Kursi Kosong

fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa indonesia universitas syiah kuala Mahasiswa sastra
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Raihan Shafira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Jangan dekati dia, dia tidak waras!" ujar lantang para Mahasiswa ketika melihat sosok lelaki yang berjalan melewati mereka.
Teriknya mentari sudah cukup menghangatkan suasana yang sudah panas ini. Rumput, dan pepohonan berbahagia dengan sinar ini. Tetapi tidak bagi mahasiswa yang berkumpul di luar, saling melontarkan kalimat demi kalimat dengan keras. Mengundang perhatian mahasiswa lain yang baru saja datang. Mungkin bagi seseorang yang tidak mengenal laki-laki itu akan menganggap ia lelaki normal seperti pada umumnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" bentak laki-laki itu kesal.
Sebagian mahasiswa yang mondar-mandir tersebut berhenti lantas mengerumuninya. Ada gula, ada semut, peribahasa itu cocok menggambarkan rasa penasaran mereka. Sebagian dari mahasiswa tersebut menatap sang pria dengan remeh.
"Itu semua bukan kesalahanku," imbuhnya lagi dengan sorot mata gelisah, sorotan yang entah mencari-cari apa ke sekelilingnya. Tak ada satu orang pun yang berani berjalan mendekati lelaki itu. Dia sudah sangat tertekan dengan kasus yang terkuak satu tahun lalu.
###
Hampir genap 60 tahun Universitas Syiah Kuala berdiri, dengan suasana yang tak berubah. Masih asri dengan pepohonannya dan masih selalu menjadi rumah kedua mahasiswa. Tak terkecuali bagi Fira dan Firas yang sedang baru saja usai makan di kantin FKIP.
"Di sana kan bisa rebahan, trus ada AC-nya. Ras, ayolah kita ke perpus!" ajak Fira dengan paksaan. Tangan kiri Fira sudah mengapit lengan sang pria, menariknya agar mau menurut.
Firas menatapnya datar. Perpustakaan merupakan tempat yang perlu diwaspadai, terutama jika bersama Fira, lantaran ingin mengubur rapat sebuah memori kelam. Beberapa detik kemudian ia tersenyum getir menjawab, "Aku ada janji dengan anak basket."
Dengan senyuman miringnya Fira menjewer telinga Firas dan menuntunnya melangkah. Jelas bahwa Fira sudah mengetahui jadwalnya kosong, sehingga ia berkonfrontasi dengan nada sarkasme. "Kau semakin suka berbohong sekarang. Anak Bunda tersayang, kamu belajar dari siapa sih, nak?"
"Aku betul-betul ada rapat sama anak basket, Fir," ungkap Firas berusaha memasang wajah serius sambil menahan pedasnya jeweran Fira.
Langkah si gadis terhenti. Ia memposisikan badan tepat menghadap Firas, mengamati wajahnya lamat-lamat sambil berpikir dalam hati, “Apa Firas tidak sadar jika dia semakin memberikan clue bahwa dia sedang berbohong?”
"Rapat atau janji?" Tanya Fira sambil menatap Firas sinis.
"Janji rapat," jawab Firas yang kebetulan masuk akal.
Fira kembali menyeret si pria hingga jaraknya dengan Perpustakaan Unsyiah hanya tinggal dua langkah lagi dari tempatnya berdiri.
"Aku mohon, jangan memaksaku untuk masuk ke dalam sana," pinta Firas dengan memelas. Ia mengangguk perlahan, membuat rambut gondrongnya ikut berkibar lembut.
Fira mendesah sekilas, menahan pitamnya yang mulai naik. "Kenapa kau sangat tidak suka jika aku mengajakmu untuk menemaniku ke perpustakaan?"
"Kau sangat aneh jika sudah masuk ke dalam sana," ungkap Firas dengan wajah orang tersakiti.
Fira memutar bola mata malas, semakin ingin mengajak ribut. “Di mana aku terlihat aneh? Bukankah sangat wajar jika aku membaca buku di perpustakaan? Atau sekadar membuat cerita-cerita dari ide yang terbit ketika berada di sana. Mungkin menuliskan berita-berita untuk diterbitkan di web kampusnya. Jadi apanya yang aneh?!”
“Kau yang aneh!”
Firas menghardik, sambil berlalu begitu saja. Menyisakan Fira dengan sejuta keheranan hingga akhirnya menghela napas kasar seraya bergumam. “Ah udahlah.”
