Konten dari Pengguna

Manusia Bukan Indikator

Rahmi Wati

Rahmi Wati

ASN Pemda Provinsi Bengkulu

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmi Wati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggunakan AI

Kita sangat menyukai angka. Setiap tahun, manusia dihitung melalui berbagai ukuran: jumlah penduduk, persentase penduduk miskin, tingkat pengangguran, angka harapan hidup, tingkat pendidikan, pertumbuhan ekonomi, hingga Indeks Pembangunan Manusia. Semuanya disusun dalam tabel, grafik, dan dasbor, lalu dibawa ke ruang rapat untuk dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan menjadi dasar perencanaan berikutnya.

Tidak ada yang salah dengan angka. Pembangunan tanpa data justru akan kehilangan arah. Angka membantu pemerintah mengenali masalah, menentukan prioritas, mengalokasikan anggaran, dan menilai hasil kebijakan. Namun, di tengah kesibukan mengukur hampir segala sesuatu, ada satu pertanyaan penting yang perlu diajukan: ketika angka berubah, apakah kehidupan manusia juga benar-benar berubah?

Pertanyaan itu semakin terasa bagi saya setelah menyusun disertasi tentang kemiskinan. Selama penelitian, saya berhadapan dengan data, variabel, tabel, dan berbagai ukuran untuk memahami kondisi rumah tangga. Dari sana, saya semakin memahami bahwa data memang penting untuk membaca persoalan yang luas, tetapi kemiskinan tidak pernah sesederhana sebuah angka.

Data Provinsi Bengkulu pada Maret 2026, misalnya, memberikan gambaran yang menarik. Persentase penduduk miskin tercatat sebesar 11,83 persen, dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 250,11 ribu orang. Angka tersebut turun tipis dari September 2025, ketika persentase penduduk miskin mencapai 11,88 persen atau 250,19 ribu orang. Sekilas, ini kabar baik. Kemiskinan menurun.

Namun, cerita tidak berhenti pada persentase. Pada periode yang sama, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan justru meningkat. Artinya, penurunan persentase penduduk miskin tidak serta-merta berarti kesenjangan pengeluaran terhadap garis kemiskinan menjadi lebih kecil atau persoalan kemiskinan menjadi lebih ringan. Kita dapat mengatakan, “Kemiskinan Bengkulu turun.” Kalimat itu benar. Tetapi jika berhenti di sana, kita mungkin kehilangan cerita yang lebih besar.

Di balik angka 11,83 persen terdapat sekitar 250 ribu manusia. Mereka bukan 250 ribu titik dalam grafik. Mereka adalah orang-orang yang hidup dalam rumah tangga dan keluarga yang setiap hari harus mengambil keputusan: membeli beras atau memenuhi kebutuhan lain, membayar biaya sekolah atau menundanya, mencari pekerjaan tambahan atau bertahan dengan penghasilan yang tidak pasti. Angka mencatat posisi mereka, tetapi tidak menceritakan seluruh perjalanan mereka. Di sinilah pembangunan menjadi rumit. Kita sering terlalu terbiasa melihat keberhasilan melalui indikator hingga lupa bahwa indikator hanyalah alat untuk membaca kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri.

Pertumbuhan ekonomi dapat meningkat, tetapi belum tentu setiap keluarga merasakan kesejahteraan. Tingkat pengangguran dapat menurun, tetapi pekerjaan yang tersedia belum tentu memberikan pendapatan yang layak. Sebuah program pemerintah dapat mencapai 100 persen target, anggaran terserap, laporan selesai, dan indikator berwarna hijau. Lalu kita menyebutnya berhasil. Padahal, target dan persoalan bukanlah dua hal yang selalu sama. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah masalah yang hendak diselesaikan benar-benar berkurang?

Hal serupa dapat terjadi dalam pelayanan publik. Sebuah layanan telah terdigitalisasi, aplikasi tersedia, prosedur disederhanakan, dan waktu pelayanan dipangkas. Di atas kertas, transformasi itu terlihat berhasil. Namun, bagaimana dengan masyarakat yang tidak memiliki perangkat memadai, tidak terbiasa menggunakan aplikasi, atau tinggal di wilayah dengan jaringan internet yang tidak stabil? Dalam laporan, kebijakan mungkin terlihat berhasil. Dalam kehidupan masyarakat, ceritanya bisa berbeda. Karena itu, persoalan pembangunan bukan terletak pada banyak atau sedikitnya angka. Masalah muncul ketika angka diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Angka seharusnya membuka pertanyaan, bukan menutup percakapan.

