Konten dari Pengguna

Sepak Bola dan Politik: Ibarat Sekeping Mata Uang Logam

Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raihan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bisnis sepak bola.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bisnis sepak bola. Foto: Shutterstock

Akhir-akhir ini, masyarakat dihebohkan dengan berita pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah ajang sepak bola Piala Dunia U-20. Banyak yang berspekulasi bahwa adanya pembatalan ini akibat ulah banyak pihak, mulai dari para politikus (sebut saja Ganjar Pranowo dan I Wayan Koster), partai politik (PDIP, PKS, dan PAN), hingga organisasi masyarakat (MUI, Mer-C, KNPI, dan sebagainya) yang menolak kedatangan timnas Israel U-20.

Adanya penolakan timnas Israel tersebut, membuat masyarakat, khususnya warganet, menuding bahwa hal ini disebabkan karena politik yang diseret ke dunia sepak bola, sehingga FIFA memberikan keputusan untuk membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah, serta memberikan sanksi. Presiden Joko Widodo pun turut berkomentar atas kejadian ini, dan dalam pernyataannya, beliau juga meminta supaya olahraga (salah satunya sepak bola) tidak dicampuradukkan dengan politik.

Akan tetapi, pada realitasnya sangat sulit untuk memisahkan sepak bola dari politik. Sepak bola dan politik ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak terpisahkan karena di dalam sepak bola pun rekat dengan politik, misalnya Israel yang secara geografis terletak di benua Asia, tetapi dalam sepak bola internasional tergabung sebagai anggota Union of European Football Associations (UEFA) yang merupakan asosiasi sepak bola Eropa, hal ini juga merupakan salah satu wujud sikap politik.

Sepak bola sebagai Alat Politik Indonesia

Ilustrasi Sukarno. Sumber gambar: Shutterstock.

Dalam sejarahnya, sepak bola digunakan sebagai alat politik. Salah satu yang menggunakan sepak bola sebagai alat politik adalah presiden pertama Indonesia, Sukarno, yang mana sepak bola dipakai sebagai medium perjuangan bangsa. Penolakan terhadap Israel bukan terjadi pada era sekarang, tetapi Sukarno pun turut menolak Israel sebagai wujud penolakan terhadap praktik kolonialisme.

Presiden Sukarno secara terang terangan mendukung kemerdekaan Palestina,

Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Presiden Sukarno merupakan sosok yang piawai dalam hal propaganda dan agitasi, beliau mau sepak bola sebagai salah satu alat untuk mewujudkan karakter bangsa yang maju, sepak bola dijadikan sebagai media Sukarno untuk memperkenalkan Pancasila ke pelbagai dunia pada saat tur dunia.

Kemudian, Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menggunakan sepak bola sebagai alat politiknya. PKI berkampanye melalui surat kabar miliknya, Harian Rakjat. Pemain timnas Indonesia pada saat itu, yakni Ramlan dan Endang Warsita, merupakan calon legislatif usungan PKI. Karena alat politiknya, yakni sepak bola, pada saat itu banyak masyarakat yang mencoblos PKI.

Sepak bola sebagai Alat Politik Diktator Dunia

Foto Mussolini dan Hitler di Jerman. Sumber foto: Shutterstock.

Selain di Indonesia, sepak bola juga dijadikan sebagai alat politik oleh diktator dunia, yakni Benito Mussolini dan Francisco Franco. Pasca-Perang Dunia I, Mussolini berupaya untuk menunjukkan kekuatan ideologi fasis serta memperkuat persatuan negara. Meskipun Mussolini bukan penggemar sepak bola, beliau menyadari potensi olahraga ini untuk memenuhi tujuannya tersebut. Melalui timnas sepak bola Italia sebagai alat propaganda untuk mempromosikan ideologi fasis kepada rakyat Italia.

Pada era kepemimpinan Mussolini, Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1934 dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Mussolini untuk membangun citra Italia sebagai kekuatan sepak bola dunia dan meningkatkan nasionalisme Italia. Akhirnya, tim nasional Italia berhasil memenangkan turnamen tersebut, yang dianggap sebagai bukti keunggulan fasis dan kekuatan nasional Italia.

Setelah Perang Dunia I, Mussolini dan rezim fasisnya di Italia berusaha untuk menunjukkan kekuatan fasisme dan mempersatukan negara. Secara umum, sepak bola menjadi alat (politik) yang penting bagi Il Duce—sapaan Mussolini—untuk memperkuat kekuasaannya dan meningkatkan nasionalisme Italia selama era fasisnya.

Selain Mussolini, sepak bola juga dijadikan sebagai alat politik oleh diktator asal Spanyol, Francisco Franco, yang menganggap bahwa sepak bola sebagai simbol budaya penting di Spanyol, sehingga Franco memanfaatkannya sebagai alat politik untuk memperkuat kekuasaannya serta meningkatkan nasionalisme di Spanyol.