Ia menapaki tiga anak tangga dengan gontai, memikirkan sikap sahabatnya itu. Lantas melangkah perlahan, melakukan absensi dengan KTM-nya, dan seketika menghambur begitu saja dalam lautan manuskrip ilmu pengetahuan di lantai tiga.
Sembari menapaki satu per satu anak tangga, ia bergumam lagi. Fira benar-benar bingung, apa yang salah dengan perpustakaan. Jika Firas tidak mau membaca bukankah perpustakaan juga bisa buat tempat dia istirahat barang sejenak? Terlebih lagi udara siang hari di daerah dekat laut sangat panas, tidak seperti di dalam perpustakaan yang bagaikan surga kecil.
"Benar-benar bocah aneh," ujar Fira kesal sendiri.
"Sudahlah lebih baik aku melanjutkan membaca buku kemarin." ungkap Fira sambil berjalan ke arah rak paling ujung di mana dia biasanya menyembunyikan buku-buku yang belum siap ia baca tetapi malas untuk meminjam.
"Di mana bukuku?" Tanya Fira kesal ketika tidak mendapatkan buku yang ia ingin baca.
Fira melangkah mundur sambil mengacak-acak rak buku yang sebenarnya memang sudah tidak rapi untuk mencari bukunya yang tiba-tiba raib tanpa jejak. Dimanakah bukunya? Ah, maksudnya buku milik perpus yang sedang Fira cari.
Ia masih berbicara dalam hati ketika menyusuri lorong buku lainnya. Saking fokusnya, ia tidak sengaja menabrak manusia. "Astaga-" ujar Fira dengan suara yang lantang yang dihadiahi pelototan dari orang-orang terdekatnya karena terganggu.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya laki-laki yang ditabrak dengan senyuman lembut, memamerkan lesung pipinya. Lengannya mengamit setumpuk buku, entah hendak dibawa ke mana.
Mengenakan kacamata, berkemeja dengan lengan digulung, dan kulit bersih. Fira terpesona, sebagaimana remaja pada umumnya menyukai lawan jenis yang baik rupa. "Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan." batin Fira.
Cukup lama baginya tenggelam dalam pesona, hingga akhirnya tersadar dan langsung menyahut pertanyaan si pria.
"Ah,.. tidak apa-apa. Maaf sudah menabrakmu," ujar Fira memohon maaf kepada laki-laki yang baginya cukup tampan tersebut.
"Eh! itu buku yang aku cari," gerutu Fira tanpa sadar ketika melihat punggung buku di antara tumpukan yang dibawa sang pria.
"Oh, kalau begitu ambil saja," serahnya. Tetapi ia menahan ketika Fira ingin menarik buku itu dengan cepat, seolah meminta sesuatu untuk balasan.
"Tapi boleh beritahu nama dan fakultasmu," tanya laki-laki itu dengan senyuman memikatnya. "Jika diberikan nomor telepon lebih baik lagi," imbuhnya lagi, membuat Fira bertambah salah tingkah.
"Fira dari FKIP Bahasa," ujarnya singkat. Ia lantas meraih buku itu dan berlari kecil meninggalkannya.
Fira benar-benar sangat salah tingkah saat ini, tetapi ini bukan hal perdana baginya. Lebih tepatnya bagi kalangan wanita seperti dia, kalangan penikmat cogan.
Fira menarik salah satu kursi, lantas duduk untuk membaca novelnya. Ia terusik ketika mendengar suara yang sudah sangat ia hafal meskipun hanya berupa deheman.
"Fir-"
"Apaan sih Ras?" tanya Fira kesal.
Firas sudah kesal karna harus memasuki perpustakaan, mendengar itu ia semakin cemberut. Ia berujar tegas kemudian pergi begitu saja. "Dicari oleh ketua forum!"
###
Fira masih sangat ingin Firas untuk menyukai literasi seperti dirinya, tetapi dia masih belum menemukan cara yang tepat. Tapi jika dipikirkan kembali wajar jika Firas tidak terlalu tertarik dengan sastra, dia pun bukan dari jurusan yang sama dengannya, yaitu jurusan bahasa dan sastra Indonesia.
"Pusing..." ungkap Firas yang tiba-tiba berada di samping Fira, padahal Fira sedang berada di kantin FKIP saat ini.
"Eh? Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Fira terkejut.
