Akuntansi di Era Teknologi: Apakah Akuntan Akan Tergantikan?

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki pengalaman di bidang retail dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raisya Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali ditanya mengambil jurusan apa, ketika saya menjawab “Akuntansi”, sering kali muncul komentar seperti, “Oh, nanti kerjaannya menghitung uang, ya?” atau “Sekarang kan sudah ada aplikasi akuntansi, nanti akuntan masih dibutuhkan nggak?” Awalnya saya hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Namun, semakin lama saya mempelajari akuntansi, saya mulai menyadari bahwa pertanyaan tersebut sebenarnya cukup penting untuk dibahas, terutama bagi kami sebagai mahasiswa akuntansi.

Perkembangan teknologi memang membuat banyak pekerjaan akuntansi menjadi lebih mudah. Saat ini sudah tersedia berbagai aplikasi yang dapat membantu mencatat transaksi, melakukan rekonsiliasi bank, menghitung penyusutan aset, hingga membuat laporan keuangan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu kini dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Hal ini tentu membuat sebagian orang berpikir bahwa profesi akuntan akan semakin berkurang. Menurut saya, yang sebenarnya berubah bukanlah profesinya, tetapi jenis pekerjaannya. Pekerjaan yang sifatnya rutin dan berulang memang semakin mudah dilakukan oleh teknologi. Namun, akuntansi tidak hanya tentang memasukkan angka dan membuat laporan.
Seorang akuntan tetap dibutuhkan untuk memahami dan menilai informasi yang dihasilkan oleh sistem. Misalnya, apakah suatu pendapatan sudah tepat untuk diakui, apakah suatu aset mengalami penurunan nilai, atau apakah sebuah transaksi dilakukan dengan tujuan bisnis yang sebenarnya. Teknologi dapat membantu menghasilkan angka, tetapi keputusan dan pertimbangan di balik angka tersebut tetap membutuhkan manusia.
Angka yang Rapih Belum Tentu Benar
Menurut saya, salah satu hal penting dalam akuntansi yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh teknologi adalah sikap kritis dan integritas. Laporan keuangan yang terlihat rapi belum tentu menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Manipulasi dapat terjadi melalui berbagai cara, misalnya mencatat pendapatan lebih awal, menunda pencatatan beban, atau tidak mengungkapkan informasi tertentu.
Aplikasi hanya akan memproses data yang diberikan kepadanya. Jika data yang dimasukkan salah atau sengaja dimanipulasi, sistem tetap dapat menghasilkan laporan yang terlihat benar secara teknis. Karena itu, seorang akuntan harus memiliki skeptisisme profesional, yaitu tidak langsung menerima informasi begitu saja, tetapi mau memeriksa dan mempertanyakan apakah informasi tersebut benar dan masuk akal.
Tantangan Kami sebagai Mahasiswa Akuntansi
Menurut saya, tantangan terbesar justru ada pada diri kami sendiri sebagai mahasiswa. Selama kuliah, terkadang kami terlalu fokus mengejar nilai dan menyelesaikan soal berdasarkan contoh yang diberikan dosen. Selama bentuk soalnya masih sama, kita merasa sudah memahami materi. Namun, ketika diberikan kasus yang berbeda atau data yang lebih nyata, belum tentu kita bisa langsung menyelesaikannya.
Padahal, dunia kerja tidak selalu memberikan masalah dengan data yang lengkap dan jawaban yang sudah tersedia. Karena itu, mahasiswa akuntansi perlu mulai membiasakan diri memahami konsep, bukan hanya menghafal rumus atau format jurnal.
Selain itu, kemampuan teknologi juga tidak boleh diabaikan. Menurut saya, mahasiswa akuntansi tidak cukup hanya menguasai dasar-dasar spreadsheet. Kita juga perlu mulai mengenal pengolahan data, visualisasi data, database, bahkan teknologi atau aplikasi yang digunakan dalam pekerjaan akuntansi.
Kemampuan komunikasi juga tidak kalah penting. Seorang akuntan nantinya tidak hanya berhadapan dengan angka, tetapi juga harus menjelaskan hasil analisis kepada manajer, pemilik usaha, klien, atau pihak lain yang mungkin tidak memiliki latar belakang akuntansi. Karena itu, kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas menjadi salah satu keterampilan yang perlu dilatih sejak kuliah.
Pengalaman di luar kelas juga menurut saya sangat penting. Magang, mengikuti organisasi, kompetisi, membantu UMKM dalam pencatatan keuangan, maupun mengikuti sertifikasi dapat menjadi cara untuk memahami bagaimana ilmu akuntansi digunakan dalam kondisi nyata.
Kampus Juga Perlu Beradaptasi
Perubahan teknologi tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Kampus juga memiliki peran dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja yang terus berkembang. Pembelajaran seharusnya tidak hanya berfokus pada teori dan soal latihan, tetapi juga memberikan lebih banyak kasus nyata yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan.
Menurut saya, materi mengenai analisis data, teknologi dalam akuntansi, audit berbasis teknologi, serta etika profesi juga perlu semakin diperkuat. Keterlibatan praktisi dari dunia kerja dapat menjadi tambahan yang menarik agar mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai kondisi profesi akuntansi yang sebenarnya.
Integritas Tetap Menjadi Dasarr
Di tengah perkembangan teknologi, ada satu hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan, yaitu integritas. Akuntansi sangat berkaitan dengan kepercayaan. Investor, bank, pemerintah, dan pihak lainnya menggunakan informasi keuangan sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Karena itu, laporan keuangan harus dapat dipercaya.
Integritas seorang akuntan sebenarnya dapat dilatih sejak masih menjadi mahasiswa. Hal sederhana seperti tidak menyalin tugas teman, tidak memalsukan data praktikum, tidak melakukan kecurangan saat ujian, dan bertanggung jawab terhadap tugas merupakan bentuk latihan untuk membangun karakter.
Menurut saya, jika sejak kuliah kita sudah terbiasa melakukan kecurangan kecil, akan lebih sulit bagi kita untuk mempertahankan prinsip ketika menghadapi tekanan yang lebih besar di dunia kerja.
Penutup
Pada akhirnya, saya tidak melihat perkembangan teknologi sebagai alasan bagi mahasiswa akuntansi untuk takut terhadap masa depan. Justru teknologi seharusnya menjadi kesempatan bagi kami untuk meningkatkan kemampuan.
Pekerjaan yang sifatnya rutin mungkin akan semakin banyak dilakukan oleh sistem, tetapi kebutuhan terhadap orang yang mampu memahami data, menganalisis kondisi perusahaan, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan menjaga integritas tetap ada.
Jadi, ketika ada yang bertanya, “Kuliah akuntansi nanti cuma menghitung uang, ya?”, saya rasa jawabannya bukan sekadar “tidak”. Bagi saya, akuntansi lebih dari sekadar menghitung angka. Akuntansi adalah tentang memahami apa yang ada di balik angka dan memastikan informasi tersebut dapat dipercaya.
Teknologi mungkin bisa menghitung lebih cepat daripada manusia, tetapi menjadi orang yang mampu memahami, mempertanyakan, dan mempertanggungjawabkan angka tersebut tetap menjadi tugas kita sebagai calon akuntan.
