Konten dari Pengguna

4 Ciri Kampus yang Kualitas Ospeknya Jelek

Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raihan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kampus yang kualitas ospeknya jelek. Foto: Phoenixns/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kampus yang kualitas ospeknya jelek. Foto: Phoenixns/Shutterstock

Sebelum memasuki perkuliahan, umumnya, kampus-kampus di Indonesia mengadakan orientasi studi dan pengenalan kampus alias ospek. Ini adalah serangkaian kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kampus untuk menyambut dan mengenalkan mahasiswa baru ke lingkungan kampus.

Ospek berlangsung sebelum atau pada awal semester pertama dengan tujuan membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan kehidupan kampus, mengenalkan fasilitas dan sumber daya kampus, serta memperkenalkan mereka kepada teman satu angkatannya.

Ospek kampus di Indonesia biasanya melibatkan banyak kegiatan, seperti pengenalan kampus, fakultas, program studi, tur kampus, pendaftaran mata kuliah, presentasi akademik, kegiatan sosial, dan acara orientasi lainnya.

Tujuannya adalah membuat mahasiswa baru merasa nyaman dan mengenal aspek penting dalam kehidupan kampus. Cara ospek dilaksanakan bervariasi di setiap kampus. Ada ospek yang berjalan lancar, banyak juga berita mengenai bobroknya ospek kampus.

Akan tetapi, banyak juga berita yang berseliweran mengenai keluhan mahasiswa baru alias maba terkait jeleknya pelaksanaan kampus. Mulai dari adanya senioritas, perpeloncoan, tugasnya banyak tanpa melihat esensinya, masih ditemukan aturan ala militer, sampai sistem ospeknya tidak mengikuti perkembangan zaman alias kuno.

Masih Ada Senioritas

Ilustasi senioritas di kampus. Foto: Zenzen/Shutterstock

Adanya senioritas pada saat ospek menunjukkan salah satu indikasi kalau ospek di sebuah kampus berarti jelek. Senior mengacu pada keadaan yang mana posisi seseorang lebih tinggi dari segi pengalaman, usia, dan sebagainya.

Dengan dalih lebih tua berada di kampus, senioritas biasanya masih menjadi budaya di kampus-kampus Indonesia, ini juga biasanya ditanamkan dalam ospek-ospek kampus, mulai dari ospek tingkat kampus, fakultas, sampai jurusan.

Ospek kampus juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk memasukkan unsur senioritas. Budaya feodalisme macam ini masih dilanggengkan oleh mahasiswa-mahasiswa dungu yang gila hormat dan gila jabatan, entah apa yang di pikiran mereka.

Mencari validitas dan atensi dari maba supaya mereka takut atau menyegani senior, perlu digarisbawahi kalau budaya ini kuno, bahkan lebih mirip kayak penjajahan kolonial dulu.

Sudah semestinya ospek kampus meninggalkan budaya feodal bernama senioritas ini, adanya senioritas tidak membuat seseorang tampak disegani apalagi ditakuti, justru orang melihatnya kasihan karena mereka mencari validitas dan atensi dari cara-cara dungu yang merugikan orang lain.

Menanamkan sikap egaliter dan inklusi penting dilakukan pada saat ospek untuk menghilangkan budaya feodal. Adanya senioritas juga bisa berimplikasi pada perundungan yang merupakan salah satu dari tiga dosa pendidikan.

Masih Ada Budaya Perpeloncoan

Ilustrasi budaya perpeloncoan di kampus. Foto: FedorAnisimov/Shutterstock

Perlu digarisbawahi, maba bukan media perpeloncoan. Dalam bahasa Jawa, pelonco itu artinya kepala gundul (tidak berambut). Pelonco merupakan tindakan kekerasan atau pelecehan fisik yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap individu lainnya.

