Konten dari Pengguna

Skouw yang Memukau

Berpose di landmark PLBN Skouw (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Berpose di landmark PLBN Skouw (dokumentasi pribadi)
Perbatasan Indonesia - Papua Nugini (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Perbatasan Indonesia - Papua Nugini (dokumentasi pribadi)
Di perbatasan Papua Nugini (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Di perbatasan Papua Nugini (dokumentasi pribadi)
Perlintasan orang di Skouw (dokumentasi PLBN Skouw)
zoom-in-whitePerbesar
Perlintasan orang di Skouw (dokumentasi PLBN Skouw)
Perlintasan warga sakit dari Papua Nugini (dokumentasi PLBN Skouw)
Foto bersama delegasi Kemlu, PLBN Skouw, BNPP Papua dan KRI Vanimo (dokumentasi pribadi)

Kisah Kemanusiaan, Budaya, dan Perdagangan di Perbatasan Papua

Pagi itu, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw masih lengang. Langit Papua membentang biru, sementara cahaya matahari perlahan menyentuh perbukitan dan jalan yang menghubungkan Jayapura dengan Skouw. Sekitar satu jam perjalanan dari Jayapura, suasana perbatasan terasa jauh dari hiruk-pikuk kota.

Namun, ketenangan pagi itu menyimpan cerita tentang ribuan manusia yang setiap hari melintasi garis batas negara.

Sejak Januari hingga Juli 2026, sebanyak 4.871 Warga Negara Indonesia (WNI), baik yang berangkat maupun datang, tercatat melintasi PLBN Skouw. Pada periode yang sama, lebih dari 170.000 warga negara asing (WNA) melintasi perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Angka-angka tersebut mungkin terlihat seperti statistik. Tetapi di balik setiap angka ada manusia: pedagang, pelajar, keluarga, pekerja, pasien, dan mereka yang melintasi batas untuk bertemu kerabat di seberang.

Di Skouw, batas negara bukan sekadar garis yang ditarik di atas peta. Ia adalah ruang tempat kehidupan sehari-hari berlangsung.

Salah satu denyut kehidupan itu terasa pada hari pasar.

Setiap Kamis dan Sabtu, Pasar Skouw menjadi jauh lebih ramai. Warga Papua Nugini datang berbelanja berbagai kebutuhan sehari-hari. Bahasa, mata uang, dan kebiasaan bercampur dalam sebuah ruang ekonomi yang unik. Rupiah dan Kina (mata uang Papua Nugini) sama-sama digunakan. Barang berpindah tangan, pedagang melayani pembeli, dan tawar-menawar menjadi bagian dari keseharian.

“Omzet atau perputaran uang di pasar tersebut bisa mencapai Rp450 juta per hari,” ujar Bu Puspa, Kepala PLBN Skouw.

Angka itu menunjukkan bahwa perbatasan bukan sekadar pintu keluar-masuk manusia. Ia juga menjadi nadi ekonomi bagi masyarakat di kedua sisi.

Namun, Skouw memiliki cerita yang lebih besar daripada sekadar perdagangan.

Sejak 2022, hadir Border Trade Fair, sebuah ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat Indonesia dan Papua Nugini melalui perdagangan, seni, dan budaya. Event ini menjadi semacam panggung bersama bagi talenta-talenta dari kedua sisi perbatasan. Produk lokal dipamerkan dan diperjualbelikan, sementara seni dan budaya hadir untuk menunjukkan bahwa masyarakat di perbatasan memiliki kekayaan yang layak dikenal lebih luas.

Di sana, perdagangan tidak berjalan sendirian. Ia berdampingan dengan musik, tarian, kerajinan, kuliner, dan berbagai ekspresi budaya masyarakat Papua dan Papua Nugini.

Border Trade Fair memperlihatkan bahwa hubungan kedua masyarakat tidak selalu harus dimulai dari meja diplomasi. Kadang-kadang, ia justru tumbuh dari panggung kesenian, lapak pedagang, karya anak muda, dan percakapan sederhana antara penjual dan pembeli.

Di panggung budaya, batas negara terasa lebih cair.

