Sibuk Sampai Lupa Diri: Mengapa Mahasiswa Semakin Sulit Merawat Diri?

Nursing Student at Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Shafa Rahmida Az Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stres Akademik dan Self-Care Mahasiswa di Tengah Tuntutan Perkuliahan
Kita hidup di tengah tuntutan untuk terus produktif. Tuntutan akademis, tugas kuliah, kondisi finansial, lingkungan baru, hubungan dengan anggota keluarga merupakan hal yang menjadi perhatian mahasiswa. Tak jarang hal tersebut memunculkan stres yang nantinya berujung pada pengabaian kebutuhan diri sendiri. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hardayati et al. pada tahun 2023, menyebutkan bahwa terdapat 57,23% mahasiswa tingkat pertama mengalami stres pada tingkat moderat terkait dengan proses adaptasi terhadap lingkungan dan proses pembelajaran.
Meskipun data menyebutkan stres pada tingkat ringan, akan tetapi jika terjadi terus menerus dan tidak disertai manajemen emosi yang baik maka dapat menimbulkan dampak yang cukup serius. Stres akademik dapat mengganggu fungsi kognitif individu serta memengaruhi kondisi fisik, emosi, dan perilaku (Erindana dkk., 2021). Contoh yang sering diabaikan atau bahkan dianggap wajar adalah menurunnya kualitas tidur, pola makan yang tidak teratur, kurangnya aktivitas fisik, hingga mengabaikan kebersihan diri.
Ketika seseorang lebih banyak berfokus pada pemenuhan tuntutan akademik dan lingkungan dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri, kemampuan untuk melakukan perawatan diri dapat ikut menurun. Penelitian Abel (2019) mengungkapkan bahwa saat stres, seseorang lebih sering memiliki pola makan yang buruk dan nafsu makan yang cenderung menurun. Mahasiswa yang kesulitan mengatasi stresor dengan keterampilan koping yang baik dapat menjadi lebih rentan terhadap stres. Dalam kondisi inilah konsep self-care oleh salah satu tokoh keperawatan, Dorothea Orem, menjadi sangat relevan.
Orem memperkenalkan konsep Self-Care Theory, yang menegaskan bahwa self-care bukanlah sekadar upaya pemulihan saat seseorang jatuh sakit. Tetapi juga mencakup kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dirinya untuk mempertahankan kesehatan, kesejahteraan, dan keberlangsungan hidup. Dalam konteks mahasiswa, pengabaian terhadap kebutuhan diri akibat tuntutan akademik dan stres dapat dikaitkan dengan konsep self-care deficit.
Menurut Orem, perawatan diri adalah perilaku yang bersifat pribadi dan berorientasi pada tujuan. Tujuannya adalah berfokus pada kemampuan individu untuk mengatur diri dan lingkungannya secara optimal agar dapat mempertahankan kehidupan, menikmati kesehatan dan kesejahteraan, serta berkontribusi pada perkembangan dirinya sendiri.
Dikutip dari Jurnal Keperawatan Abdurrab (JKA), Orem mengklasifikasikan kebutuhan perawatan diri menjadi tiga kategori utama:
1. Kebutuhan Perawatan Diri Universal (Universal Self-Care Requisites)
Kebutuhan dasar setiap individu yang berkaitan dengan fungsi kemanusiaan dan proses kehidupan. Meliputi: Pemeliharaan kecukupan udara, cairan, dan makanan; Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat; Keseimbangan antara kesendirian (solitude) dan interaksi sosial.
2. Kebutuhan Perawatan Diri Perkembangan (Developmental SelfCare Requisites)
Kebutuhan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan individu. Kategori ini mencakup kebutuhan universal yang diarahkan secara khusus untuk mendukung proses perkembangan.
3. Kebutuhan Deviasi Kesehatan (Therapeutic Self-Care Requisites)
Kebutuhan yang timbul akibat penyimpangan status kesehatan, seperti penyakit, luka, atau kecelakaan, yang dapat menurunkan kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri, baik secara temporer maupun permanen.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa?
Hal pertama yang bisa dilakukan adalah mulai sadar akan kondisi diri sendiri. Sering kali kita baru menyadari sedang kelelahan setelah tubuh benar-benar "protes." Tidur berantakan, telat makan, susah fokus, gampang marah, atau bahkan tidak punya tenaga untuk melakukan hal-hal yang biasanya biasa saja menjadi tanda bahwa tubuh sedang butuh perhatian.
Merawat diri tidak harus selalu sesuatu yang besar. Di tengah jadwal kuliah yang padat, self-care bisa dimulai dari hal sederhana, seperti makan lebih teratur, tidur cukup, menyempatkan diri untuk bergerak, mandi dan menjaga kebersihan diri, atau sekadar memberi waktu untuk istirahat tanpa merasa bersalah. Intinya bukan membuat hidup menjadi sempurna, tetapi jangan sampai kebutuhan dasar diri sendiri terus-menerus dikorbankan demi menyelesaikan satu tugas ke tugas lainnya.
Selain itu, mahasiswa juga perlu belajar mengatur prioritas. Tidak semua hal harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil dan memberikan jeda di tengah aktivitas bisa membuat beban terasa lebih ringan. Kalau memang sudah terlalu penuh, tidak ada salahnya meminta bantuan atau bercerita kepada orang lain.
Dalam konsep Orem, kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan perawatan dirinya menjadi hal yang penting dalam mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan. Jadi, self-care bukan sekadar “me time” atau kegiatan untuk memanjakan diri. Ada kebutuhan yang perlu dipenuhi agar seseorang tetap bisa menjalani aktivitasnya dengan baik.
Mungkin kita memang tidak bisa menghilangkan seluruh tuntutan sebagai mahasiswa. Tugas akan tetap ada, jadwal kuliah akan tetap padat, dan masalah lain juga akan datang silih berganti. Tetapi, di tengah semua itu, merawat diri seharusnya tidak selalu menjadi hal yang dikorbankan terakhir.
Karena sibuk boleh, tetapi jangan sampai terlalu sibuk sampai lupa bahwa diri sendiri juga perlu dirawat.
