Contoh MPLS Sekolah Bertumbuh: Lima Hari Pertama yang Berpusat pada Murid

Guru SD Hikmah Teladan Cimahi. Pengurus PP IGI dan BMPS Kota Cimahi. Menulis tentang pendidikan, murid, guru, pembelajaran inklusif, dan refleksi dunia sekolah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap tahun ajaran baru, ribuan sekolah di Indonesia menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Ruang-ruang kelas kembali dipenuhi wajah-wajah baru yang datang dengan rasa penasaran, semangat, sekaligus kecemasan. Mereka memasuki lingkungan yang asing, bertemu guru yang belum dikenal, dan mulai menapaki babak baru dalam perjalanan hidup.
Selama ini, MPLS kerap dimaknai sebagai proses memperkenalkan sekolah kepada murid. Mereka dikenalkan pada tata tertib, visi dan misi sekolah, struktur organisasi, kegiatan ekstrakurikuler, hingga berbagai fasilitas yang tersedia. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: Sudahkah sekolah benar-benar mengenal murid yang baru datang itu?
Pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya dapat mengubah cara kita memandang MPLS.
Jika pendidikan benar-benar berpusat pada murid, lima hari pertama sekolah bukan hanya menjadi masa adaptasi murid terhadap sekolah, melainkan juga masa adaptasi sekolah terhadap muridnya. Sekolah yang bertumbuh memahami bahwa keberhasilan pembelajaran tidak dimulai ketika guru membuka buku pelajaran, tetapi ketika guru mulai mengenal manusia yang akan dididiknya.
Setiap murid membawa cerita yang berbeda. Ada yang datang dengan rasa percaya diri, ada yang masih menyimpan ketakutan. Ada yang mudah bergaul, ada yang membutuhkan waktu untuk membuka diri. Ada yang menyukai tantangan, ada pula yang lebih nyaman belajar dalam suasana tenang. Ada yang memiliki kemampuan akademik tinggi, tetapi kesulitan mengelola emosi. Ada pula yang tampak biasa di kelas, tetapi memiliki potensi luar biasa dalam seni, olahraga, atau kepemimpinan.
Sayangnya, keragaman tersebut sering kali baru disadari beberapa bulan setelah proses pembelajaran berlangsung. Padahal, informasi itu seharusnya mulai dipetakan sejak hari pertama murid menginjakkan kaki di sekolah.
Di sinilah konsep MPLS Sekolah Bertumbuh menemukan relevansinya.
Dalam pendekatan ini, tujuan MPLS bergeser, dari sekadar menyampaikan informasi menjadi membangun hubungan dan memahami peserta didik. Guru tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar. Tidak hanya menjelaskan, tetapi juga mengamati. Tidak hanya mengatur, tetapi juga belajar mengenali setiap anak.
Bayangkan jika hari pertama tidak dipenuhi presentasi panjang mengenai tata tertib, melainkan diawali dengan penyambutan hangat di gerbang sekolah. Guru menyapa setiap murid dengan namanya, mengajak berbincang singkat, lalu mengundang mereka menceritakan dirinya melalui gambar, cerita, atau aktivitas kreatif. Dalam waktu singkat, guru mulai memperoleh gambaran tentang karakter, minat, dan kondisi emosional setiap murid.
Hari berikutnya, sekolah tidak terburu-buru memberikan tes yang menegangkan. Sebaliknya, murid diajak mengikuti berbagai tantangan literasi, numerasi, kreativitas, dan kolaborasi dalam suasana yang menyenangkan. Guru mengamati cara mereka berpikir, bekerja sama, menyelesaikan masalah, hingga menghadapi kegagalan. Semua itu menjadi data awal, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami.
Pada hari-hari berikutnya, murid mengenal budaya sekolah melalui pengalaman, bukan sekadar ceramah. Mereka berdialog dengan guru, tenaga kependidikan, pustakawan, petugas kebersihan, hingga petugas keamanan. Mereka belajar bahwa sekolah adalah komunitas yang dibangun oleh banyak orang dengan peran yang sama pentingnya.
Murid juga diberi ruang untuk menyampaikan harapan terhadap sekolah. Mereka menyusun kesepakatan kelas bersama guru, mendiskusikan nilai-nilai yang ingin diwujudkan, bahkan menetapkan target pribadi yang akan dievaluasi beberapa bulan kemudian. Sejak awal, mereka merasakan bahwa sekolah bukan sekadar tempat yang dipenuhi aturan, melainkan ruang yang memberi kepercayaan.
Ketika lima hari pertama dirancang seperti ini, hasil MPLS berubah secara mendasar. Sekolah tidak hanya menghasilkan murid yang mengetahui letak perpustakaan atau hafal tata tertib. Lebih dari itu, sekolah memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu peta potensi, kebutuhan belajar, karakter, minat, bakat, serta kondisi sosial dan emosional setiap murid.
Data tersebut menjadi modal utama guru untuk merancang pembelajaran yang berdiferensiasi, memberikan pendampingan yang tepat, membangun komunikasi yang lebih efektif dengan orang tua, serta menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar berpihak pada murid.
Inilah makna Sekolah Bertumbuh. Sekolah tidak menunggu murid menyesuaikan diri sepenuhnya dengan sistem yang telah ada. Sebaliknya, sekolah juga terus belajar menyesuaikan layanan pendidikannya dengan kebutuhan peserta didik. Pertumbuhan bukan hanya terjadi pada murid, tetapi juga pada guru, kepala sekolah, dan budaya belajar yang mereka bangun bersama.
MPLS akhirnya bukan lagi sekadar agenda tahunan yang selesai dalam lima hari. Ia menjadi fondasi bagi pembelajaran selama satu tahun, bahkan dapat menentukan kualitas hubungan antara guru dan murid sepanjang proses pendidikan berlangsung.
Barangkali, inilah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap MPLS. Ukuran keberhasilannya bukan lagi seberapa banyak informasi yang berhasil disampaikan kepada murid, melainkan seberapa dalam sekolah berhasil mengenal setiap murid yang dipercayakan kepadanya.
Pendidikan yang hebat tidak pernah dimulai dari kurikulum, gedung yang megah, atau aturan yang lengkap. Pendidikan yang hebat selalu dimulai dari kesediaan sekolah mengenal setiap anak sebagai manusia yang unik, berharga, dan memiliki potensi untuk bertumbuh.
