Menabung Bukan Cuma Soal Berapa, tetapi Juga Soal Kapan Mulai

mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Fajar Romdhoni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang mengira menabung harus menunggu penghasilan besar, padahal waktu sering lebih menentukan daripada nominal. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik, indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen, sedangkan indeks literasi keuangan 66,46 persen. Selisih sekitar 14 poin itu berarti lebih banyak orang yang punya akses ke produk keuangan daripada yang memahami cara memanfaatkannya. Menurut saya, salah satu hal yang paling kurang dipahami adalah peran waktu dalam menabung.
Apakah menabung lebih banyak selalu lebih baik?
Belum tentu.
Sebagai ilustrasi hipotetis, bayangkan dua sahabat. Andi menabung Rp500.000 per bulan sejak usia 25 selama 10 tahun, lalu berhenti dan membiarkan uangnya tumbuh sampai usia 60. Budi baru mulai di usia 35, tetapi menabung Rp500.000 per bulan sampai usia 60, atau selama 25 tahun. Dengan asumsi imbal hasil 6 persen per tahun yang dimajemukkan bulanan, Andi mengumpulkan sekitar Rp365,9 juta dari total setoran Rp60 juta. Budi mengumpulkan sekitar Rp346,5 juta dari total setoran Rp150 juta. Andi menabung 15 tahun lebih singkat dan menyetor Rp90 juta lebih sedikit, tetapi hasilnya lebih besar.
Angka dan imbal hasil ini rekaan untuk memudahkan penjelasan. Simulasinya mengabaikan inflasi, pajak, dan biaya, dan imbal hasil nyata tidak pernah dijamin.
Teori: mengapa waktu begitu berharga dalam menabung
Dalam teori keuangan, nilai masa depan sebuah tabungan dihitung dengan bunga majemuk: nilai akhir = setoran × (1 + r)^n, dengan n adalah lamanya waktu. Waktu berada di pangkat, sehingga pengaruhnya membesar semakin lama uang dibiarkan tumbuh. Bunga yang dihasilkan tahun-tahun awal ikut berbunga lagi, dan itulah yang membuat 10 tahun yang lebih awal setara nilainya dengan puluhan juta rupiah tambahan.
Lalu mengapa banyak orang menunda? Penelitian David Laibson (1997) menjelaskan adanya bias terhadap masa kini (present bias): kita cenderung mengutamakan kenyamanan hari ini dibanding manfaat di masa depan. Richard Thaler dan Shlomo Benartzi (2004) menunjukkan cara mengatasinya lewat program Save More Tomorrow, yaitu berkomitmen sejak awal untuk menyisihkan sebagian dari kenaikan gaji di masa depan, sehingga tabungan naik tanpa terasa mengurangi pengeluaran hari ini.
Data literasi: modal untuk mulai menabung lebih dini
Berdasarkan data SNLIK 2025, kelompok usia 26 sampai 35 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi, yaitu 74,04 persen, diikuti usia 18 sampai 25 tahun sebesar 73,22 persen. Artinya, generasi muda sebenarnya sudah punya bekal pemahaman. Namun, kesenjangan wilayah masih ada: indeks literasi keuangan perkotaan 70,89 persen, sedangkan perdesaan 59,60 persen. Mulai menabung lebih awal akan lebih mudah jika edukasinya merata.
Cara memulai menabung tanpa menunggu penghasilan besar
Menurut saya, ada empat langkah sederhana:
1. Mulai dari nominal kecil yang konsisten. Rp100.000 per bulan yang rutin lebih baik daripada rencana besar yang tidak berjalan.
2. Otomatiskan di hari gajian. Pemindahan dana otomatis mengurangi godaan menunda.
3. Siapkan dana darurat lebih dulu. Patokan umum yang sering dipakai adalah tiga sampai enam bulan pengeluaran, tetapi itu pedoman kasar dan perlu disesuaikan.
4. Naikkan setoran saat gaji naik. Sisihkan sebagian kenaikan sebelum gaya hidup menyesuaikan.
Tentu tidak semua orang bisa menabung sekarang. Bagi yang penghasilannya pas-pasan atau memiliki utang berbunga tinggi, melunasi utang mahal bisa lebih menguntungkan daripada menabung. Karena itu, langkah ini perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan tulisan ini bukan saran keuangan pribadi.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting dari "berapa yang bisa kutabung?" adalah "kapan aku mulai?" Kekayaan sering dibayangkan sebagai hasil dari penghasilan besar, padahal bisa juga lahir dari kebiasaan kecil yang diberi waktu. Menabung bukan lomba nominal, melainkan perjalanan yang hasilnya paling terasa bagi mereka yang berangkat paling awal.