Sekelompok orang sering kali secara tidak terduga, tidak adil, dan dengan tujuan merendahkan atau menyakiti korban. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan tindakan kekerasan atau intimidasi yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap individu yang lebih lemah atau tidak berdaya. Tindakan pelonco dianggap tidak pantas, melanggar hak asasi manusia (HAM), serta nilai-nilai keadilan dan keselamatan.

Sebetulnya, dalam sejarah Indonesia, perpeloncoan sudah ada sejak era penjajahan. Dimulai pada masa penjajahan Jepang. Selama masa penjajahan Jepang, praktik penggundulan kepala (pelonco) mulai diterapkan di Ika Daigaku.

Penggundulan ini menjadi obsesi militer Jepang yang identik dengan kepala gundul. Kemudian berlanjut pada era penjajahan Belanda, salah satunya diterapkan di STOVIA (sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia).

Seiring berjalannya waktu, setelah masa penjajahan, praktik ini masih dilanjutkan oleh kampus-kampus di Indonesia. Kala itu juga menimbulkan perlawanan dari organisasi mahasiswa, seperti CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) yang menolak praktik perpeloncoan karena dianggap sebagai warisan masa penjajahan Belanda dan Jepang.

Jadi, praktik perpeloncoan era sekarang sebetulnya sudah usang alias kuno. Kalau masih ditemukan model perpeloncoan dengan kekerasan berarti mereka mengadopsi cara-cara para penjajah dulu, kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Ospek semestinya membantu maba beradaptasi dengan lingkungan kampus secara positif dan mendukung. Ospek yang baik melibatkan kegiatan yang mempromosikan integrasi, kerja sama, dan nilai-nilai yang baik lainnya.

Ini termasuk memberikan informasi berguna tentang kampus, mendukung penyesuaian akademik dan sosial maba, serta memfasilitasi interaksi positif di antara mereka.

Ospek yang sehat memberikan kesempatan kepada maba untuk merasa diterima, aman, dan didukung oleh lingkungan kampus. Tidak boleh ada intimidasi, pelecehan, atau perlakuan merugikan yang ditujukan kepada maba dalam nama senioritas. Ospek kampus juga harus mempromosikan budaya inklusif dan saling menghormati, yang mana semua mahasiswa, baik baru maupun lama, dihargai dan diperlakukan dengan adil.

Masih Ada Aturan ala Militer

Ilustrasi militer. Foto: Wavebreak Media/Shutterstock

Di kampus sipil, semestinya tidak ada lagi aturan-aturan dalam ospek yang mengadopsi ala-ala militer. Ospek yang mengadopsi gaya militer bisa menciptakan suasana yang tidak sehat dan kontraproduktif di lingkungan kampus.

Prinsip-prinsip kebebasan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia mesti menjadi landasan dalam pendidikan tinggi. Penggunaan aturan ala militer dalam ospek dapat menciptakan hierarki yang berlebihan dan merendahkan maba.

Maba mesti diberi kesempatan untuk beradaptasi dan belajar tanpa tekanan dan intimidasi yang tidak perlu. Ospek yang mengadopsi ala-ala militer bisa menimbulkan ketegangan, stres, dan dampak negatif pada kesehatan mental dan emosional maba.

Sebagai alternatifnya, ospek di kampus sipil mesti difokuskan pada orientasi, pengenalan lingkungan kampus, dan pembangunan hubungan sosial yang positif antar mahasiswa baru. Kegiatan seperti diskusi, kerja sama, dan pemberian informasi yang bermanfaat bisa membantu maba merasa diterima, terlibat, dan mendapatkan dukungan dalam menghadapi tantangan di kampus.

Untuk menciptakan suasana ospek yang sehat, penting bagi pihak penyelenggara ospek untuk mengadopsi pendekatan inklusif, memastikan kesetaraan, dan melibatkan partisipasi aktif mahasiswa baru dengan kegiatan positif dan memiliki esensi.

Dengan menghilangkan penggunaan aturan ala militer dalam ospek kampus sipil, bisa tercipta lingkungan yang lebih positif, ramah, dan memberikan kesempatan yang adil bagi mahasiswa baru untuk berintegrasi dengan baik, mencapai kesuksesan akademik, dan mengembangkan potensi pribadi secara optimal.

