Kenapa FYP Selalu Terasa Relate?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ilmu Komputer
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Raihan Alfarizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa aneh ketika isi FYP tiba-tiba sangat sesuai dengan keadaan kita? Saat baru putus, muncul video tentang kehilangan. Ketika sedang insecure, muncul konten self-love. Bahkan saat lelah atau overthinking, media sosial seperti tahu apa yang sedang kita rasakan.
Banyak orang menganggap itu kebetulan. Padahal, itu adalah cara kerja algoritma.
Saat ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan. Media sosial kini seperti sistem yang terus membaca kebiasaan manusia. Setiap video yang kita tonton, sukai, lewatkan, atau putar ulang diam-diam berubah menjadi data. Dari data itu, algoritma mempelajari minat, emosi, dan kebiasaan pengguna.
Ironisnya, algoritma kadang terlihat lebih memahami kebiasaan kita dibanding diri kita sendiri.
Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan Gen Z. Banyak anak muda membuka media sosial bukan hanya untuk mencari hiburan, tetapi juga pelarian. Saat bosan, sedih, atau merasa sendiri, scrolling menjadi kebiasaan otomatis. Tanpa sadar, media sosial berubah menjadi tempat mencari validasi dan kenyamanan.
Masalahnya, kenyamanan digital membuat banyak orang terlalu bergantung pada layar.
Menurut laporan DataReportal 2025, masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari menggunakan internet, dan sebagian besar waktunya dipakai untuk media sosial. Kebiasaan ini membuat manusia semakin terbiasa menerima hiburan instan. Sedikit bosan langsung membuka TikTok. Sedikit sedih langsung mencari konten yang terasa relatable.
Akibatnya, banyak orang mulai sulit menikmati keheningan. Banyak juga yang kesulitan berpikir tanpa distraksi.
Budaya scrolling tanpa sadar juga mengurangi ruang refleksi diri. Kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain sampai lupa memahami diri sendiri.
Selain itu, algoritma menciptakan echo chamber. Kondisi ini membuat seseorang terus-menerus melihat konten yang sesuai dengan pandangannya sendiri. Akibatnya, sudut pandang menjadi sempit. Kita merasa semua orang memiliki opini yang sama, padahal algoritma hanya menunjukkan hal-hal yang ingin kita lihat.
FYP juga membentuk standar sosial baru. Tren gaya hidup, kecantikan, hingga cara berbicara kini banyak dipengaruhi media sosial. Tidak sedikit anak muda merasa harus tampil sempurna agar dianggap menarik dan relevan. Pada akhirnya, validasi sering diukur dari jumlah likes, views, dan followers.
Di titik ini, media sosial tidak lagi hanya memengaruhi apa yang kita tonton. Media sosial juga memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.
Namun, teknologi sebenarnya bukan musuh. Media sosial bisa menjadi sumber hiburan, informasi, bahkan ruang belajar. Banyak orang juga terbantu menemukan komunitas dan dukungan melalui internet. Meski begitu, ketergantungan terhadap algoritma tetap perlu dikritisi. Semakin lama kita bergantung pada scrolling tanpa sadar, semakin mudah perhatian dan pola pikir kita diarahkan oleh sistem.
Hal yang paling berbahaya adalah ketika manusia mulai kehilangan kontrol atas perhatiannya sendiri. Kita merasa bebas memilih konten, padahal pilihan itu sudah diarahkan algoritma berdasarkan perilaku digital kita sebelumnya.
Algoritma memang semakin canggih. Namun di balik kecanggihannya, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan: apakah kita masih benar-benar mengenal diri sendiri, atau justru membiarkan algoritma menentukan siapa diri kita?
Manusia tetap membutuhkan jeda. Kita perlu sesekali berhenti dari scrolling tanpa akhir dan kembali mendengarkan pikiran sendiri.
Karena mungkin, masalah terbesar hari ini bukanlah FYP yang terlalu pintar membaca manusia, melainkan manusia yang semakin jarang membaca dirinya sendiri.
