Konten dari Pengguna

Indonesia Hafal Pancasila, tetapi Gagal Mengamalkan Nilai-Nilainya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raisya Akhdan Alfadie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Syahrul Alamsyah Wahid

Indonesia Hafal Pancasila, tetapi Gagal Mengamalkan Nilai-Nilainya?

Kita hafal lima sila Pancasila sejak kecil. Kita mampu menyebutkannya dengan lancar, tetapi sudahkah kita menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari?

Ironisnya, di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan persatuan, perundungan masih terjadi, perbedaan pendapat berujung permusuhan, dan ketidakjujuran terkadang dianggap hal biasa. Kita berbicara tentang toleransi, tetapi belum tentu mau menghargai perbedaan. Kita menyerukan keadilan, tetapi terkadang hanya ketika kepentingan kita yang dipertaruhkan.

Masalahnya bukan karena kita tidak mengenal Pancasila, melainkan karena kita sering berhenti pada hafalan.

Padahal, Pancasila tidak hanya hidup di buku pelajaran, dinding sekolah, atau upacara kenegaraan. Pancasila hidup ketika kita menghormati orang lain, berani bersikap jujur, menolak perundungan, dan mau mendengarkan pendapat yang berbeda.

Kita juga tidak harus menjadi pemimpin untuk mengamalkannya. Perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana: tidak menyebarkan berita bohong, tidak merendahkan orang lain, dan tidak diam ketika melihat ketidakadilan.

Persatuan bukan berarti semua orang harus sepakat. Persatuan berarti kita tetap saling menghormati meskipun berbeda.

Pada akhirnya, Indonesia tidak kekurangan orang yang hafal Pancasila. Yang perlu terus kita bangun adalah kesediaan untuk menghidupkan nilai-nilainya dalam tindakan nyata.

Sebab, Pancasila tidak dinilai dari seberapa lantang kita mengucapkannya, tetapi dari seberapa nyata kita menjalankannya.