Konten dari Pengguna

Memahami Pola Avoidant: Mengapa Menjauh Menjadi Pilihan Paling Mudah?

Rahmita Zahra Oktiawalia

Rahmita Zahra Oktiawalia

Mahasiswi di Universitas Negeri Semarang.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmita Zahra Oktiawalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Pixabay

Halo, Sobat Kumparan! Pernahkah kamu mendengar istilah avoidant? Beberapa di antara kamu pasti sudah tidak asing lagi mendengar istilah tersebut, bahkan mungkin sudah sangat familiar karena pernah menjadi salah satu orang yang merasakan dampak dari orang yang berkepribadian avoidant.

Banyak orang masih salah dalam memahami definisi avoidant. Avoidant merupakan istilah psikologi yang bermakna kecenderungan seseorang yang menghindari kedekatan emosional yang terlalu dalam atau menarik diri dari interaksi yang terlalu intim. Hal ini merujuk kepada avoidant attachment style atau pola perilaku seseorang yang selalu bersikap menghindar ketika berhubungan dengan orang lain.

Kalau kamu saat ini memiliki pasangan dengan gaya keterikatan avoidant, tentunya akan menjadi tantangan yang cukup besar. Beberapa dampak yang akan dirasakan di antaranya adalah pertama, merasa bosan atau kesepian karena mereka akan sulit mengekspresikan rasa kasih sayangnya secara verbal ataupun fisik.

Kedua, sulitnya mengomunikasikan sesuatu kepada pasangan. Orang dengan pola avoidant akan cenderung menarik diri apabila terdapat masalah. Melakukan komunikasi dengan mereka akan cenderung dianggap sebagai suatu 'ancaman' bagi mereka. Alih-alih memahami kamu, mereka malah akan merasa tersudutkan.

Ketiga, menyabotase hubungan ketika sudah terlalu dekat. Saat sudah terasa dekat denganmu, bukannya merayakan kenyamanan tersebut, mereka malah merasa tidak nyaman. Hal ini juga terkadang bisa membuatmu bingung dalam hubungan tersebut.

Melakukan hubungan dengan orang dengan pola avoidant attachment memang cukup menantang. Rasa sabarmu harus seluas samudera. Karena kalau tidak, hubunganmu bisa-bisa cepat kandas. Namun, jangan memaksakan sesuatu yang memang sudah tidak bisa digenggam kembali. Apabila hubungan sudah toxic, segera pilih dirimu sendiri.

Pola avoidant biasanya sudah terbentuk sejak kecil, seperti pola asuh dan lingkungan mereka sejak dahulu. Sulit untukmu apabila ingin mengubah atau mengeluarkan mereka dari "penjara" avoidant. Apabila kamu sudah merasa tidak sanggup, jalan satu-satunya adalah menyelamatkan dirimu sendiri.

Mengapa menjauh menjadi hal yang paling mudah untuk orang dengan pola avoidant? Karena mereka tidak punya kapasitas yang besar untuk mengekspresikan rasa cinta. Kapasitas mereka biasanya terlalu kecil, apalagi untuk kamu yang sudah terbiasa memberikan kasih sayang yang besar. Wadah mereka tidak sanggup untuk menampungnya.

Terkadang, hubungan seringkali "macet" bukan karena mereka sengaja berkelakuan jahat terhadapmu, tetapi memang karena dua orang tidak berada pada level kesiapan yang sama, dari segi emosi, waktu, kematangan, dan kematangan relasi.

Hubungan yang toxic tidak selalu dari karakter seseorang yang jahat, memang terkadang bisa juga dari ketidaksejajaran antara kapasitas dan kebutuhan. Jadi, kita memang tidak bisa mutlak mengatakan bahwa avoidant itu salah dan jahat, tetapi memang terkadang mereka tidak sanggup menampung cinta yang besar darimu.

Dari si avoidant ini memang dapat dipetik pelajaran bahwa tidak semua hubungan bisa dipaksakan, ada pula yang memang harus diikhlaskan.