Konten dari Pengguna

Orang Tua Tanpa Sadar Menyakiti Perasaan Anak dengan 5 Hal Ini

Raisa Mukaroma

Raisa Mukaroma

IPIEF 2018, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisa Mukaroma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai anak, tentu kita memiliki kewajiban untuk menghormati dan selalu berbakti terhadap kedua orang tua. Sebaliknya, orang tua juga memiliki kewajiban untuk merawat, memenuhi kebutuhan, dan juga mendidik anaknya. Meski terkesan bahwa anak harus menuruti segala perintah orang tua karena orang tua lah yang menopang kehidupannya, orang tua harus menyadari bahwa itu merupakan tugas dan kewajibannya, bukan sebagai penjamin anak harus menurutinya setiap waktu.

Foto oleh Kat Jayne dari Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Kat Jayne dari Pexels

Kerap kali orang tua melakukan hal-hal yang tanpa disadari dapat menyakiti perasaan anak, bahkan lebih parahnya dapat meninggalkan trauma untuk waktu yang lama. Berikut 5 contoh perkataan dan perbuatan yang dapat menyakiti hati anak.

1. Membanding-bandingkan anak

Hal ini yang paling sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Orang tua kerap membandingkan anaknya dengan anak orang lain yang dirasa lebih baik, dengan harapan sang anak dapat terpacu untuk menjadi lebih baik. Namun, sadarkah para orang tua bahwa hal ini bukannya memacu anak menjadi lebih baik, malah dapat membuat anak menjadi rendah diri karena merasa tidak dapat memenuhi ekspektasi orang tua.

2. Berperasangka buruk dan tidak mempercayai anak

Diragukan oleh orang tuanya sendiri tentu sangat tidak enak, terlebih lagi disaat anak sudah berusaha untuk selalu berkata jujur. Karena sering dicurigai, lama kelamaan anak akan mulai berbohong agar dapat menjawab sesuai dengan yang ingin didengar oleh orang tua. Anak tidak lagi menganggap berbohong adalah perbuatan yang salah, namun menjadikannya sebagai hal lumrah yang selalu dia kerjakan.

3. Tidak menghargai keinginan anak

Orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, tidak jarang keinginan mereka berbeda dengan apa yang sebenarnya diinginkan anaknya. Orang tua bahkan telah membuat keputusan tanpa berdiskusi dengan anak. Anak tidak diberikan kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan keinginannya. Orang tua berpikir bahwa mereka mengetahui apa yang terbaik, namun anak juga memiliki pertimbangan-pertimbangan lain terhadap keinginannya.  Hal ini dapat mempengaruhi anak kedepannya menjadi takut untuk mengutarakan pendapat, sulit mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, dan juga tidak punya inisiatif.

4. "Masih mending kamu cuman kayak gini, zaman mama dulu ..."

Tidak asing, bukan? Ya, kalimat ini memang sudah seperti senjata saat anak mulai mengeluh dengan tugas dan perintah yang diberikan orang tua. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan, mengingat keadaan serta cara didik zaman dulu dengan zaman sekarang yang tentu berbeda.

Seiring dengan perubahan zaman, orang tua tidak bisa memaksakan untuk mendidik anak yang hidup di era modern dengan didikan ala zaman dulu. Yang seharusnya dilakukan adalah ikut beradaptasi dengan situasi ini, sehingga orang tua dapat sadar bahwa keadaan dunia sekarang telah berubah, begitu pula dengan sifat anak dan cara mendidik yang pas.

5. Memarahi anak di depan umum

Pernahkah kalian melihat orang tua yang memarahi anaknya di depan umum? Tidak peduli berapa usia anak, tindakan ini dapat mempermalukan dan merusah harga dirinya di depan orang lain. Anak juga memiliki perasaan, dan tindakan ini dapat meninggalkan luka yang berbekas seumur hidupnya. Anak dapat merasa sangat marah bahkan kecewa terhadap orang tua karena telah memarahinya di depan umum.

Di atas merupakan 5 perlakuan atau perkataan orang tua yang dapat menyakiti perasaan anak. Lantas, jika orang tua terlanjur melakukan hal tersebut, apa yang dapat dilakukan?

Saat orang tua menyadari telah menyakiti hati anaknya, yang harus dilakukan adalah meminta maaf. Percayalah, ini merupakan yang sangat ingin didengar oleh anak yang telah merasa tersakiti oleh orang tuanya. Anak akan merasa dirinya penting dan kembali percaya bahwa orang tua menyayanginya.