Konten dari Pengguna

Jadi Anak Baik Itu Capek: Memahami Penyebab The Good Girl Syndrome

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisa Agnia Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wanita Asia dengan bedak di wajahnya melihat ke cermin. Foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Wanita Asia dengan bedak di wajahnya melihat ke cermin. Foto: pexels.com

Pernahkah kamu mendengar kalimat seperti, “Ibu ingin kamu jadi anak baik yang selalu membantu orang lain,” atau, “Nak, jadi perempuan itu harus manut, terutama sebagai istri, kamu harus mengerti semua tugas rumah tangga!” Tampaknya tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Namun, ternyata ada beberapa hal yang harus diperhatikan karena akan membuat anak dan ketika masa dewasanya menjadi tertekan, tidak bebas, dan bergantung pada kebahagiaan orang lain lho.

Untuk memahami hal-hal itu, yuk simak beberapa penyebab anak mengalami sindrom gadis baik yang bersumber dari buku berjudul “Jadi Orang Nggak Enakan, Memang Enak?” karyanya Devanti Amara.

Peran Pola Asuh Keluarga

Pernahkah kamu dituntut untuk selalu patuh dan pandai mengurus rumah tangga?

Kalau tidak, tentu kamu tidak ingin seperti Santi yang dibebankan semua pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, mengasuh anak, dan membersihkan rumah setiap hari. Suaminya hanya bekerja kemudian bersantai dan enggan membantu Santi meskipun pekerjaan rumahnya masih banyak. Santi tidak memiliki keberanian untuk meminta bantuan kepada suaminya karena selalu teringat nasihat ibunya kalau menjadi perempuan itu harus patuh dan paham semua tugas rumah tangga.

Tuntutan untuk Menjadi Anak yang Sempurna

Apakah kamu pernah merasakan rasanya dipaksa sempurna?

Kalau iya, tentu kamu pernah merasakan di posisi Rara yang sejak kecil dipaksa untuk terlihat cantik dan menyenangkan dengan memakai pakaian feminin. Kadang-kadang Rara menolaknya karena tidak nyaman, namun orang tuanya selalu mengatakan Rara cantik kalau memakai pakaian yang dipilih orang tuanya.

Pengaruh Kebiasaan Masyarakat

Ternyata kebiasaan masyarakat juga berpengaruh terhadap sindrom gadis baik ini lho.

Di Madura, cukup banyak perempuan yang sudah dijodohkan sejak bayi. Tidak sedikit juga yang sudah menikah sejak mereka mulai masuk bangku SMP. Ternyata hal ini juga dialami oleh Siti, ia telah dinikahkan orang tuanya sejak ia remaja. Padahal Siti ingin sekali mengejar pendidikan dan kariernya, namun masyarakat di sekitarnya masih menilai kalau menikah itu lebih utama daripada mengejar pendidikan dan meniti karier.

Menjadi anak perempuan yang selalu dituntut untuk menjadi baik pasti sangat melelahkan. Dengan memahami penyebabnya, kita dapat menghindari dan mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk, serta menyadari pentingnya pendekatan psikolog. Kamu tentu tidak ingin menjadi perempuan yang selalu dituntut untuk menjadi baik, bukan?

Referensi

Amara, D. (2021). Jadi Orang Nggak Enakan, Memang Enak?. Klaten: Caesar Media Pustaka.