Konten dari Pengguna

Memahami Kisah Qur’ani: Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Makna

Raisa Alifa

Raisa Alifa

Mahasiswi Ilmu Al Quran Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisa Alifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al Quran Al Karim. Foto: Abdulmeilk Aldawsari / Pexel
zoom-in-whitePerbesar
Al Quran Al Karim. Foto: Abdulmeilk Aldawsari / Pexel

Al-Qur’an adalah kitab suci yang sarat dengan kisah-kisah bermakna literal sesuai terjemahnya maupun bermakna tersirat. Namun, hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah kisah-kisah ini benar-benar terjadi dalam sejarah? Ataukah ia merupakan bentuk kiasan sastra yang dimaksudkan hanya untuk menyampaikan pelajaran moral? Bagaimana pandangan para mufassir dalam menafsirkan kisah-kisah ini?

Para ulama tafsir memiliki pendekatan yang berbeda dalam memahami kisah-kisah Qur’ani. Salah satu tokoh penting dalam pendekatan sastra terhadap Al-Qur’an adalah Muhammad Ahmad Khalafullah. Muhammad Khatib dalam penelitian skripsinya menjelaskan bahwa Khalafullah memandang kisah-kisah Al-Qur’an bukan sekadar catatan sejarah, melainkan karya sastra yang kaya nilai moral dan spiritual.

Menurut Khalafullah, kisah-kisah dalam Al-Qur’an tidak ditulis untuk tujuan dokumentasi sejarah, melainkan sebagai ekspresi artistik untuk menyampaikan pesan moral dan keimanan. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an menggunakan gaya penceritaan yang metaforis dan dramatis untuk menggugah perasaan, memperkuat keimanan, dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Dengan demikian, fokus bukan pada “apakah ini benar-benar terjadi?”, melainkan pada “apa makna yang ingin disampaikan?”

Apapun bentuk dan jenisnya, semua kisah dalam Al-Qur’an memiliki satu tujuan utama: memberikan ibrah (pelajaran).

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَࣖ ۝١١١

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf: 111)

Maka dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an tidak selalu harus dipahami secara literal dan historis. Daripada berdebat apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau tidak, alangkah baiknya jika kita mengambil pesan moral dan spiritual yang disampaikan.

Kisah-kisah dalam Al-Qur'an bertujuan untuk menyentuh hati, menanamkan nilai-nilai keimanan, dan menggerakkan manusia ke arah kebaikan. Al-Qur’an bukan sekadar buku cerita, melainkan pedoman hidup yang mengarahkan manusia menuju jalan yang lurus.