Gestur sebagai Jembatan Komunikasi di Tengah Hambatan Berbahasa

Mahasiswa Universitas Airlangga Program Studi Bahasa dan Sastra inggris
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raissa Ramadhani Mahendra Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringkali seseorang dihadapkan pada lingkungan atau situasi baru sehingga mengharuskan seseorang tersebut beradaptasi lebih cepat untuk dapat bertahan di lingkungan tersebut. Situasi ini pernah terjadi dalam hidup saya saat mengikuti International Choir Competition di Jepang pada tahun 2023. Pada saat itu, saya mengikuti dua perlombaan di kota yang berbeda, yaitu Tokyo dan Osaka. Saya menetap di Jepang selama dua minggu, termasuk di Tokyo dan Osaka. Selama dua minggu di sana, saya hampir tidak pernah menggunakan ponsel karena disimpan oleh pelatih saya hingga lomba berakhir. Hal ini dilakukan karena memang tujuan utama tim kami ke Jepang adalah untuk mengikuti dan fokus terhadap lomba yang akan datang, sehingga hari-hari saya dipenuhi dengan latihan. Selama menetap di Jepang selama dua minggu, saya sangat merasakan perbedaan yang cukup signifikan, bukan dalam artian buruk, melainkan bagaimana bahasa dan sikap mengharuskan saya untuk belajar dan beradaptasi tanpa adanya ponsel. Bagi generasi sekarang, mungkin bepergian ke negara lain tanpa ponsel akan terasa sangat membingungkan, begitupun juga dengan saya. Saat itulah saya sadar bahwa tidak ada ponsel berarti tidak ada cara lain selain mengamati dan menggunakan gestur dalam berkomunikasi.
Salah satu hal yang paling sering terjadi selama saya berada di Jepang adalah mencari makanan yang tidak mengandung babi. Karena sebagian besar restoran di Jepang serta makanan dan jajanan yang dijual di supermarket tidak memiliki logo halal yang tertera, maka dari itu saya harus selalu memastikan apakah makanan tersebut mengandung babi atau tidak. Awalnya saya mengira bahwa bahasa Inggris babi, “pork”, sudah cukup dipahami oleh semua orang, terutama oleh pegawai restoran. Namun, kenyataannya sangat berbanding terbalik. Selama ponsel saya disimpan oleh pelatih, saya mencoba bertanya, di supermarket, di restoran, atau bahkan di tenant yang menjual makanan, dan yang terjadi selalu mereka hanya menatap lalu terlihat bingung. Saya merasa semakin bingung karena saya tidak tahu bahasa Jepang “babi” secara umum. Setiap kali saya bertanya, di mana pun saya berada, saya tetap mendapat respons bingung, yang membuat saya juga menjadi semakin bingung. Oleh karena itu, setelah beberapa kali menerima respons bingung saat menanyakan hal tersebut, saya jadi paham cara berinteraksi dengan masyarakat Jepang dan mulai menggunakan gestur daripada hanya bahasa Inggris.
Berinteraksi menggunakan gestur memang belum tentu 100% jelas, tetapi setidaknya dengan gestur komunikasi dapat terus berjalan. Saya mulai dengan membeli makanan di restoran, saya menggunakan gestur yang mungkin terlihat agak aneh, namun ini sangat membantu karena saya dan orang lain dapat memahami maknanya. Gestur tersebut adalah saya memperagakan bahwa saya tidak bisa makan babi dengan menaruh jari di bawah hidung, lalu mengarahkannya sedikit ke atas, dan mengeluarkan suara babi “ngok-ngok”. Setelah itu, saya menyilangkan kedua tangan sambil menggelengkan kepala yang menandakan tidak setuju. Selanjutnya, saya memperagakan suara sapi “moo…” dan ayam “pok…pok…”, lalu mengangguk berarti setuju. Dengan gestur tersebut, mereka dapat lebih memahami dan memudahkan saya mencari atau memakan makanan yang halal.
