Perceraian Orang Tua dan Dampaknya Terhadap Kisah Asmara Anak

Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Tulisan dari Nasywa Raisha S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semua orang pastinya ingin mempunyai keluarga yang bahagia dan harmonis. Keluarga merupakan dua atau lebih individu yang tergabung dalam suatu ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman,1998)
Jika dilihat dari definisinya pastilah akan terbayang di benak kita bahwa keluarga merupakan sesuatu yang sangat terikat dengan kita baik secara emosional maupun fisik. Keluarga juga dapat digambarkan sebagai tempat paling nyaman untuk pulang. Bukan pulang yang hanya sekadar kembali ke bangunan tempat singgah lalu makan dan tidur saja, pulang disini berarti bahwa keluarga adalah tempat dimana kamu dapat merasakan kenyamanan, keamanan, mendapatkan kasih sayang, juga tempat dimana kamu bebas menjadi siapa dirimu tanpa khawatir dengan penilaian orang lain.
Namun, bagaimana jika keluarga yang diharapkan dapat dijadikan sebagai tempat pulang ternyata tidak memberikan perasaan aman dan malah membuat anggotanya merasa tertekan dan tersakiti? Dalam hubungan antara dua orang atau lebih sudah pasti tidak dapat dipisahkan dari yang namanya konflik, kesenjangan argumen, maupun masalah lainnya. Ada banyak keluarga yang dapat menangani konflik dan permasalahan di dalamnya dengan lancar sehingga konflik yang muncul mudah teredam. Namun, tidak jarang juga keluarga yang kesulitan menangani konflik sehingga terpaksa harus berpisah di depan meja hijau. Perpisahan tersebut tentunya bukanlah suatu keputusan yang mudah karena selain melibatkan perasaan dua orang antara suami dan istri, ada juga perasaan anak atau buah hati yang terlibat didalamnya. Perpisahan yang dijalani orang tua nantinya juga dapat berpengaruh pada pertumbuhan anak.
Perceraian, Awal dari Trauma
Seorang anak terlebih yang sedang dalam masa pertumbuhan atau remaja pastinya sangat membutuhkan peran orang tua dalam proses menuju pendewasaannya. Adanya dukungan emosional dari ibu dan juga pengenalan lingkungan dari ayah sangat diperlukan tentunya.
Lalu, apa yang akan terjadi jika orang tua bercerai dan anak dipaksa harus ikut salah satu dari mereka? Spanier dan Thompson (1984) menjelaskan bahwa perceraian merupakan suatu reaksi terhadap hubungan pernikahan yang tidak berjalan dengan baik serta bukan merupakan suatu ketidaksetujuan terhadap lembaga pernikahan. Di setiap masyarakat terdapat institusi atau lembaga yang menyelesaikan proses berakhirnya suatu pernikahan.
Seorang anak dengan emosi yang belum stabil dan pengetahuannya terhadap dunia yang belum luas pasti bertanya-tanya mengapa perceraian orang tuanya harus terjadi? Mengapa ia tidak bisa tinggal bersama kedua orang tuanya lagi? Sebagai orang tua pun pastinya akan sulit menjawab pertanyaan anak tersebut, hingga tak jarang anak terbawa dengan pikirannya sendiri mengenai cara pandangnya terhadap suatu hubungan.
Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Kehidupan Asmara Anak
Sebagian anak akan menjadikan orang tuanya sebagai panutan ketika mencari pasangan. Namun, hal ini mungkin tidak sesuai dengan pemikiran seorang anak yang orang tuanya bercerai. Mengapa demikian? Beberapa anak dari pasangan yang bercerai pasti pernah berpikir, “orang tuaku saja bisa berpisah, bagaimana denganku nanti?” atau “yang menjalin hubungan pernikahan hingga mempunyai anak saja bisa bercerai, bagaimana dengan hubungan komitmen seperti pacaran? Bagaimana jika nasibku akan seperti kedua orang tuaku?”
Selain dari pemikiran di atas, perceraian orang tua juga mempunyai dampak diantaranya:
1. Enggan Terlibat dalam Suatu Hubungan
Orang tua dan keluarga merupakan tempat anak pertama kali belajar mengenai pengenalan lingkungan. Jika sedari kecil seorang anak sudah berada pada keluarga yang terpisah atau tidak harmonis, maka hal tersebut juga akan mempengaruhi pola berpikir dan berkembang sang anak.
Anak yang berasal dari keluarga broken home dapat mempunyai trauma dan ketakutan akan ditinggalkan oleh seseorang, jadi menurutnya lebih baik tidak terlibat dalam suatu hubungan daripada juga berakhir sebagai seseorang yang akan ditinggalkan.
2. Tidak memandang serius masalah percintaan
Tidak jarang anak dari keluarga broken home muak dan tidak mempercayai istilah-istilah mengenai percintaan. Realita kehidupan yang dialami terkadang dapat membuat anak berpikir bahwa semua percintaan itu sama saja, semuanya hanyalah bualan semata dan akan berujung pada perpisahan.
3. Susah Menaruh Kepercayaan Kepada Pasangan
Ingatan mengenai kedua orang tua pasti akan susah dilupakan, sehingga Ketika menjalin sebuah hubungan, anak akan sulit menaruh rasa percaya terhadap pasangan. Ketakutan-ketakutan akan ditinggalkan juga perasaan pesimis terhadap masa depan hubungan sering dirasakan oleh anak tersebut, yang mana jika hal ini tidak segera diatasi akan menjurus kepada hubungan yang tidak sehat.
Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan yang Mempunyai Trauma dalam Berhubungan?
Jangan bersedih sobat, walaupun dalam menjalin hubungan dengan anak broken home tidaklah mudah, ada beberapa hal yang perlu kita upayakan untuk mengubah mindsetnya mengenai sebuah hubungan, diantaranya:
1. Memulai dengan Menjadi Teman Bicara yang Baik
Menaruh kepercayaan untuk seseorang itu tidaklah mudah. Jadi, alangkah baiknya kita mulai melakukan pendekatan dengan membuat orang tersebut nyaman dengan kehadiran kita, salah satunya dengan cara menghargai dan mampu menjadi seseorang yang dapat diandalkan. Karena dengan begitu biasanya kepercayaan akan lebih mudah diberikan.
2. Tidak hanya meyakinkan dengan ucapan, tetapi lakukan dengan pembuktian
Tidaklah mudah bagi seseorang yang mempunyai trauma dalam berhubungan untuk mempercayai orang lain. Jadi sangat tidak dianjurkan jika kalian hanya meyakinkannya dengan kata-kata bualan namun tanpa menunjukkan aksi nyata. Dengan perbuatan yang diberikan setidaknya kalian terlihat memberikan perjuangan untuk membantunya lepas dari trauma yang menghantuinya.
3. Berusaha tidak melakukan sesuatu yang memicu munculnya trauma
Salah satu hal terpenting ketika menghadapi seseorang yang mempunyai trauma adalah dengan berusaha agar tidak melakukan tindakan yang dapat memunculkan traumanya. Misalnya seorang anak dari keluarga broken home dulunya sering melihat ayahnya marah-marah dengan berteriak terhadap ibunya. Nah, tindakan marah-marah dan berteriak ini bisa saja menjadi salah satu munculnya trauma anak tersebut. Jadi, sebisa mungkin jika sedang dalam masalah jangan mudah berteriak dihadapannya.
