Konten dari Pengguna

Speak Up, Netizen Bela Korban Pelecehan Seksual di Twitter

Raisa Ismaini

Raisa Ismaini

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisa Ismaini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto : desain pribadi, menggambarkan support dari netizen terhadap korban pelecehan seksual yang speak up di Twitter
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto : desain pribadi, menggambarkan support dari netizen terhadap korban pelecehan seksual yang speak up di Twitter

Dapat kita ketahui bahwa media sosial mempunyai beberapa dampak buruk terhadap para penggunanya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial juga mempunyai banyak dampak baik, salah satunya platform Twitter yang dijadikan tempat para korban pelecehan seksual untuk speak up.

Beberapa saat lalu Twitter sedang ramai memperbincangkan sebuah isu mengenai pelecehan seksual. Di sini korban menceritakan kejadian tersebut melalui sebuah thread yang berisi tentang pengalaman korban ketika dilecehkan oleh seorang influencer yang terkenal.

Ketika thread ini muncul, netizen langsung mengomentari tweet ini dengan cepat, baik komentar positif ataupun negatif yang dilontarkan kepada kedua pihak yaitu korban dan pelaku pelecehan seksual. Banyak netizen yang mempunyai sudut pandang berbeda, ada yang langsung menyerang pelaku, dan ada juga yang membela pelaku.

Namun, saat isu ini menyebar di Twitter, banyak sekali netizen yang membela korban melalui fitur reply dan quote tweet, bahkan para korban pelecehan seksual yang lain ikut untuk bersuara mengutarakan kejadian yang mereka alami.

Sumber : akun Twitter @0kurrrrrrrrrr yang berani speak up dan mendukung korban pelecehan seksual lainnya.

Dengan banyaknya korban pelecehan seksual lain yang ikut bersuara untuk mengungkapkan kebenaran, maka perlu kita hargai dan patut apresiasi karena keberanian para korban ketika speak up mengenai peristiwa ini.

Support dari netizen memenuhi kolom komentar korban sehingga dapat kita ketahui bahwa pada saat ini banyak netizen yang terbuka pikirannya sehingga mendukung dan menyemangati korban pelecehan seksual yang berani untuk speak up di Twitter.

Sumber: akun Twitter @heiapril yang mendukung korban pelecehan seksual ketika speak up.

Tanpa kita sadari dengan adanya media sosial membuat pemikiran kita jauh lebih terbuka karena kita dapat melihat berbagai sudut pandang orang lain, kita dapat belajar dan mengetahui perbedaan opini-opini dari pengguna internet dalam menanggapi suatu isu atau peristiwa. Tinggal kitanya yang harus menyaring berbagai opini dari para netizen tersebut.

Dalam hal ini, Twitter menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan para korban. Jika ada pertanyaan “mengapa tidak langsung kepada pihak berwajib?”, karena dengan media sosial, berita dan informasi apapun dapat tersebar dengan cepat sehingga pelaku bisa mengakui kejahatannya.

Kita harus mengetahui bagaimana sudut pandang korban, terlebih lagi kasus ini merupakan kasus pelecehan seksual di mana perlu bukti yang matang agar dapat diserahkan kepada pihak berwajib.

Menurut saya, dengan adanya media sosial, isu dan peristiwa bisa terangkat dengan cepat sehingga lebih mudah untuk ditindak oleh pihak berwajib. Dapat kita lihat berbagai kasus yang viral di media sosial mengakibatkan pihak berwajib cepat turun tangan dalam menghadapi kasus tersebut.

Bisa jadi, itu adalah alasan mengapa beberapa korban pelecehan seksual lebih nyaman untuk speak up di media sosial dibanding lapor terhadap pihak berwajib, karena korban menghadapi seorang influencer yang mempunyai power besar, jika korban menghadapi ini sendirian, belum tentu kasus ini akan cepat untuk ditindaklanjuti, dan korban dapat secara cepat dikenai hukuman setimpal akibat perbuatannya.

Dengan adanya Twitter sebagai salah satu media sosial di internet, membuat para korban pelecehan seksual dapat menceritakan kejadian yang dialaminya dengan bantuan para netizen lain untuk mendukung keberaniannya ketika speak up mengenai pelecehan seksual, dan pelaku dapat segera mengonfirmasikan kebenarannya secara cepat terhadap korban dan pengguna media sosial lainnya.