Sudah saatnya meninggalkan budaya-budaya ala militer karena kampus bukan tempat untuk main tentara-tentaraan dan budaya di kampus bukan untuk gagah-gagahan.

Lebih Mementingkan Kuantitas Tugas Ketimbang Kualitas

Ilustrasi banyak tugas. Foto: Master1305/Shutterstock

Yang sering dikeluhkan oleh maba adalah berkaitan dengan tugas ospek. Kadang, orang-orang juga bingung mengenai esensi dari banyaknya tugas yang diberikan.

Maba bukannya gembira memasuki masa transisi dari SMA ke kuliah, malah disodorkan sama setumpuk tugas-tugas ospek yang entah apa esensinya. Toh, selama nanti memasuki bangku perkuliahan tugasnya lebih ada esensinya dan bisa memanfaatkan teknologi, lebih mudah dibandingkan tugas-tugas ospek yang kualitasnya jelek.

Maba mungkin malah merasa frustrasi karena tugas-tugas tersebut tidak relevan dan nihil esensi dengan perkuliahan yang akan mereka hadapi.

Sebagai hasilnya, mereka mungkin tidak menganggap tugas-tugas tersebut sebagai peluang untuk belajar atau mengembangkan keterampilan yang berguna.

Mereka merasa bahwa tugas-tugas tersebut cuma buang-buang waktu dan merupakan beban tambahan yang harus mereka selesaikan tanpa alasan yang jelas.

Untuk memastikan bahwa tugas-tugas ospek memiliki esensi yang jelas dan relevan dengan kehidupan kampus dan perkuliahan yang akan dijalani oleh mahasiswa baru, dalam ospek perlu merancang tugas-tugas tersebut agar membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan kampus, bahkan setelah lulus dari kampus.

Misalnya, memperkenalkan maba dengan LinkedIn, Turnitin, dan sebagainya. Serta membantu maba dalam menciptakan personal branding yang bisa bermanfaat untuk mencari kerja ke depannya.

Selain itu, program ospek kampus semestinya memanfaatkan teknologi yang ada untuk menyederhanakan dan memudahkan pelaksanaan tugas-tugas ospek.

Penggunaan platform online, aplikasi, atau alat digital dapat membantu maba dalam menjalankan tugas-tugas tersebut dengan lebih efisien dan efektif. Ini juga bisa membantu maba dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan nantinya ketika berkuliah.

Dengan demikian, beban yang dirasakan oleh maba dapat dikurangi, dan pengalaman ospek mereka bisa menjadi lebih positif. Program ospek juga semestinya memperhatikan kualitas tugas-tugas ospek yang diberikan. Tugas-tugas tersebut haruslah dirancang dengan tujuan yang jelas, memberikan manfaat yang nyata bagi maba, dan mengurangi stres yang tidak perlu.

Penting bagi universitas dan tim ospek untuk menjaga kualitas tugas-tugas tersebut agar maba bisa lebih fokus pada pembelajaran dan adaptasi mereka ke lingkungan perkuliahan yang baru.

Supaya nantinya maba menyadari bahwa meskipun tugas-tugas ospek terasa berat dan tidak relevan pada awalnya, pengalaman di bangku perkuliahan yang sebenarnya akan memberikan pengalaman yang lebih bermakna dan lebih terkait dengan program studi yang kita ambil.

Dengan penuh semangat dan kemauan untuk belajar, serta dukungan yang memadai, maba bisa mengatasi tantangan ospek dan mengambil manfaat maksimal dari pendidikan tinggi yang dijalani

Sudah seharusnya, penyelenggara ospek mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa sebelumnya yang santer terdengar di pelbagai media, baik media massa maupun media sosial. Panitia-panitia ospek di seluruh kampus di Indonesia mesti belajar dari peristiwa-peristiwa bobrok yang sudah-sudah, jangan malah lanjut part 2.