Konten dari Pengguna

Murid yang Tak Pernah Betah di Kelas Itu Ternyata Sedang Mengajari Saya

Rahmat Santana

Rahmat Santana

Guru SD Hikmah Teladan Kota Cimahi, yang aktif sebagai Kabid Advokasi PP IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan pengurus BMPS ( Badan Musyawarah Perguruan Swasta) Kota Cimahi

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Foto: Toto Santiko Budi/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Foto: Toto Santiko Budi/Shutterstock

Selama bertahun-tahun, saya mengira belajar terjadi ketika seorang anak duduk tenang di kelas, mendengarkan guru, lalu mengerjakan tugas yang diberikan. Karena itu, ketika bertemu seorang murid yang hampir tidak pernah betah berada di kelas, saya menganggapnya sebagai masalah yang harus segera diperbaiki. Baru belakangan saya menyadari kemungkinan lain yang tidak pernah terpikir sebelumnya: mungkin masalahnya bukan pada anak itu. Mungkin kita terlalu sempit mendefinisikan apa itu belajar.

Murid tersebut hampir setiap hari keluar masuk kelas. Saat pelajaran berlangsung, ia bisa berjalan ke ruang guru, menyapa petugas administrasi, berbincang dengan kepala sekolah, lalu melanjutkan langkahnya ke sudut lain sekolah.

Sebagai guru, saya tentu berusaha membuatnya lebih lama bertahan di kelas. Saya mengingatkan, membuat kesepakatan, dan mencoba berbagai pendekatan yang saya pelajari selama mengajar. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Namun semakin lama saya mendampinginya, semakin kuat perasaan bahwa ada sesuatu yang belum saya pahami.

Perubahan cara pandang saya terjadi ketika saya mulai memperhatikan bukan hanya apa yang tidak bisa ia lakukan, melainkan juga apa yang sebenarnya sedang berkembang dalam dirinya.

Suatu hari seorang tamu datang ke sekolah. Sebelum saya sempat menyapanya, murid itu sudah lebih dulu mendekat. Ia mengucapkan salam, menunjukkan arah ruangan yang dituju, lalu mengobrol dengan santai seolah sudah lama mengenalnya. Saya memperhatikannya dari kejauhan. Anak yang kesulitan duduk tenang di kelas itu tampak begitu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain.

Ilustrasi belajar di sekolah. Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA Foto

Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu terus berulang. Ia mengenal hampir semua orang di sekolah. Ia hafal nama petugas kebersihan, mengetahui siapa guru yang sedang sibuk, dan sering menjadi orang pertama yang menyambut tamu yang datang. Saat itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri: Bagaimana jika yang sedang berkembang pada anak ini bukan kemampuan duduk diamnya, melainkan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain?

Pertanyaan itu membawa saya pada refleksi yang lebih besar tentang cara sekolah memandang proses belajar. Sebagian besar sistem pendidikan kita masih dibangun di atas asumsi bahwa belajar terjadi ketika anak duduk rapi, mendengarkan penjelasan guru, lalu menunjukkan pemahamannya melalui tugas atau ujian.

Model ini tentu efektif bagi banyak anak, tetapi tidak bagi semua anak. Ketika ada anak yang lebih banyak bergerak, kita segera bertanya bagaimana membuatnya diam. Ketika ada anak yang sulit bertahan lama di kursi, kita bertanya bagaimana membuatnya lebih patuh. Jarang sekali kita bertanya apa yang sebenarnya sedang dipelajari anak tersebut melalui cara yang berbeda.

Gagasan tentang keragaman cara belajar sebenarnya bukan hal baru. Psikolog Harvard, Howard Gardner, sejak lama mengingatkan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya hadir dalam bentuk kemampuan bahasa dan logika. Ada anak yang berkembang melalui interaksi sosial, gerak tubuh, kreativitas visual, musik, atau pengamatan terhadap lingkungan.

Ilustrasi anak belajar. Foto: Shutterstock

Terlepas dari berbagai perdebatan akademik mengenai teorinya, pesan penting yang bisa kita ambil adalah bahwa manusia belajar dengan cara yang beragam. Masalah muncul ketika sekolah tanpa sadar menganggap satu cara belajar sebagai standar, sementara cara lainnya diperlakukan sebagai penyimpangan.

Namun semakin lama mengajar, saya justru merasa bahwa inti persoalannya bukan terletak pada teori kecerdasan. Persoalannya terletak pada kecenderungan kita untuk lebih cepat melihat kekurangan daripada kekuatan. Ketika seorang anak tidak sesuai dengan ekspektasi sekolah, perhatian kita langsung tertuju pada apa yang perlu diperbaiki. Kita jarang bertanya potensi apa yang sedang tumbuh di balik perilaku yang dianggap mengganggu itu.

Pengalaman mendampingi murid tersebut mengajarkan sesuatu yang tidak pernah saya temukan dalam pelatihan guru. Terkadang tugas guru bukan segera memperbaiki perilaku anak, melainkan menahan diri cukup lama untuk memahami apa yang sedang ditunjukkan anak itu kepada kita.

Mengapa ia selalu bergerak? Mengapa ia tampak lebih hidup ketika berinteraksi dengan banyak orang? Mengapa ia belajar dengan ritme yang berbeda? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering kali lebih berguna daripada sekadar mencari cara agar anak menjadi sama dengan teman-temannya.

Ilustrasi anak belajar. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa semua perilaku harus dibiarkan. Anak tetap perlu belajar menghargai aturan, mengembangkan kemampuan mengelola diri, dan memahami tanggung jawab. Namun, membimbing berbeda dengan menyeragamkan. Mendidik berbeda dengan memaksa semua anak tumbuh melalui jalur yang sama. Ada perbedaan penting antara membantu anak berkembang dan memaksa anak menjadi orang lain.

Hari ini saya masih percaya bahwa murid tersebut perlu belajar duduk lebih lama ketika situasi menuntutnya. Namun saya juga percaya bahwa kami para guru perlu belajar sesuatu darinya.

Bahwa tidak semua pembelajaran terjadi di dalam kelas. Bahwa tidak semua kecerdasan tecermin dalam angka rapor. Dan bahwa tidak semua murid yang sulit dipahami sedang bermasalah. Sebagian mungkin sedang menunjukkan kepada kita bahwa cara belajar manusia jauh lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan.

Sekian lama, saya berusaha mengajari murid itu agar lebih betah di kelas. Hari ini saya justru bertanya-tanya: jangan-jangan murid itulah yang sedang mengajari saya bahwa belajar tidak selalu terjadi di dalam kelas.

Dan mungkin, pelajaran itu adalah salah satu pelajaran terpenting yang saya terima sebagai guru.