Konten dari Pengguna

Sejarah Tidak Selalu Ditulis oleh Para Pemenang

Raihan Muhammad
Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan - Direktur Eksekutif Amnesty UNNES
4 Juli 2023 13:42 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Raihan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang. Foto: Triff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah tidak selalu ditulis oleh pemenang. Foto: Triff/Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sejarah ditulis oleh para pemenang,” sebuah ungkapan yang sering didengungkan dan diaminkan oleh banyak orang—mungkin oleh kita juga. Ungkapan tersebut masih menjadi misteri siapa yang pertama kali menggaungkannya, entah Winston Churchill, entah Napoleon Bonaparte.
ADVERTISEMENT
Makna dari ungkapan tersebut mengacu pada kenyataan bahwa versi sejarah yang sering kali kita baca atau pelajari cenderung dipengaruhi oleh sudut pandang (perspektif), kepentingan, dan narasi para pihak yang berhasil atau menang dalam suatu konflik, pertempuran, atau peristiwa penting.
Sejarah memang sering kali ditulis oleh pihak yang berhasil meraih kemenangan dalam suatu konflik, seperti pemenang perang, penjajah, atau kelompok yang memegang kekuasaan politik. Mereka memiliki kecenderungan untuk menggambarkan peristiwa tersebut sesuai dengan perspektif dan kepentingan mereka sendiri.
Dalam ungkapan lain, ada juga pernyataan dari penulis asal Nigeria, Albert Chinualumogu Achebe atau biasa dikenal Chinua Achebe yang menyatakan,
Ungkapan ini memiliki kesamaan makna dengan pernyataan "sejarah ditulis oleh para pemenang", tetapi menggunakan metafora singa dan pemburu. Makna dari ungkapan ini adalah bahwa narasi sejarah sering kali dipengaruhi oleh sudut pandang yang menguntungkan pihak yang memiliki kekuasaan atau dominasi dalam suatu konflik atau peristiwa.
ADVERTISEMENT
Singa dalam pernyataan ini melambangkan pihak yang tertindas, lemah, atau dikalahkan, sedangkan pemburu melambangkan pihak yang memiliki kekuasaan atau keunggulan.
Ungkapan ini menyiratkan bahwa sampai saat pihak yang tertindas atau kalah memiliki sejarawan mereka sendiri, narasi sejarah akan selalu memuliakan pihak yang memiliki kekuasaan atau dominasi.
Makna yang lebih mendalam dari ungkapan ini adalah bahwa narasi sejarah yang ada cenderung memihak kepada pihak yang memiliki kontrol atau kekuasaan dalam penulisan sejarah.
Dalam proses penulisan sejarah, sering kali juga detail-detail yang tidak menguntungkan atau membahayakan citra mereka dihilangkan atau disesuaikan untuk menyajikan sudut pandang yang lebih menguntungkan.
Misalnya, sejarah penjajahan Amerika dari sudut pandang penjajah Eropa, seperti penjajahan Inggris di Amerika Utara, sering kali memberikan narasi yang membenarkan dan menggambarkan penjajah sebagai peradaban yang membawa kemajuan dan kebebasan.
ADVERTISEMENT
Pengalaman, perspektif, serta perlawanan masyarakat asli Amerika dalam konteks penjajahan sering kali diabaikan atau dianggap sebagai hambatan terhadap kemajuan.
Ilustrasi sejarah. Foto: Tetyana Afanasyeva/Shutterstock
Selain itu, berkaca pada sejarah Tanah Air, sejarah penjajahan Belanda di Indonesia sering kali memberikan narasi yang membenarkan dan melegitimasi kehadiran mereka.
Misalnya, kebijakan politik etis yang diluncurkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 dianggap sebagai upaya perbaikan di koloni, meskipun mengabaikan realitas eksploitasi dan penindasan terhadap masyarakat pribumi.
Narasi sejarah penjajahan oleh Belanda pun cenderung meremehkan perlawanan dan pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai sikap mempertahankan dan mengusir penjajahan dari Tanah Air.
Kemudian, ada juga ungkapan dari sastrawan Inggris, George Orwell, yang menyatakan,
Pernyataan ini mencerminkan pentingnya kendali atas narasi sejarah dalam memengaruhi masa depan dan persepsi terhadap masa lalu. Makna dari ungkapan ini adalah bahwa penguasa atau kelompok yang mengendalikan narasi sejarah memiliki kekuasaan yang besar untuk membentuk pandangan masyarakat terhadap masa depan dan bagaimana mereka memahami masa lalu.
