Konten dari Pengguna

QRIS dan Smart Citizen: Menjadi Pinisi di Tengah Badai Perubahan

Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan

·waktu baca 4 menit

comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raihan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Kapal Pinisi. Foto: Velvetfish/Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Kapal Pinisi. Foto: Velvetfish/Getty Images

Di Nusantara, laut sejatinya bukan sekadar bentangan air asin. Laut adalah halaman depan bagi banyak suku, dan pelayaran adalah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di antara sekian banyak warisan itu, berdirilah megah kapal pinisi—mahakarya anak bangsa dari Sulawesi Selatan yang mengajarkan satu hal: bahwa untuk menghadapi badai, kita tidak hanya butuh layar dan tiang, tetapi juga arah dan awak yang tangguh.

Seperti halnya pinisi yang berlayar di samudra luas, Indonesia hari ini sedang berlayar di tengah gelombang perubahan global. Perubahan itu datang dalam rupa digitalisasi, disrupsi ekonomi, hingga pola hidup masyarakat yang terus bergerak cepat. Dalam pelayaran ini, Bank Indonesia hadir bukan sekadar sebagai pengawas dari menara pantau, melainkan sebagai nakhoda strategis yang menyiapkan layar: salah satunya adalah QRIS—Quick Response Code Indonesian Standard.

QRIS bukan sekadar inovasi alat bayar, melainkan adalah layar yang menggerakkan kapal bernama ekonomi rakyat. Dengan satu kode yang bisa digunakan lintas platform dan lintas wilayah, QRIS menjadi jembatan bagi pedagang kaki lima hingga pelaku UMKM untuk mengarungi derasnya arus ekonomi digital. Dan lebih dari itu, QRIS menciptakan peluang bagi lahirnya awak-awak baru—masyarakat cakap digital yang kita sebut sebagai smart citizen.

Layar boleh canggih, kapal boleh besar. Namun, kapal tidak akan berlayar tanpa awak yang tahu arah, peka pada perubahan angin, dan tidak takut menghadapi ombak. Maka dalam konteks kebijakan Bank Indonesia, kehadiran QRIS hanyalah satu sisi dari koin perubahan. Sisinya yang lain adalah membentuk masyarakat yang tidak sekadar tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga paham makna ekonomi, sadar pada pilihan finansial, dan mampu berdiri di tengah ketidakpastian zaman.

QRIS: Layar Inklusif untuk Ekonomi yang Lebih Merata

Logo Bank Indonesia. Foto: Harismoyo/ShutterStock

Sejak pertama kali diluncurkan oleh Bank Indonesia pada 17 Agustus 2019, QRIS hadir dengan misi sederhana, tetapi berdampak besar: menyatukan pelbagai kode pembayaran menjadi satu standar nasional. Dalam praktiknya, ini berarti siapa pun—dari pemilik warung kelontong di pelosok desa hingga pengusaha kopi kekinian di pusat kota—bisa menerima pembayaran digital tanpa harus memiliki beragam mesin atau aplikasi. Inilah bentuk nyata inklusi keuangan: mempermudah yang kecil tanpa menyingkirkan yang besar.

QRIS bukan hanya memodernisasi cara bertransaksi, tetapi juga mendemokratisasi akses terhadap ekosistem ekonomi digital. Kini, pelaku usaha mikro tak lagi tertinggal oleh perubahan zaman. Mereka bisa berdagang dengan efisien, mencatat transaksi secara rapi, dan bahkan terhubung dengan peluang pembiayaan digital. Bagi konsumen, QRIS memberikan kenyamanan dalam berbelanja: tanpa uang tunai, tanpa ribet, cukup satu pindai.

Lebih dari 56 juta pengguna dan 38 juta merchant telah bergabung dalam sistem QRIS hingga triwulan pertama 2025. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin bahwa QRIS telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam hal ekonomi nasional, inilah fondasi penting bagi pertumbuhan yang berkelanjutan—pertumbuhan yang tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar, tetapi juga oleh pelaku usaha lokal dan masyarakat akar rumput.

Smart Citizen: Awak Kapal yang Menjaga Haluan Perubahan

Gambar Kapal Pinisi. Foto: Velvetfish/Getty Images

Dalam pelayaran menuju masa depan ekonomi digital, teknologi bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan. Sebagaimana kapal pinisi tak akan melaju tanpa awak yang terampil dan memahami arah angin, transformasi ekonomi pun tak akan berjalan tanpa kehadiran masyarakat yang cerdas, sadar, dan adaptif—smart citizen. Mereka adalah warga yang tak hanya fasih memindai kode QR, tetapi juga mengerti nilai dari setiap transaksi, paham menjaga keamanan data, dan bijak dalam mengelola keuangan digital.

Smart citizen sejatinya bukanlah konsep yang lahir dari ruang-ruang akademik belaka. Mereka tumbuh dari keseharian: pelajar yang membayar uang jajan lewat dompet digital, petani yang menjual hasil panen secara daring, hingga ibu rumah tangga yang mencatat pengeluaran dengan aplikasi keuangan. Merekalah cermin dari masyarakat yang sedang berproses—dari pengguna menjadi pelaku aktif dalam ekonomi digital. Pun, Bank Indonesia, lewat QRIS dan inisiatif literasi keuangannya, terus memperkuat fondasi agar masyarakat mampu menavigasi dunia baru ini dengan percaya diri.

