Banyak Kepala Sekolah Gagal Membangun Tim: Pelajaran dari Piala Dunia

Guru SD Hikmah Teladan Cimahi. Pengurus PP IGI dan BMPS Kota Cimahi. Menulis tentang pendidikan, murid, guru, pembelajaran inklusif, dan refleksi dunia sekolah.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali Piala Dunia digelar, perhatian publik hampir selalu tertuju kepada para pemain. Nama-nama besar menjadi bahan perbincangan. Siapa yang mencetak gol, siapa yang melakukan penyelamatan gemilang, atau siapa yang menjadi bintang pertandingan. Namun, mereka yang memahami sepak bola tahu bahwa kemenangan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kualitas sebelas pemain di lapangan. Di balik setiap trofi yang diangkat, ada pelatih yang berhasil membangun sebuah tim.
Pelatih tidak mencetak gol. Ia tidak melakukan tekel atau menyelamatkan bola. Namun, dialah yang memilih pemain, menentukan strategi, membangun budaya tim, dan memastikan setiap orang memahami perannya. Ketika tim menang, pelatih mendapat pujian. Ketika tim kalah, pelatih pula yang pertama kali dievaluasi.
Bukankah kepala sekolah memikul tanggung jawab yang hampir sama?
Sayangnya, banyak sekolah masih memaknai kepemimpinan secara administratif. Kepala sekolah dinilai dari kelengkapan dokumen, ketepatan laporan, atau banyaknya rapat yang dilaksanakan. Padahal ukuran keberhasilan seorang kepala sekolah seharusnya tidak berhenti pada administrasi, melainkan pada kemampuannya membangun sebuah tim yang mampu menghadirkan pembelajaran terbaik bagi peserta didik.
Masalah terbesar banyak sekolah bukan karena kekurangan guru yang berkualitas, melainkan karena belum berhasil menyatukan guru-guru yang berkualitas menjadi sebuah tim. Ada guru yang hebat mengajar tetapi berjalan sendiri. Ada tenaga kependidikan yang bekerja tanpa merasa menjadi bagian dari misi sekolah. Ada wali kelas yang sibuk mengurus administrasi, tetapi kehilangan kesempatan mendampingi perkembangan peserta didik. Semua bekerja, tetapi tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Dalam sepak bola, pelatih tidak memilih pemain hanya berdasarkan nama besar. Ia memilih pemain yang paling sesuai dengan kebutuhan tim. Bahkan, pemain cadangan pun dipilih dengan pertimbangan yang matang karena sewaktu-waktu dapat menjadi penentu kemenangan.
Begitu pula kepala sekolah. Kepemimpinan bukan tentang memiliki guru terbaik sebanyak mungkin, melainkan tentang menempatkan setiap orang pada posisi yang membuat mereka memberikan kontribusi terbaik. Guru yang kreatif mungkin lebih tepat menjadi penggerak projek. Guru yang telaten dapat menjadi wali kelas yang kuat.
Guru senior dapat menjadi mentor bagi guru-guru muda. Tenaga administrasi yang teliti menjaga sistem sekolah tetap berjalan. Pustakawan menumbuhkan budaya literasi. Laboran menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Satpam menciptakan rasa aman. Petugas kebersihan menjaga lingkungan yang nyaman. Tidak ada peran yang kecil ketika tujuan yang ingin dicapai adalah pendidikan yang berkualitas.
Inilah yang sering dilupakan. Banyak kepala sekolah sibuk membagi tugas, tetapi belum sungguh-sungguh membangun tim. Padahal membagi pekerjaan jauh lebih mudah daripada membangun kolaborasi. Tim yang hebat tidak lahir hanya karena memiliki orang-orang hebat, tetapi karena setiap anggotanya memahami tujuan bersama dan saling percaya.
Pelatih sepak bola modern juga tidak lagi mengandalkan intuisi semata. Ia membaca statistik, mengevaluasi performa pemain, menganalisis kekuatan lawan, lalu menyusun strategi berdasarkan data. Keputusan tidak dibuat berdasarkan kedekatan atau kebiasaan, tetapi berdasarkan kebutuhan tim.
Demikian pula kepala sekolah. Hari ini sekolah memiliki banyak sumber data, mulai dari Rapor Pendidikan, Asesmen Nasional, hasil supervisi pembelajaran, hingga survei lingkungan belajar. Data-data tersebut seharusnya menjadi dasar dalam mengambil keputusan, termasuk menentukan prioritas pembinaan guru, pengembangan tenaga kependidikan, maupun penyusunan program sekolah. Pemimpin yang baik bukanlah yang paling banyak bekerja sendiri, tetapi yang paling mampu mengubah data menjadi keputusan yang tepat.
Namun, sehebat apa pun strategi yang disusun, sebuah tim tidak akan menjadi juara tanpa budaya saling percaya. Banyak negara yang memiliki pemain-pemain terbaik dunia gagal meraih gelar karena ruang ganti mereka dipenuhi ego. Sebaliknya, tim yang dihuni pemain dengan kualitas biasa justru mampu melangkah jauh karena mereka bermain sebagai satu kesatuan.
Sekolah pun demikian. Budaya sekolah dibangun bukan hanya oleh guru, tetapi oleh seluruh warga sekolah. Senyum satpam saat menyambut peserta didik di gerbang, keramahan tenaga administrasi ketika melayani orang tua, kepedulian petugas kebersihan menjaga lingkungan sekolah, hingga kebiasaan guru saling mendukung menjadi bagian dari pendidikan karakter yang setiap hari disaksikan oleh peserta didik. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari bagaimana orang dewasa bekerja sama.
Dalam Islam, kepemimpinan selalu dipahami sebagai amanah. Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." Hadis ini mengingatkan bahwa kepala sekolah bukan sekadar pengelola lembaga pendidikan, melainkan pemimpin yang bertanggung jawab menumbuhkan manusia. Amanah itu tidak cukup dijalankan dengan mengelola administrasi, tetapi dengan membangun ekosistem yang memungkinkan setiap warga sekolah berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Piala Dunia bukanlah tentang siapa yang paling banyak mencetak gol. Pelajaran terbesarnya adalah bahwa sebuah tim hanya akan menjadi juara ketika setiap orang memainkan perannya dengan baik dan dipersatukan oleh kepemimpinan yang mampu mengubah sekumpulan individu menjadi satu kesatuan.
Sekolah pun demikian. Keberhasilan pendidikan tidak lahir karena satu guru yang luar biasa atau satu kepala sekolah yang hebat. Ia lahir ketika kepala sekolah mampu meracik guru, tenaga kependidikan, pustakawan, laboran, satpam, petugas kebersihan, dan seluruh warga sekolah menjadi satu tim yang bergerak menuju tujuan yang sama. Sebab, sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang memiliki individu-individu terbaik, melainkan sekolah yang berhasil membangun tim terbaik untuk mendidik generasi terbaik.