Melalui pengalaman yang saya alami, saya percaya bahwa komunikasi tidak selalu berlangsung melalui berbicara, melainkan komunikasi juga dapat berlangsung melalui gestur. Pengalaman ini dapat dikaitkan pada mata kuliah yang saya ambil yaitu Cross Cultural Communication tepatnya pada materi Non-Verbal Communication dan Language Barrier. Melalui kedua materi ini, saya memahami bahwa keterbatasan dan hambatan bahasa dapat diatasi dengan menyampaikan pesan melalui gestur. Komunikasi non-verbal (Non-Verbal Communication) dapat menjadi solusi ketika seseorang mengalami hambatan dalam memahami situasi. Penjelasan ini didukung oleh teori Paul Ekman dan Wallace V. Friesen (1969) dalam salah satu jurnal mereka, yang menyatakan bahwa gestur dapat berfungsi sebagai ilustrasi (illustrators) ketika terjadi hambatan bahasa. Selain itu, teori ini juga didukung oleh Hall E.T. (1976) yang menyatakan bahwa Jepang mayoritas dikenal dengan high-context culture, di mana masyarakatnya lebih peka terhadap isyarat atau penyampaian melalui gerakan dibandingkan hanya dari perkataan. Akan tetapi, tidak semua gestur memiliki makna yang sama karena perbedaan budaya antarnegara dan gestur bersifat terikat pada budaya (culture bound). Oleh karena itu, penggunaan gestur dalam berkomunikasi, terutama di negara lain, tidak boleh sembarangan karena masyarakat setempat mungkin memberikan respons yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Selanjutnya, ketidakpahaman yang muncul saat kita mengucapkan suatu hal termasuk dalam language barrier. Saya memahami bahwa ketika saya menggunakan bahasa Inggris kepada masyarakat Jepang mungkin saja mereka tidak memahami sepenuhnya apa yang saya ucapkan karena bahasa Inggris bukan bahasa pertama mereka. Di sinilah saya mengerti bahwa sebagai pendatang di negara tersebut, saya yang harus beradaptasi dan menghargai mereka dengan tidak memaksakan mereka untuk selalu paham, dengan cara mengganti metode komunikasi saya melalui gestur. Namun, apakah berkomunikasi dengan gestur benar-benar dapat mengatasi perbedaan bahasa dan budaya yang ada di setiap negara? Tentu tidak. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Judith Martin dan Thomas Nakayama (2022), komunikasi non-verbal dapat bersifat ambigu dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran bahasa dalam suatu komunikasi. Oleh karena itu, gestur dapat dibilang cukup efektif apabila untuk menyampaikan pesan atau kalimat yang sederhana. Sebaliknya, untuk menyampaikan pesan yang lebih kompleks tidak dapat jika hanya mengandalkan gestur karena ia tidak memiliki aturan tata bahasa seperti bahasa verbal.
Melalui pengalaman saya selama dua minggu di Jepang, tepatnya di Tokyo dan Osaka, mengajarkan saya banyak hal akan pentingnya membangun rasa kepekaan dalam diri sendiri terutama saat berada dalam situasi baru termasuk mengunjungi negara lain. Sebagai pendatang, wajar jika merasa bingung dan menghadapi beberapa struggle, karena disitulah kemampuan beradaptasi dan kepekaan diri kita terhadap budaya, bahasa, atau kehidupan yang berbeda diuji. Tidak hanya itu, saya juga menyadari pentingnya mencari solusi agar tetap bisa berkomunikasi selama berada di Jepang dengan menggunakan gestur-gestur sederhana. Meskipun gestur tidak akan pernah bisa menggantikan bahasa verbal, setidaknya melalui cara tersebut komunikasi dengan masyarakat lintas budaya, bahkan lintas negara dapat terjalin.
Daftar Pustaka
Ekman, P., & Friesen, W. V. (1969). The repertoire of nonverbal behavior: Categories, origins, usage, and coding. Semiotica, 1(1), 49–98. The_repertoire_of_nonverbal_behavior_categories_origins__usage_and_coding.pdf
Hall, E. T. (1976). Beyond Culture. Anchor Books. Hall Edward T Beyond Culture PDF | PDF
Martin, J. N., & Nakayama, T. K. (2022). Intercultural Communication in Contexts (8th ed.). McGraw-Hill Education. https://id.scribd.com/document/1021267264/Intercultural-Communication-in-Contexts-7th-Edition-by-Judith-Martin-Thomas-Nakayama-1259251795-978-1259251795-high-quality-pdf
