa dan diksi adalah modal kuat dalam membangun narasi dan inspirasi besar, kita tahu Soekarno dengan gaya retorikanya begitupun dengan Bung Tomo dengan kalimat yang membakar semangat menyala. inspirasi itu tidak terlepas dari pemilihan diksi dan bahasa yang dipergunakan oleh seorang author terhadap pembaca atau para nabi kepada umatnya. Tentu kita meyakini dengan haqqul yakin bahwa apa yang disampaikan Rasullullah SAW adalah bentuk dari diksi inspiratif serta sumber hukum tertinggi setelah Al Quran Al Karim.
Hadist maupun wahyu sendiri adalah bentuk demi kemaslahatan manusia yang bersifat mutlak kebenarannya. Persoalan hari ini adalah bahwa seringnya kita menyeret nash-nash agama untuk keuntungan politik praktis, ntah sadar atau tidak terkadang kita juga merasa enjoy dengan politisasi agama tanpa peduli dengan realitas politik itu sendiri yang masih bersifat profan. Saat ini semua politisi sibuk dengan diksi agama sebaliknya agamawan sendiri sibuk dengan diksi politik.
Mereka terlalu sibuk beradu empati untuk sebuah kontestasi dalam memenangkan 262 juta hati penduduk Indonesia. Pada dasarnya memang setiap warga negara berhak menyatakan pendapat dan aspirasi secara demokratis sesuai dengan UUD 1945 pasal 28E ayat (3) “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia.
Persoalannya kemudian adalah ketika agamawan diperalat untuk melancarkan investasi politik, saham kekuasaan atau melanggengkan dinastinya. Hal demikian sesungguhnya sangat disayangkan, apalagi jika tokoh agamawan menjadi sangat bersemangat dengan menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan kebenarannya atau tidak didukung oleh fakta empiris.
Hal demikian diatas menurut penulis karena ketidakpahaman, hilangnya empati, dan kurangnya kesadaran atas realita politik. Mestinya sebagai publik figur, tokoh dan agamawan haruslah memberikan oase ditengah gersang dan panasnya situasi politik akhir-akhir ini.
Gus Dur di akhir tahu 1998 ketika beliau masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU pernah menyampaikan dihadapan Kyai-Kyai di gedung PCNU Wonosobo, dia memaparkan Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan penyelamat yang dielu-elukan” ujarnya.
Tugas kita dalam sebuah rumah yang telah di ceritakan Gus Dur ini adalah Pencegah Api agar tidak terjadi kebakaran bukan Pemadam Api, hal demikian tentu mempunyai makna yang cukup filosofis seperti NU akan hadir sebagai penyelamat yang tidak terlihat, bukan sebagai Pemadam Api yang di elu-elukan seperti disebut diatas. Bahkan saat ini ada yang secara sengaja mengobarkan bara api agar ia bisa mengambil keuntungan dari situasi itu, apakah akan disebut sebagai pahlawan atau mengambil proyek untuk segala kebutuhan terkait dengan pemadam kebakaran.
Banyak diantara kita yang tidak sadar sesungguhnya ia telah terjebak dalam politik secara praktis. Baik ia pemimpin keagamaan maupun public figure, ketidaksadaran kita dalah bahwa dalam dunia politik itu semuanya serba memungkinkan, yang musuh bisa menjadi teman yang teman bisa menjadi musuh, hari ini kita nistakan besok lusa menjadi orang yang kita muliakan. Demikianlah itu dinamika politik yang ada akhir-akhir ini.
Jadi jangan heran misalnya jika ada orang yang berpuisi seolah bagian dari kubu atau pro pemerintah membuat resah akan pemeluk syariat agama tertentu sesungguhnya bisa jadi dia sendiri adalah bagian dari kubu atau rival politik pemerintah saat ini. Walau penulis sendiri tentu sangat berkeberatan dengan pemilihan diksi puisi Sukmawati yang dibacakannya dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week.
Poin penulis sesungguhnya adalah agar para tokoh, elit dan kaum agamawan ini memilih diksi yang tepat dan bijak sebagai bagian dari itsar atau mendahulukan kepentingan masyarakat Indonesia lebih utama dibandingkan kelompok-kelompok individu tertentu karena itsar bi ghairi ibadah matlub, karena jika ini tidak terjadi maka kita telah kehilangan harapan besar terhaap bangsa ini.
Sungguh kita tidak tahu apakah kemenangan elit, agamawan dan tokoh ini murni kemenangan agama atau hanya keuntungan elit politik an sich. Akhirnya kita merindukan dai, tokoh dan public figur yang hangat, bahasanya yang menyadarkan, menguatkan spritual dan lebih penting mereka-mereka yang mengingatkan pentingnya Indonesia seutuhnya sebagai milik kita bersama. Ya, mereka seperti ustad kampung yang tulus mengajar dan mendakwahkan agama tanpa embel-embel politik transaksional praktis.