Firas hanya terkekeh pelan menjawab pertanyaan Fira. "Aku membutuhkan traktiran." imbuh Firas dengan muka memelasnya. Meminta ditraktir sudah menjadi kebiasaan Firas.
"Kau tau tidak, jika dengan menulis bisa mendapatkan uang? Nanti kamu bisa traktir diri sendiri pakai uang itu," ujar Fira kesal.
"Aku tidak mau mencari uang, aku hanya perlu traktiran," ujar Firas tidak peduli.
Fira menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia geram sendiri.
"Gimana cara sih biar dirimu mau nulis?" tanya Fira seketika frustrasi bahkan tidak bisa membuat susunan kata yang benar.
"Yah enggak gimana-gimana, karena menulis itu tidak diperlukan," ungkap Firas seraya terkekeh pelan.
"Kecuali kau mau membuat artikel yang sangat panas dan membuatku tertarik untuk meliput, dan merangkai kata untuk itu. Kayak berita konflik, yang tabu, atau misteri, kejahatan tersembunyi atau apalah itu," ungkap Firas. Ia meraih es teh manis milik Fira, meminumnya begitu saja tanpa minta izin.
Firas tidak yakin tentang adanya berita yang sangat kontroversi di sini. Mereka sama-sama hidup di sebuah kampus, tempat menimba ilmu. Kecuali mereka ingin mengangkat isu politik seperti hilangnya beberapa mahasiswa setelah berdemo.
Tetapi itu bukan lagi hal tabu untuk negara ini, itu sudah sering terjadi dari masa ke masa. Ah, ribet sih. Tapi boleh dicoba cari.
"Oke, tapi ini beneran mau kan?”
Firas menoleh dan mengangguk mantap.
“Sip. Aku bakal coba mencari masalah terseru untuk bisa kita angkat sama-sama," ungkap Fira menggebu-gebu.
Fira harus menemukan isu yang sangat hangat, agar sahabatnya ini tertarik dengan dunia jurnalistik seperti dirinya. Firas harus tau seberapa luar biasanya dunia jurnalistik. Tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Mungkin dia bisa memulai dengan menggali informasi dari majalah lama milik kampus.
"Fir jadi ke perpustakaan?" Tanya Rinda seraya menghampiri Fira yang sudah kembali sendirian.
"Jadi," jawab Fira cepat. “Ras, abisin aja tuh teh yang tadi kau curi. Aku mau ke perpus dulu ya,” pamitnya.
Firas mengangguk. Rinda dan Fira menaiki sepeda motornya masing-masing hingga tiba di perpustakaan. Lebih tepatnya gudang perpustakaan. Mereka memutuskan ke sana meski sempat takut karena adanya isu yang beredar.
Sebagian dinding gedung tersebut retak, sebagian lainnya ditumbuhi lumut. Cahaya matahari seperti tak merestui menyinari gedung itu. Angker.
Fira menatap gedung tersebut dengan mantap, sedangkan Rinda sudah menghela napas berkali-kali, mencoba menenangkan diri. Bulu tengkuknya sudah merinding sejak tadi. “Fir, kok rasanya ada yang ngawasin kita ya? aku takut nih!”
“Tenang aja kali. Kan ada aku yang temani kamu,” jawab Fira.
Rinda mendorong pipi Fira lembut, membuat jilbab segi empatnya sedikit bergeser. “Dih! Sekarang aku takut sama dirimu, Fir.”
“Yaudah ayuklah masuk,” ajak Fira tidak sabar.
“Ayuk. Tapi kamu jalan di depan, ya,” lanjut Rinda pelan.
Fira membuang napas singkat, jengkel dengan sikap temannya itu. Tanpa memedulikan Rinda, Fira tetap memasuki gudang perpustakaan kampusnya dengan cepat agar Rinda juga mengikutinya.
Engsel pintu berdecit ketika didorong Fira, membiarkan cahaya masuk menemui ruangan yang redup. Kontras dengan gedung utama perpustakaan, gudang dari perpustakaan ini sepi akan pustakawan atau pekerja. Di ujung sana, terpampang besar judul rak: Majalah. Kedua wanita ini ke sana, meneliti seisi rak yang tidak tertata rapi.
"Untuk apa majalah-majalah usang itu?" Tanya Rinda penasaran.
Nuraninya mengatakan ia harus menoleh ke belakang sekarang. Kini Rinda benar-benar merasa ada yang mengawasinya. Dia tidak bercanda sekarang.