Talenta muda dari kedua negara dapat saling melihat, saling belajar, dan saling mengapresiasi. Pedagang mendapatkan pasar baru. Seniman mendapatkan ruang untuk tampil. Masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengenal tetangga mereka bukan melalui stereotip, melainkan melalui perjumpaan langsung.

Dari sinilah soft power perbatasan menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling nyata: people-to-people contact.

Namun, semakin jauh kita melihat Skouw, semakin jelas bahwa wajah perbatasan tidak hanya tentang perdagangan, mobilitas, dan budaya. Ada wajah lain yang jauh lebih menyentuh: kemanusiaan.

Ada warga Papua Nugini yang datang berobat meskipun tidak memiliki dokumen identitas kewarganegaraan atau kependudukan. Secara administratif, kondisi tersebut tentu menghadirkan persoalan. Tetapi bagi petugas kesehatan, seseorang yang datang dalam keadaan sakit tidak selalu bisa dilihat hanya dari kelengkapan dokumennya.

Apalagi Skouw merupakan salah satu wilayah terdekat bagi masyarakat di kawasan perbatasan Papua Nugini.

“Secara kemanusiaan tetap kami layani.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan dilema sekaligus kebesaran hati mereka yang bekerja di perbatasan. Masalah muncul ketika pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Kami kewalahan jika pasien harus dirujuk ke rumah sakit,” ungkap seorang petugas pelayanan kesehatan di Skouw.

Ketiadaan identitas resmi dapat menjadi hambatan ketika pasien membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih besar. Di sini, persoalan administrasi bertemu dengan kebutuhan kemanusiaan. Sebuah dokumen mungkin hanya selembar kartu, tetapi bagi seseorang yang sedang sakit, ketiadaannya bisa menjadi tembok yang sulit ditembus.

Skouw juga mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas negara.

Dalam keadaan tertentu, PLBN bahkan tetap membuka pintu untuk kasus-kasus emergensi, termasuk pelintasan jenazah yang akan dimakamkan melintasi batas negara.

Ada sesuatu yang hening dalam peristiwa semacam itu. Ketika seseorang telah meninggal, perbedaan kewarganegaraan seolah menjadi tidak berarti. Yang tersisa adalah keluarga yang ingin mengantar orang tercinta menuju tempat peristirahatan terakhir.

Di sisi lain, pengawasan perbatasan tetap menjadi tugas yang tidak sederhana. Masih terdapat warga Papua Nugini yang tidak memiliki paspor atau kartu identitas kependudukan setempat. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas imigrasi untuk memastikan mobilitas manusia tetap aman dan tertib, tanpa mematikan denyut ekonomi masyarakat perbatasan.

Di sinilah Skouw menghadirkan sebuah paradoks: negara harus hadir dengan aturan, tetapi negara juga harus hadir dengan kemanusiaan.

Perdagangan harus dijaga, tetapi keselamatan manusia tidak boleh diabaikan. Dokumen harus dipenuhi, tetapi dalam keadaan tertentu, rasa kemanusiaan harus menemukan jalannya. Budaya harus dirawat, karena melalui budaya masyarakat belajar mengenal dan menghargai satu sama lain.

Mungkin itulah yang membuat Skouw begitu memukau.

Ia bukan hanya tentang gerbang negara, pemeriksaan dokumen, atau angka statistik perlintasan. Skouw adalah tentang pasar yang mempertemukan dua masyarakat, Border Trade Fair yang mempertemukan talenta dan budaya, pasien yang mencari pertolongan, pedagang yang menggantungkan kehidupan pada ramainya pasar, dan keluarga yang tetap berharap bahkan ketika seseorang yang mereka cintai telah tiada.

Di perbatasan, kita akhirnya belajar bahwa garis negara memang tegas di peta. Tetapi dalam kehidupan manusia, garis itu sering kali menjadi jauh lebih lentur.

Dan di Skouw, negara hadir bukan hanya untuk menjaga batas.

Negara hadir untuk membuka ruang perdagangan, merawat budaya, melindungi manusia, dan memastikan bahwa di balik setiap garis perbatasan, kemanusiaan tetap menemukan jalannya.