Konten dari Pengguna

Stilistika dalam Lagu “Sepatu” Karya Tulus: Metafora Cinta yang Terpisah

Rhifa Hasbiatul Adhawiah

Rhifa Hasbiatul Adhawiah

Seorang mahasiswi jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rhifa Hasbiatul Adhawiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pabrik sepatu. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pabrik sepatu. Foto: Shutterstock

Lagu “Sepatu” karya Tulus mempunyai lirik yang sederhana tapi sarat makna melalui gaya bahasa puitis. Analisis stilistika populer ini mengupas bagaimana metafora sepatu melambangkan hubungan yang retak agar mudah dipahami pembaca awam. Lagu ini bukan sekadar lagu hits pop ringan, tapi didalamnya menyamarkan kedalaman emosi di balik lirik yang sederhana.

Dengan metafora utama sepatu kiri dan kanan sebagai simbol pasangan kekasih yang dulunya pas tapi kiri tercerai-berai. Tulus berhasil membangun narasi patah hati yang visual dan ngena bagi para pendengarnya.

Lirik pembukanya “Kau pergi tinggalkan sepatuku, sepatu kiriku sendiri.” Di sini, sepatu bukan lagi benda mati melainkan cerminan hubungan yang terputus. Kiri sendirian, kanan hilang, menciptakan rasa sepi yang langsung terasa di dada pendengar.

Dies Natalis Global Islamic School yang dimeriahkan Maliq & D'Essentials dan Tulus. Foto: Dok. Alethea Carissa

Personifikasi semakin memperkaya efek emosional saat Tulus menggambarkan sepatu “sendirian di rak” seolah ia punya perasaa seperti manusia. Teknik ini membuat abstraknya patah hati jadi konkret, bagaikan kita melihat sepatu kesayangan tergeletak tak berguna. Ditambah repetisi kata “sepatu” yang berulang di setiap bait, ritme lirik jadi obsesif dan hipnotis.

Hal ini mirip dengan puisi modern yang sengaja mengulang untuk menekankan luka. Pengulangan ini bukan kebetulan, tapi memang sengaja diciptakan kohesi bunyi yang bikin lirik terngiang-ngiang untuk memperkuat pesan bahwa perpisahan itu melekat seperti usang yang susah dilupakan.

Tulus menggunakan diksi sehari-hari seperti “rak sepatu” dan “berpasangan” tanpa gaya bombastis untuk memperlihatkan ciri khasnya. Gaya bahasanya yang sederhana ini mengubah pengalaman universal menjadi gambaran pribadi. Karya seperti ini sangat cepat viral dikalangan generasi sekarang, ga percaya? Dengar dan rasakan sendiri bagaimana sepatu tua itu berbicara lebih lantang dari kata-kata cinta biasa.