Sebagai penggemar sepak bola yang fanatik, Franco secara terbuka mendukung Real Madrid C.F., tim sepak bola terbesar di Spanyol pada masa pemerintahannya. Dalam jangka waktu tersebut, Real Madrid menjadi klub yang mendominasi sepak bola Spanyol serta Eropa, yang dimanfaatkan El Caudillo—sapaan Franco—sebagai alat propaganda untuk mempromosikan ideologi nasionalis dan fasis kepada masyarakat Spanyol.

Mereka menyadari bahwa sepak bola merupakan olahraga massa, sehingga potensi untuk dijadikan sebagai alat politik sangat besar potensinya. Sepak bola, sebagai olahraga yang digemari banyak orang, sehingga tepat apabila para pemimpin dunia menggunakan sepak bola sebagai sarana untuk mencapai tujuan mereka.

Sepak Bola Sebuah Miniatur Politik Dunia

Ilustrasi Diplomasi. Sumber foto: Shutterstock.

Seorang sastrawan Inggris, George Orwell, menyatakan bahwa sepak bola internasional merupakan kelanjutan perang dengan cara lain. Dalam sebuah artikel yang berjudul The Sporting Spirit, Orwell menyatakan bahwa dalam konteks perang, olahraga—seperti sepak bola—digunakan untuk memperkuat nasionalisme dan mengarahkan rasa persatuan dan kebencian ke arah lawan.

Orwell mengungkapkan bahwa hal yang sama terjadi dalam sepak bola internasional, yang mana negara-negara bersaing untuk memperkuat identitas nasional mereka. serta menunjukkan keunggulan atas negara lain. Beliau juga menyatakan bahwa dalam sepak bola, para penggemar dan bahkan pemain seringkali melihat tim mereka sebagai representasi dari nasionalisme mereka. Hal ini seringkali mengarah pada rivalitas dan konflik yang serius antara penggemar dan pemain dari negara yang berbeda.

Oleh karena itu, menurut Orwell, sepak bola internasional dapat menjadi sarana politik untuk mengarahkan energi dan rasa persatuan ke arah persaingan dan konflik dengan negara lain, meskipun pada dasarnya olahraga semestinya bertujuan untuk mengembangkan persahabatan dan kerja sama antara manusia dari pelbagai negara.

Kemudian, sepak bola pada era kini dapat dikatakan sebagai instrumen diplomasi, yakni melalui konsep yang diciptakan oleh Louise Diamond dan John McDonald bernama multitrack diplomacy (MTD). Salah satunya dilakukan oleh Inggris dan Cina yang melakukan diplomasi melalui sepak bola yang mana mereka telah menyepakati kerja sama industri sepak bola. Adapun kerja sama yang dilakukan oleh kedua negara seputar sektor ekonomi.

Diplomasi yang dilakukan tidak selalu menggunakan cara militer, embargo ekonomi, dan sebagainya, tetapi bisa dilakukan dengan si kulit bundar. Bahkan, negara-negara yang secara ekonomi dan militer tidak terlalu baik, tetapi karena sepak bolanya baik maka negaranya bisa dikenal secara luas di seluruh dunia, misalnya Argentina dan Brazil. Sebagai olahraga yang paling digemari di dunia, sepak bola tampaknya berperan penting dalam sebuah negara.

Selain itu, rivalitas dalam sepak bola juga mewarnai dinamika di dalam olahraga ini. Sering kali, rivalitas yang hadir tidak hanya di dalam lapangan, tetapi juga terjadi perseturuan dalam urusan politik. Adanya konflik ini dilatarbelakangi oleh faktor geografis yang berdekatan, sejarah, dan sebagainya, di Eropa terdapat rivalitas antara Inggris dan Skotlandia, di Asia terdapat rivalitas antara Indonesia dan Malaysia, dan sebagainya.

Memahami Dunia Lewat Sepak Bola

Ilustrasi penggemar sepak bola. Sumber foto: Shutterstock.

Di dalam bukunya yang berjudul How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menambah referensi kita bahwa sepak bola bukan sebatas olahraga. Sepak bola bisa menjadi alat untuk memahami seluk-beluk dunia kontemporer yang dilanda segala dampak arus globalisasi—termasuk aspek politik. yang juga berkaitan dengan penduduk Islam Bosnia, bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan, Zionisme maupun anti-Semitisme, dan sebagainya.

Foer juga menuliskannya dalam sudut pandang politik, dan beliau juga mengutarakan bahwa sepak bola sejatinya berkaitan dengan politik. Beliau membahas mulai dari perang gangster Serbia, kelas oligarki baru, hingga perang budaya Amerika. Kemudian, sepak bola dikaitkan dengan agama, mafia, politik, kekuasaan, korupsi, hooliganisme, nasionalisme, ras, kelas dan sebagainya.

Oleh karena itu, tepat apabila mengatakan bahwa sepak bola sejatinya tak terlepas dari politik karena di dalam olahraga ini terdapat aspek-aspek politik yang bisa kita jumpai. Sehingga, sepak bola menjadi salah satu hal yang dipandang penting oleh kebanyakan negara untuk memperlihatkan eksistensi mereka di mata dunia. Dari penjelasan di atas, maka tepat apabila menyatakan bahwa sepak bola dan politik ibarat sekeping mata uang logam yang tak terpisahkan.