Konten dari Pengguna

Dampak Membaca Cerita Angst: Menyentuh atau Menyakitkan?

Raisa Alifa

Raisa Alifa

Mahasiswi Ilmu Al Quran Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisa Alifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Jan Kopřiva / Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Jan Kopřiva / Pexels

Cerita bergenre angst kini semakin populer di kalangan pembaca, terutama remaja dan dewasa muda. Cerita-cerita ini biasanya mengangkat tema penderitaan batin, trauma emosional, konflik psikologis, hingga kehilangan. Meskipun tampak sebagai bentuk ekspresi dan pelarian, membaca cerita angst secara berlebihan ternyata dapat memengaruhi kesehatan mental pembacanya.

Banyak orang mengaku merasa sedih berkepanjangan, cemas, overthinking, bahkan merasa "ikut terluka" setelah menyelesaikan cerita angst. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi saat kita terlalu larut dalam cerita yang menyedihkan?

Efek Emosional dari Membaca Angst

Bagi sebagian orang, menangis karena cerita fiksi bisa terasa melegakan. Hal tersebut adalah efek katarsis yang melepaskan emosi terpendam setelah membaca cerita angst. Namun, bagi mereka yang sedang dalam kondisi psikologis rentan, cerita seperti ini dapat memperparah gangguan suasana hati atau bahkan memicu trauma lama.

Otak manusia merespons cerita dengan empati. Saat membaca cerita yang sangat emosional, otak bisa "menyerap" perasaan karakter seolah-olah itu pengalaman sendiri. Jika dilakukan terus-menerus tanpa kesadaran emosional, ini bisa menyebabkan kelelahan mental dan gangguan psikologis ringan.

Simpati yang Sehat dan Keterikatan Berlebihan

Cerita angst menggugah sisi emosional pembaca, tetapi ada perbedaan besar antara empati yang sehat dan keterikatan emosional yang berlebihan. Jika pembaca mulai menyamakan cerita fiksi dengan hidup nyata, merasa tidak bisa lepas dari perasaan sedih setelah membaca, atau menjadikan cerita sebagai pelarian dari kenyataan, maka itu bisa jadi tanda peringatan.

Selain itu, paparan berulang terhadap cerita yang penuh penderitaan bisa membentuk pola pikir pesimistis atau fatalistik, terutama jika pembaca tidak punya sistem pendukung emosional yang kuat. Ini bisa memengaruhi cara pandang terhadap kehidupan, hubungan sosial, bahkan rasa percaya diri pembaca.

Bijak Memilih Bacaan untuk Menjaga Kesehatan Mental

Membaca cerita angst memang tidak dilarang. Namun, penting bagi pembaca untuk mengenali batas emosi mereka sendiri. Jika kamu mulai merasa terbebani secara emosional setelah membaca cerita angst, cobalah istirahat atau beralih ke genre yang lebih ringan dan positif. Bacalah fiksi yang bisa menyentuh hati, bukan yang meninggalkan luka. Pilihlah cerita yang tidak hanya menguras air mata, tapi juga memberi harapan dan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan.