Konten dari Pengguna

Anak-Anak yang Ingin Merasa Dibutuhkan

Rahmat Santana

Rahmat Santana

Guru SD Hikmah Teladan Kota Cimahi, yang aktif sebagai Kabid Advokasi PP IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan pengurus BMPS ( Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Kota Cimahi

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang Siswa berasa di Ruang Manajemen di sebuah sekolah swasta (Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang Siswa berasa di Ruang Manajemen di sebuah sekolah swasta (Foto Pribadi)

Pagi itu seorang anak mendekati meja saya sambil menunjuk gelas kopi yang masih tersisa. "Pa, gelasna bade dicuci," katanya. Saya menoleh sekilas lalu menjawab bahwa gelas itu akan saya cuci sendiri.

Saya mengira percakapan selesai. Ternyata tidak. Beberapa menit kemudian ia datang lagi dengan permintaan yang sama. Saya kembali menolak. Tidak lama setelah itu ia kembali lagi, kali ini tanpa banyak bicara. Ia hanya duduk di samping saya sambil sesekali melirik gelas yang masih berada di pojok meja.

Barulah saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari sekadar keinginan membantu. Saya bertanya pelan, "Kamu memang ingin mencuci gelas itu?" Wajahnya langsung berubah. Ia mengangguk cepat dan matanya berbinar.

Ketika akhirnya saya mengizinkan, ia membawa gelas tersebut ke wastafel dengan langkah ringan dan penuh semangat. Saat itulah saya merasa sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar seorang anak yang ingin mencuci gelas kopi.

Peristiwa sederhana itu membuat saya memahami satu hal yang selama ini sering luput dari perhatian orang dewasa. Bagi anak tersebut, mencuci gelas bukanlah pekerjaan rumah tangga yang sepele. Aktivitas itu adalah kesempatan untuk merasa berguna. Ia ingin dipercaya. Ia ingin terlibat. Ia ingin merasakan bahwa keberadaannya memberi manfaat bagi orang lain.

Ilustrasi anak. Foto: Irina WS/Shutterstock

Semakin lama menjadi guru, semakin sering saya menemukan pengalaman serupa. Ada anak yang selalu menawarkan bantuan membereskan kelas. Ada yang senang mengantar pesan ke ruang guru. Ada yang begitu bersemangat ketika diminta membantu menyambut tamu sekolah. Jika dilihat sepintas, perilaku-perilaku itu mungkin tampak biasa saja. Namun setelah mengamati banyak anak selama bertahun-tahun, saya mulai melihat pola yang sama: mereka sedang mencari ruang untuk merasa berarti.

Dalam psikologi perkembangan terdapat konsep need for significance, yaitu kebutuhan manusia untuk merasa memiliki nilai, dihargai, dan diakui keberadaannya. Kebutuhan ini tidak hanya dimiliki orang dewasa. Anak-anak pun membutuhkannya. Bahkan bagi sebagian anak yang sering mengalami kesulitan akademik atau sosial, kebutuhan tersebut bisa menjadi sangat kuat.

Banyak anak datang ke sekolah setiap hari tanpa pernah benar-benar merasakan pengalaman berhasil. Mereka mungkin kesulitan mengikuti pelajaran, memperoleh nilai yang tidak memuaskan, atau lebih sering menerima koreksi daripada apresiasi. Dalam situasi seperti itu, otak manusia secara alami akan mencari jalur lain untuk memperoleh pengalaman positif tentang dirinya sendiri. Sebagian anak menemukannya melalui olahraga. Sebagian melalui seni. Sebagian lagi menemukannya melalui kesempatan-kesempatan kecil untuk membantu orang lain.

Sayangnya, orang dewasa sering kali salah membaca sinyal tersebut. Ketika seorang anak terus menawarkan bantuan, kita menganggapnya mengganggu. Ketika ia sering berada di sekitar guru, kita menganggapnya mencari perhatian. Ketika ia berulang kali meminta tugas tertentu, kita menganggapnya sekadar ingin terlihat rajin. Padahal bisa jadi yang sedang ia cari bukan perhatian, melainkan kebermaknaan.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada beberapa murid yang selama bertahun-tahun saya dampingi. Ada anak yang tampak biasa saja di ruang kelas, tetapi begitu percaya diri ketika diberi tanggung jawab membantu kegiatan sekolah. Ada anak yang sulit bertahan mengikuti pelajaran dalam waktu lama, tetapi mampu menunjukkan ketekunan luar biasa ketika dipercaya mengerjakan sesuatu yang menurutnya penting. Dalam situasi seperti itu saya belajar bahwa keberhasilan anak tidak selalu muncul dalam bentuk nilai atau peringkat. Kadang-kadang keberhasilan itu muncul dalam bentuk senyum bangga ketika ia merasa dipercaya.

Karena itu saya semakin yakin bahwa sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga harus menjadi tempat di mana setiap anak menemukan bahwa dirinya memiliki arti. Tidak semua anak akan menjadi juara kelas. Tidak semua anak akan unggul dalam ujian. Namun setiap anak berhak memiliki pengalaman bahwa dirinya mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Mungkin inilah salah satu tugas penting sekolah yang sering terlupakan: menyediakan ruang kebermaknaan. Bukan dalam bentuk pekerjaan yang dipaksakan, melainkan kesempatan yang memungkinkan anak berinisiatif, berkontribusi, dan merasakan bahwa kehadirannya dibutuhkan. Ruang itu bisa sesederhana membantu merapikan perpustakaan, merawat tanaman sekolah, menyambut tamu, membantu teman yang lebih muda, atau tugas-tugas kecil lain yang membuat anak merasa dipercaya.

Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat pada rapor. Namun pengalaman-pengalaman seperti itulah yang perlahan membangun rasa percaya diri, tanggung jawab, dan identitas positif dalam diri anak. Ketika seorang anak merasa dirinya berguna, ia sedang membangun fondasi penting untuk pertumbuhan yang jauh lebih besar.

Pagi itu seorang anak hanya ingin mencuci gelas kopi. Namun ia mengingatkan saya bahwa di balik banyak perilaku anak yang tampak sederhana, sering tersembunyi kebutuhan yang sangat mendasar: kebutuhan untuk merasa dibutuhkan.

Dan mungkin, salah satu ukuran sekolah yang baik bukan hanya seberapa banyak anak belajar di dalamnya, melainkan juga seberapa banyak anak merasa bahwa keberadaannya berarti.