Faktor Pemicu Motivasi Dalam Organisasi

Muhammad Raihan Hasya Pratama
Akrab disapa Raihan, Saat ini, saya merupakan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka dengan mengambil Prodi Ilmu Komunikasi.
Konten dari Pengguna
22 Mei 2024 13:22 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Raihan Hasya Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anggota organisasi yang termotivasi (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anggota organisasi yang termotivasi (sumber: https://pixabay.com/id/)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Memiliki anggota organisasi yang bersemangat dan termotivasi bukan hanya impian, tetapi juga kunci keberhasilan suatu organisasi. Seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi, karyawan yang termotivasi menjadi penggerak utama produktivitas, kreativitas, dan loyalitas dalam organisasi.
ADVERTISEMENT
Abraham Maslow, psikolog ternama, menawarkan solusi melalui teori hierarki kebutuhannya yang berpengaruh. Teori ini mengungkap lima tingkatan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi secara bertahap untuk mencapai motivasi maksimal: fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan dasar manusia yang paling penting untuk kelangsungan hidup, seperti makanan, minuman, tempat tinggal, dan tidur. Ketika kebutuhan fisiologis ini tidak terpenuhi, individu akan sulit untuk fokus pada hal lain. Oleh karena itu, organisasi perlu memastikan bahwa karyawannya memiliki gaji yang layak, tunjangan kesehatan yang memadai, dan lingkungan kerja yang aman dan nyaman agar kebutuhan fisiologis mereka terpenuhi.
Kebutuhan Rasa Aman
Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, individu akan mulai fokus pada kebutuhan keamanan, seperti rasa aman dari bahaya fisik, stabilitas pekerjaan, dan jaminan kesehatan. Organisasi dapat memotivasi karyawan dengan menyediakan lingkungan kerja yang aman, program asuransi kesehatan yang komprehensif, dan kebijakan ketenagakerjaan yang adil dan transparan.
ADVERTISEMENT
Kebutuhan Sosial
kebutuhan sosial adalah kebutuhan manusia untuk memiliki rasa memiliki, diterima, dan dicintai oleh orang lain. Individu ingin merasa menjadi bagian dari kelompok dan memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Organisasi dapat memotivasi karyawan dengan menciptakan budaya kerja yang positif dan suportif, mendorong kerja tim, dan menyediakan kesempatan bagi karyawan untuk bersosialisasi dan membangun hubungan dengan rekan kerja mereka.
Kebutuhan Penghargaan
kebutuhan penghargaan adalah kebutuhan manusia untuk merasa dihargai dan dihormati oleh orang lain. Individu ingin diakui atas pencapaian mereka dan merasa bahwa mereka berkontribusi pada sesuatu yang penting. Organisasi dapat memotivasi karyawan dengan memberikan penghargaan dan pengakuan atas kinerja yang baik, memberikan kesempatan untuk pengembangan profesional, dan menciptakan struktur organisasi yang datar dengan peluang promosi yang jelas.
ADVERTISEMENT
Kebutuhan Aktualisasi Diri
kebutuhan aktualisasi diri yaitu kebutuhan manusia untuk mencapai potensi penuh mereka dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri. Individu ingin merasa bahwa mereka membuat perbedaan di dunia dan bahwa hidup mereka memiliki makna. Organisasi dapat memotivasi karyawan dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengambil tanggung jawab baru, belajar keterampilan baru, dan berkontribusi pada tujuan yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Dengan menerapkan prinsip-prinsip hierarki kebutuhan Maslow, organisasi dapat membangun tim yang termotivasi dan siap memberikan kontribusi terbaik mereka demi mencapai tujuan bersama. Langkah ini tidak hanya menguntungkan karyawan, tetapi juga menjadi kunci keberhasilan organisasi dalam menghadapi persaingan di era modern.
Daftar Pustaka
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396.
ADVERTISEMENT
Muhammad Raihan Hasya Pratama, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah PROF. DR. HAMKA