Konten dari Pengguna

Folder Air Hitam: Ruang yang Hidup di Tengah Kota Samarinda

Rhifa Hasbiatul Adhawiah

Rhifa Hasbiatul Adhawiah

Seorang mahasiswi jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rhifa Hasbiatul Adhawiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi pribadi oleh Rhifa Hasbiatul Adhawiah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi oleh Rhifa Hasbiatul Adhawiah

Folder Air Hitam di Kota Samarinda hari ini bukan hanya sekadar tempat menampung air hujan. Kawasan ini telah berubah menjadi salah satu ruang publik paling hidup yang dimiliki kota, sebuah perpaduan antara fungsi teknis dan estetika. Banyak warga datang untuk jogging, duduk santai, memancing, atau sekadar menunggu matahari terbenam. Namun di balik keramaian itu, ada perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana sebuah infrastruktur bisa berubah menjadi ruang sosial yang penting.

Folder Air Hitam pertama kali dibangun pada tahun 2004 sebagai polder seluas 4 hektare yang berfungsi menahan genangan di kawasan Air Hitam dan sekitarnya. Awalnya, struktur penahannya berupa galian tanah dengan pengaman sederhana, yang seiring waktu mengalami kerusakan. Pemerintah kota kemudian melakukan revitalisasi besar dengan memasang dinding sheetpile untuk memperkuat tampungan air hingga kedalaman 3–4 meter.

Menurut saya, transformasi Folder Air Hitam adalah contoh baik bagaimana ruang kota seharusnya dirancang, dan fungsional sekaligus manusiawi. Selama ini, banyak proyek infrastruktur hanya berfokus pada aspek teknis dan mengabaikan kenyamanan warga. Folder Air Hitam membuktikan bahwa satu ruang bisa memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya secara bersamaan.

Pembangunan folder ini mungkin berawal dari kebutuhan teknis mengendalikan banjir, tetapi perkembangannya menunjukkan bahwa visi ruang publik bisa melampaui fungsi awalnya. Folder Air Hitam hari ini adalah oase di tengah Samarinda, tempat di mana masyarakat bisa merasa dekat dengan alam, meski hidup di tengah hiruk-pikuk kota. Jika pengelolaan dan pengembangannya terus dilakukan dengan tepat, folder ini akan menjadi contoh ruang kota yang ideal, bermanfaat, menyenangkan, dan menghidupkan banyak sisi kehidupan warganya.