Konten dari Pengguna

Gen Z Sedang Menulis Ulang Bahasa Indonesia, Tanpa Sadar Mereka Melakukannya

Auliana Raina Putri

Auliana Raina Putri

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Auliana Raina Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Coba perhatikan percakapan di kolom komentar media sosial hari ini. Ada yang menulis "gercep dong, keburu gabut," ada yang membalas dengan "santuy aja, healing dulu," dan tak jarang muncul komentar "skena banget sih lo." Bagi generasi yang lebih tua, deretan kalimat ini mungkin terdengar seperti bahasa asing yang kebetulan ditulis dengan huruf Latin. Namun, jika kita mau jujur membedahnya secara linguistik, apa yang sedang dilakukan Generasi Z ini sebenarnya bukan merusak bahasa Indonesia, melainkan melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik: mereka sedang menciptakan lapisan bahasa baru dengan pola yang sangat rapi, meski kebanyakan dari mereka melakukannya tanpa sadar.

Selama ini, perbincangan soal bahasa gaul anak muda cenderung berhenti di level keluhan. Bahasa dianggap semakin rusak, semakin cabul, semakin jauh dari kaidah baku. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, fenomena ini punya pola kebahasaan yang bisa dijelaskan secara ilmiah, dan justru menunjukkan bahwa bahasa Indonesia adalah organisme yang sangat hidup, bukan sistem kaku yang mandek di buku pelajaran.

Afiksasi Kilat: Ketika Semua Kata Bisa Jadi Kata Kerja

Salah satu pola paling menonjol dalam bahasa Gen Z adalah kecepatan mereka mengubah kelas kata lewat proses afiksasi informal. Kata benda "healing", misalnya, yang semula sekadar istilah psikologi tentang proses pemulihan, dengan cepat berubah menjadi kata kerja sehari-hari lewat frasa seperti "healing dulu ah" atau bahkan mengalami penambahan imbuhan menjadi "self healing-an." Kata "gas," yang aslinya adalah nomina dalam konteks kendaraan, disulap menjadi ajakan bertindak lewat bentuk "gaskeun," memakai akhiran serapan dari bahasa daerah yang kemudian dipopulerkan secara nasional lewat media sosial.

Proses ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang dikenal punya sistem afiksasi yang sangat produktif, mudah menempelkan imbuhan pada hampir semua jenis kata untuk membentuk makna baru. Yang membedakan generasi ini hanyalah kecepatan dan sumber katanya, yang kini lebih banyak diserap dari bahasa Inggris, bahasa gaul lama, hingga istilah niche dari komunitas daring, lalu diproses lewat mesin afiksasi bahasa Indonesia yang memang sudah lentur sejak dulu.

Pergeseran Makna: Kata Lama, Rasa Baru

Pola kedua yang menarik adalah pergeseran makna atau semantic shift. Kata "julid," yang berasal dari kata "judes" dan "sinis" yang dipadukan, kini punya makna yang jauh lebih spesifik dan bernuansa, yaitu semacam sinisme kompetitif yang dibumbui rasa iri, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diwakili oleh kata "iri" atau "sinis" saja secara terpisah. Begitu pula kata "skena," yang diserap dari kata Inggris "scene," mengalami penyempitan sekaligus perluasan makna secara bersamaan: menyempit karena kini merujuk secara spesifik pada komunitas musik indie atau gaya hidup tertentu, namun meluas karena sering dipakai secara sarkastik untuk menyindir seseorang yang dianggap terlalu berusaha tampil "berkelas."

Fenomena ini menunjukkan bahwa Gen Z sebenarnya melakukan sesuatu yang mirip dengan yang dilakukan penyair ketika menciptakan metafora baru, yaitu mengambil kata lama dan menitipkan rasa baru di dalamnya. Bedanya, penyair melakukannya secara sadar dan individual dalam karya sastra, sementara Gen Z melakukannya secara kolektif dan spontan lewat obrolan sehari-hari serta media sosial, dan justru karena kolektif inilah, perubahan makna itu menyebar jauh lebih cepat serta menjangkau jauh lebih banyak penutur.

Kenapa Ini Bukan "Kerusakan" Bahasa

Kritik yang paling sering dilontarkan terhadap bahasa Gen Z adalah anggapan bahwa fenomena ini mengikis kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, penting untuk dipahami bahwa yang terjadi bukanlah penggantian bahasa baku, melainkan penciptaan ragam bahasa baru yang berjalan berdampingan dengannya, semacam register khusus yang dipakai dalam konteks santai dan akrab. Sebagian besar Gen Z sebenarnya tetap mampu beralih ke ragam bahasa formal ketika situasinya menuntut, misalnya dalam surat resmi, presentasi kuliah, atau wawancara kerja. Ini menunjukkan bahwa yang terjadi adalah kemampuan berbahasa yang justru lebih kaya, karena mereka menguasai lebih dari satu ragam sekaligus tahu kapan harus memakainya.

Fenomena percampuran dan penciptaan kosakata semacam ini juga bukan hal baru dalam sejarah bahasa Indonesia. Bahasa "gaul" era 1990-an dan awal 2000-an, dengan istilah seperti "cabut," "kece," atau "jayus," dulu juga dianggap merusak bahasa oleh generasi sebelumnya, namun kini sebagian istilah tersebut bahkan telah masuk dalam catatan kosakata informal yang diakui keberadaannya. Bahasa gaul Gen Z hari ini kemungkinan besar akan mengalami nasib serupa: sebagian akan hilang ditelan tren, namun sebagian lainnya akan menetap dan menjadi bagian dari kekayaan kosakata bahasa Indonesia informal di masa depan.

Bahasa yang Terus Menulis Ulang Dirinya Sendiri

Pada akhirnya, apa yang dilakukan Generasi Z lewat kata-kata seperti "skena," "julid," "gercep," atau "healing" adalah bukti nyata bahwa bahasa Indonesia bukan sistem tertutup yang hanya boleh diubah oleh Badan Bahasa lewat kamus resmi. Bahasa adalah milik penuturnya, dan penuturnya terus-menerus menciptakan, membengkokkan, serta menegosiasikan makna sesuai kebutuhan zaman mereka. Generasi Z tidak sedang merusak bahasa Indonesia, mereka sedang melakukan apa yang telah dilakukan setiap generasi sebelumnya, yaitu menulis ulang bahasa ini agar tetap relevan dengan cara mereka merasakan dan menjalani hidup, hanya saja kali ini prosesnya terjadi lebih cepat, lebih riuh, dan lebih terlihat karena berlangsung di layar yang bisa disaksikan semua orang.