Ketika angka kemiskinan turun, pertanyaannya bukan hanya, “Berapa persen penurunannya?” tetapi juga, “Siapa yang keluar dari kemiskinan?” Mengapa mereka berhasil keluar? Apakah mereka cukup kuat untuk bertahan ketika harga kebutuhan meningkat, pekerjaan hilang, anggota keluarga sakit, atau sumber pendapatan terganggu? Sebaliknya, ketika seseorang masih miskin, kita perlu memahami apa yang membuatnya sulit keluar. Apakah persoalannya hanya pendapatan, atau juga pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kepemilikan aset, akses layanan, kondisi tempat tinggal, dan berbagai kerentanan lain yang saling berkaitan?

Di sinilah riset memiliki posisi penting. Riset tidak seharusnya berhenti pada pengumpulan data, pengolahan angka, penyusunan tabel, dan laporan. Riset harus membantu pemerintah melihat sesuatu yang tidak selalu tampak dalam angka. Pengalaman penelitian kemiskinan mengajarkan kepada saya bahwa satu rumah tangga tidak dapat dipahami hanya melalui satu ukuran kesejahteraan. Pendapatan penting, tetapi kemampuan bertahan juga penting. Bantuan pemerintah diperlukan, tetapi kemampuan untuk menjadi mandiri tidak kalah penting. Akses layanan penting, tetapi kualitas dan keberlanjutannya juga harus diperhatikan.

Ilustrasi menggunakan AI

Data kemiskinan bukan titik akhir. Ia adalah pintu masuk untuk memahami kehidupan manusia di baliknya. Data Bengkulu, misalnya, juga menunjukkan adanya dimensi wilayah. Berdasarkan rilis BPS, pada Maret 2026, tingkat kemiskinan perdesaan tercatat 11,37 persen, sedangkan perkotaan 12,73 persen. Dibandingkan September 2025, kemiskinan di perdesaan justru meningkat, sementara di perkotaan menurun. Angka-angka tersebut semestinya tidak berhenti sebagai bahan presentasi. Ia harus melahirkan pertanyaan: mengapa persentase penduduk miskin di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan? Mengapa arah perubahannya berbeda? Apakah berkaitan dengan biaya hidup, perumahan, pekerjaan informal, atau faktor lainnya? Penurunan kemiskinan secara agregat tidak otomatis berarti semua kelompok dan semua wilayah mengalami perbaikan yang sama.

Pertanyaan semacam itu mungkin tidak menghasilkan jawaban dalam satu rapat. Pembangunan tidak selalu membutuhkan jawaban yang cepat. Pembangunan membutuhkan jawaban yang tepat. Kita tidak membutuhkan lebih banyak angka sekadar agar laporan terlihat lengkap. Kita membutuhkan angka yang bermakna dan kebijakan yang berdampak.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak semestinya berhenti pada kalimat, “Target telah tercapai.” Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah dalam kehidupan manusia? Apakah seorang ibu kini lebih tenang karena penghasilan keluarganya cukup? Apakah seorang anak memiliki kesempatan lebih besar untuk melanjutkan pendidikan? Apakah petani memperoleh harga yang lebih adil? Apakah seseorang yang sebelumnya miskin benar-benar menjadi lebih berdaya, bukan sekadar berpindah sedikit di atas garis kemiskinan?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak selalu mudah dimasukkan ke dalam tabel. Namun, justru di sanalah makna pembangunan berada. Kita boleh memiliki ribuan indikator dan dasbor yang semakin canggih. Semua itu diperlukan. Tetapi jangan sampai pembangunan menjadi seperti cermin yang terlalu sibuk memantulkan angka, sementara lupa melihat manusia yang berdiri di depannya.

Pengalaman penelitian mengajarkan saya bahwa angka sangat diperlukan untuk memahami kemiskinan, tetapi angka tidak pernah cukup untuk memahami manusia yang mengalaminya. Karena itu, kita tidak perlu meninggalkan angka. Kita justru perlu membacanya dengan lebih kritis, menelusuri cerita di baliknya, dan menjadikannya dasar untuk melahirkan kebijakan yang lebih tepat. Sebab, angka kemiskinan yang turun memang layak diapresiasi. Namun, pekerjaan pembangunan belum selesai hanya karena sebuah persentase bergerak ke bawah. Di balik setiap desimal terdapat kehidupan. Di balik setiap persentase terdapat keluarga. Di balik setiap indikator terdapat manusia.

Pada akhirnya, pembangunan semestinya tidak dibangun agar indikator terlihat baik. Pembangunan dibangun agar kehidupan manusia menjadi lebih baik. Sebab manusia bukan indikator. Manusia adalah alasan mengapa indikator itu ada.