Konten dari Pengguna

Perubahan Selalu Dimulai dari Kesadaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa banyak lokakarya guru menghasilkan semangat yang tinggi, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengubah cara mengajar?

Pertanyaan itu sering muncul setiap kali semester baru dimulai. Guru mengikuti pelatihan, berdiskusi tentang strategi pembelajaran, menyusun rencana tindak lanjut, lalu kembali ke kelas dengan optimisme. Namun beberapa minggu kemudian, rutinitas perlahan mengambil alih. Cara mengajar kembali seperti semula. Semangat yang semula menyala mulai meredup.

Masalahnya ternyata bukan pada kualitas pelatihan. Bukan pula karena guru tidak ingin berubah. Yang sering terlewat adalah satu mata rantai yang sangat penting: kesadaran.

Perubahan yang bertahan lama tidak pernah dimulai dari aturan, apalagi paksaan. Perubahan selalu dimulai ketika seseorang menyadari bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang perlu diperbaiki.

Kesadaran berbeda dengan pengetahuan. Banyak guru tahu bahwa pembelajaran sebaiknya lebih berpusat pada murid. Banyak pula yang memahami pentingnya memberi umpan balik yang bermakna atau membangun budaya bertanya di kelas. Namun mengetahui tidak selalu berarti melakukan. Yang menggerakkan seseorang untuk berubah bukanlah pengetahuan semata, melainkan kesadaran bahwa perubahan itu memang diperlukan.

Itulah sebabnya refleksi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengevaluasi hasil kerja. Evaluasi sering berhenti pada pertanyaan, "Apakah target tercapai?" Sebaliknya, refleksi mengajak guru bertanya lebih dalam, "Mengapa saya mengajar dengan cara ini? Apa yang perlu saya ubah agar murid belajar lebih baik?"

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak selalu nyaman. Kadang jawabannya justru menunjukkan bahwa masalah bukan terletak pada murid, melainkan pada cara kita mengajar. Namun justru di situlah titik awal pertumbuhan seorang pendidik.

Pakar pendidikan menyebut proses ini sebagai personal mastery, yaitu komitmen seseorang untuk terus belajar dan mengembangkan dirinya sepanjang hayat. Organisasi pembelajar tidak lahir dari aturan yang hebat, melainkan dari individu-individu yang terus bertumbuh. Dalam konteks sekolah, perubahan besar selalu berawal dari guru yang berani melihat dirinya sendiri dengan jujur.

Gagasan serupa juga diperkuat oleh melalui konsep growth mindset. Dweck menjelaskan bahwa orang yang memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat terus dikembangkan akan lebih terbuka terhadap kritik, lebih berani mencoba cara baru, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kegagalan. Sebaliknya, mereka yang merasa dirinya "sudah cukup baik" cenderung berhenti belajar.

Di sinilah tantangan terbesar dunia pendidikan. Yang dibutuhkan sekolah bukan hanya guru yang rajin mengikuti pelatihan, tetapi guru yang memiliki kesadaran untuk terus bertumbuh. Sebab pelatihan hanya berlangsung beberapa hari, sedangkan kesadaran akan menemani seseorang sepanjang kariernya.

Pengalaman di banyak sekolah menunjukkan bahwa perubahan yang paling bermakna sering kali berawal dari kesadaran yang sederhana. Ada guru yang mulai mengurangi waktu ceramah setelah menyadari murid-muridnya jarang bertanya. Ada yang memperbaiki komunikasi dengan orang tua setelah menyadari bahwa kemitraan dengan keluarga belum terbangun. Ada pula yang mulai memberi ruang lebih besar bagi murid untuk mencoba, gagal, lalu belajar kembali setelah menyadari bahwa keberanian tidak mungkin tumbuh di kelas yang terlalu takut pada kesalahan.

Kesadaran semacam itu tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui refleksi yang dilakukan secara jujur dan terus-menerus. Karena itu, budaya refleksi seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sekolah, bukan hanya kegiatan menjelang akhir semester atau setelah pelatihan. Sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah hebat, melainkan sekolah yang tidak pernah berhenti bertanya, "Apa yang masih bisa kami perbaiki?"

Namun kesadaran juga bukan tujuan akhir. Kesadaran baru akan bermakna apabila melahirkan komitmen. Dan komitmen baru akan menghasilkan perubahan apabila dijaga dengan konsistensi. Itulah sebabnya refleksi bukan akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju perbaikan.

Pada akhirnya, kualitas sebuah sekolah tidak ditentukan oleh seberapa banyak pelatihan yang diselenggarakan atau seberapa lengkap program yang dimiliki. Kualitas sekolah ditentukan oleh seberapa banyak guru yang setiap hari bersedia belajar dari dirinya sendiri.

Sebab setiap perubahan besar dalam pendidikan selalu diawali oleh satu kesadaran sederhana: hari ini saya harus menjadi guru yang lebih baik daripada kemarin.

Seorang guru yang baik dengan sabar menjelaskan kepada siswa-siswinya (unsplash)