ADVERTISEMENT
Jika pihak tertentu memiliki kendali penuh atas narasi sejarah, mereka bisa memanipulasi dan mengubah pandangan masyarakat terhadap peristiwa masa lalu sesuai dengan kepentingan mereka.
Dalam novel 1984 karya George Orwell, pemerintah totaliter yang mengendalikan informasi dan sejarah berusaha memanipulasi dan mengubah catatan sejarah untuk mengukuhkan kekuasaan mereka dan mengendalikan pikiran dan tindakan masyarakat.
Gambar novel 1984 karya George Orwell. Foto: Wachiwit/Shutterstock
Mereka memanfaatkan kekuatan propaganda dan rekayasa sejarah untuk menjaga dominasi mereka dan menekan oposisi. Ungkapan ini juga mengingatkan kita akan pentingnya memiliki pemahaman kritis terhadap sumber informasi dan narasi sejarah yang kita terima.
Dengan menyadari bahwa kontrol atas narasi sejarah bisa digunakan untuk memengaruhi pandangan dan tindakan kita, kita bisa lebih waspada terhadap manipulasi dan berupaya mencari pemahaman yang lebih objektif dan komprehensif tentang peristiwa masa lalu.
ADVERTISEMENT
Padahal, kalau kita melihat, bahwa sejarah tidak selalu ditulis oleh para pemenang atau penjajah. Kita bisa melihat sejarah Nazi, ada peristiwa bernama Holokaus. Catatan harian Anne Frank dan kisah selamat lainnya memberikan bukti langsung tentang kekejaman Nazi. Catatan ini juga memengaruhi bagaimana dunia melihat dan memahami Holokaus.
Selain itu, mengenai sejarah di Tanah Air kita tercinta, pada masa penjajahan para pendiri bangsa Indonesia pun juga menulis untuk melakukan kritikan kepada pihak penjajah. Misalnya, Ki Hajar Dewantara, melalui tulisannya yang berjudul Als ik een Nederlander was yang artinya Seandainya Aku Seorang Belanda.
Kita tahu, meskipun pemenang sering punya kekuatan untuk mendominasi narasi dan menentukan bagaimana suatu peristiwa dilihat atau dipahami, perspektif mereka yang kalah atau terpinggirkan juga penting dan sering memberikan wawasan berharga dan nuansa yang lebih dalam terhadap peristiwa tersebut.
ADVERTISEMENT
Misalnya, dalam konteks penjajahan, penjajah (pemenang) mungkin memiliki kekuatan untuk menulis sejarah dan mengendalikan bagaimana penjajahan itu dilihat atau dipahami. Namun, perspektif dan pengalaman orang-orang yang dijajah (yang kalah) juga sangat penting untuk memahami sepenuhnya dampak dan implikasi penjajahan tersebut.
Dalam beberapa dekade terakhir, ada yang disebut sejarah subaltern atau sejarah dari bawah yang berfokus pada suara dan perspektif mereka yang sering terpinggirkan dalam narasi sejarah tradisional.
Ini mencakup suara orang miskin, wanita, kelompok etnis dan ras minoritas, dan lain-lain. Studi-studi ini menunjukkan bahwa sejarah memang tidak selalu ditulis oleh para pemenang, dan bahwa penting untuk mendengarkan dan memahami dari pelbagai perspektif dalam memahami sejarah.
Ilustrasi pemenang sejarah. Foto: Gorodenkoff/Shutterstcok
Adanya ungkapan “sejarah ditulis oleh para pemenang” tentu menimbulkan dampak, yakni adanya potensi distorsi atau penyajian yang bias dalam rekaman sejarah. Versi sejarah yang dihasilkan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kebenaran atau melibatkan sudut pandang, pengalaman, atau suara pihak yang kalah atau tertindas dalam suatu konflik.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai pembaca atau pembelajar sejarah untuk mengembangkan kritis dan menyeluruh terhadap sumber-sumber sejarah yang kita pelajari.
Dengan mempertimbangkan pelbagai perspektif, sumber yang berbeda, dan mencari pemahaman yang lebih holistik (secara keseluruhan), sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan mendekati kebenaran mengenai peristiwa sejarah yang terjadi.
Jadi, sejarah tidak selalu ditulis oleh para pemenang, tetapi para pihak yang tidak menang pun juga ada yang menuliskannya. Lebih tepatnya lagi, sejarah ditulis atau didokumentasikan oleh siapa pun mereka yang mau. Jika sejarah memang ditulis oleh para pemenang, maka izinkan aku untuk menulis tentangmu.