Konten dari Pengguna

FOMO Investasi: Kenapa Anak Muda Gampang Tergiur Janji Cuan Instan

Ilustrasi FOMO investasi di kalangan anak muda yang tergiur janji cuan instan. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi FOMO investasi di kalangan anak muda yang tergiur janji cuan instan. (Ilustrasi: AI)

Kenapa kita lebih percaya cuitan orang asing di media sosial soal “sinyal cuan” saham atau kripto, ketimbang meluangkan waktu membaca laporan keuangan perusahaannya sendiri? Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, tapi jawabannya menelan kerugian besar. Berdasarkan catatan Satgas Waspada Investasi, total kerugian masyarakat akibat investasi ilegal sepanjang 2011 hingga 2022 mencapai sekitar Rp117,5 triliun. Angka sebesar itu bukan semata soal orang-orang yang “kurang hati-hati,” melainkan cermin dari betapa mudahnya kita dibujuk oleh siapa pun yang terlihat meyakinkan di layar gawai.

Fenomena ini akrab disebut FOMO investasi, ketakutan tertinggal dari orang lain yang terlihat sudah lebih dulu untung, yang kemudian mendorong seseorang ikut berinvestasi tanpa riset memadai. Kasus yang paling banyak diingat publik adalah gelombang penipuan robot trading pada 2021 hingga 2022, yang menyeret nama-nama seperti Indra Kenz, Doni Salmanan, hingga platform robot trading Viral Blast dan Net89. Bareskrim Polri mencatat kasus Viral Blast saja telah merugikan sekitar 12.000 anggota dengan total kerugian mencapai Rp1,2 triliun, melalui skema ponzi yang dibungkus rapi sebagai investasi berteknologi tinggi.

Selama ini, korban FOMO investasi kerap dipandang sebagai orang-orang yang sekadar kurang cerdas mengelola uang. Padahal, ada penjelasan yang lebih mendasar dari sudut pandang komunikasi: para pelaku penipuan investasi ini sangat memahami audiensnya. Mereka tahu persis bahwa target utamanya, anak muda yang ingin cepat mapan secara finansial dan mudah merasa tertinggal saat melihat teman sebaya tampak lebih sukses, akan lebih mudah tergerak oleh bukti sosial ketimbang data. Karena itu kontennya dirancang sangat personal: memamerkan gaya hidup mewah, menampilkan testimoni orang biasa yang mengaku berhasil kaya mendadak, dan menggunakan bahasa santai layaknya obrolan teman dekat, bukan penawaran bisnis formal. Ini adalah praktik memahami audiens secara mendalam untuk menyusun pesan yang paling efektif menggerakkan mereka, prinsip yang semestinya digunakan untuk mengedukasi, namun di sini justru dipakai untuk menjerat.

Rasa takut tertinggal itu sendiri berfungsi sebagai hambatan dalam proses komunikasi. Begitu seseorang melihat temannya di grup percakapan memamerkan keuntungan besar dalam waktu singkat, muncul kecemasan yang mengganggu proses berpikir rasional. Alih-alih berhenti sejenak untuk memeriksa legalitas produk investasi atau menganalisis kewajaran skema keuntungannya, banyak orang justru terburu-buru ikut serta agar tidak merasa ketinggalan. Kecemasan akibat FOMO inilah yang bertindak sebagai gangguan psikologis, mendistorsi cara sebuah pesan promosi investasi diterima dan diproses, sehingga keputusan besar soal uang diambil dalam hitungan menit tanpa pertimbangan matang.

Di titik inilah pentingnya kembali melatih cara berpikir kritis dalam menerima informasi. Menjadi audiens yang kritis berarti tidak langsung tergerak oleh setiap pesan yang tampak meyakinkan, melainkan bertanya lebih dulu: apakah keyakinan ini muncul karena bukti dan data yang bisa diverifikasi, atau karena cara penyampaiannya saja yang terdengar percaya diri dan menenangkan? Sayangnya, banyak orang lebih mudah terpengaruh oleh gaya bicara yang meyakinkan ketimbang meluangkan waktu memeriksa fakta di baliknya, sebuah kebiasaan yang sebenarnya bisa dilatih, sama seperti keterampilan mendengarkan secara kritis yang diajarkan dalam ilmu komunikasi.

Pada akhirnya, kasus-kasus investasi bodong ini juga mengajukan pertanyaan etika yang lebih besar kepada siapa pun yang berperan sebagai komunikator publik, termasuk para pengaruh atau afiliator produk finansial. Sejauh mana batas yang wajar ketika seseorang mempromosikan produk investasi berisiko tinggi kepada pengikutnya tanpa memberikan peringatan risiko yang jujur, demi komisi atau keuntungan pribadi? Tanggung jawab menyampaikan pesan secara etis semestinya berlaku bukan hanya di ruang debat atau pidato formal, tetapi juga di setiap unggahan yang berpotensi memengaruhi keputusan finansial orang lain.

FOMO investasi, dengan demikian, bukan sekadar cerita tentang orang-orang yang apes karena kurang teliti. Ia adalah bukti nyata bagaimana komunikasi yang dirancang secara cermat, dengan memahami kelemahan psikologis audiensnya, mampu mengalahkan logika dan kehati-hatian siapa pun. Melawannya membutuhkan lebih dari sekadar imbauan untuk berhati-hati, tetapi kesadaran aktif untuk selalu bertanya sebelum percaya, dan keberanian untuk tidak ikut arus hanya karena takut tertinggal.