Kendati demikian, menjadi smart citizen tidaklah datang begitu saja. Perlu edukasi, pendampingan, dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Karena itu, literasi digital dan keuangan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Ketika masyarakat mampu memahami risiko dan manfaat ekonomi digital, mereka tidak mudah terjebak pada pinjaman ilegal, jebakan konsumtif, atau penyalahgunaan data. Dengan kata lain, smart citizen adalah penjaga haluan: memastikan agar kapal besar bernama Indonesia tetap bergerak di jalur yang benar, meski angin zaman terus berubah.

Bank Indonesia: Penggawa Inovasi di Geladak Kebijakan

Sebagaimana penggawa dalam tradisi pembuatan kapal pinisi yang mengawasi setiap tahap pembangunan kapal—dari pemilihan kayu hingga peluncuran—Bank Indonesia memainkan peran serupa dalam arsitektur ekonomi digital Indonesia. Sebagai otoritas moneter sekaligus pengendali sistem pembayaran nasional, BI sejatinya tak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga merancang jalur pelayaran baru yang memungkinkan seluruh elemen bangsa bertumbuh bersama kemajuan teknologi.

Ilustrasi QRIS yang mendunia. Diolah oleh Raihan Muhammad

Peluncuran QRIS bukanlah kebijakan sesaat, melainkan hasil dari strategi jangka panjang yang berpihak pada inklusi dan efisiensi. Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia terus memperkuat infrastruktur digital, memperluas integrasi antar-sistem pembayaran, serta membangun kerja sama lintas negara lewat program cross-border QRIS yang kini telah menjangkau Thailand, Malaysia, dan Singapura, serta dalam waktu dekat Jepang dan Tiongkok—dan tak menutup kemungkinan di pelbagai negara lainnya. Inisiatif ini bukan hanya mempermudah transaksi internasional, tetapi juga memperluas jalan bagi produk lokal menuju pasar global.

Di luar aspek teknis, Bank Indonesia pun menjalankan fungsi edukatif melalui berbagai program literasi ekonomi. Gerakan Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP Rupiah), kampanye QRIS Tuntas, serta pelatihan untuk pelaku UMKM dan pelajar menunjukkan bahwa BI tak sekadar meluncurkan kebijakan, tetapi juga menyiapkan masyarakat sebagai bagian dari transformasi. Dalam pelayaran besar menuju masa depan digital, BI adalah penggawa yang sigap di geladak kebijakan—menjaga arah, merawat keseimbangan, dan memastikan tak satu pun penumpang tertinggal.

Menjaga Haluan, Menembus Badai

Gambar Kapal Pinisi. Foto: Velvetfish/Getty Images

Seperti halnya pinisi yang tak lahir dalam semalam, transformasi ekonomi Indonesia pun bukanlah hasil dari kebijakan sesaat. Ia dibangun dari ketekunan, kearifan lokal, dan keberanian menghadapi ketidakpastian. QRIS adalah layar yang kini terbentang luas; smart citizen adalah awak yang telah diasah ketangkasannya; dan Bank Indonesia adalah penggawa yang menjaga agar arah pelayaran tak melenceng meski badai datang silih berganti.

Kapal pinisi tak pernah dibuat untuk berlayar di perairan tenang, melainkan dilahirkan untuk mengarungi samudra, untuk menantang angin, dan untuk menjelajahi cakrawala baru. Begitu pula dengan bangsa ini. Dalam dunia yang bergerak cepat dan tak menentu, yang kita perlukan bukan hanya alat navigasi canggih, tetapi juga kepekaan, kebersamaan, dan keberanian untuk terus melaju—tanpa kehilangan arah, tanpa melupakan akar.

Maka, selama layar QRIS tetap terbuka, awak smart citizen terus belajar, serta penggawa kebijakan tetap hadir dengan hati, maka Indonesia akan tetap mampu berlayar. Bukan sekadar bertahan di tengah badai, tetapi menembusnya—menuju masa depan yang lebih inklusif, berdaya, dan bermartabat.

Sebagaimana pepatah Bugis berkata, “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata”—hanya dengan kerja keras dan kesungguhanlah, rahmat Tuhan Yang Maha Esa akan turun. Dalam semangat inilah pinisi dibangun, bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketekunan, doa, dan gotong royong. Demikian pula halnya dengan masa depan ekonomi bangsa: hanya bisa digerakkan oleh inovasi yang berpihak pada rakyat, didayung oleh warga yang cakap, dan diarahkan oleh kebijakan yang penuh hikmah.

Selama layar tetap terkembang dan haluan dijaga bersama, Indonesia tak akan tersesat dalam pusaran zaman. Sebab dari Timur Nusantara, dari warisan bahari yang agung, kita belajar bahwa bangsa besar bukan hanya yang punya kapal megah, tetapi yang tahu ke mana harus berlayar—dengan hati yang teguh dan tujuan yang jelas.