Dinamika Emina dan Abel, Dari Balon Sampai Peta Jakarta Tua

padjadjaran university student
Tulisan dari raisya rizaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cukup aneh, tapi upaya Abel untuk mendekati Emina patut diacungi jempol.

Berawal dari penasaran, berujung terbawa perasaan. Tidak ada yang menegangkan apalagi membuat gempar dari jalan ceritanya. Sampul bukunya juga tidak menjual desain grafis yang meninggalkan kesan wah.
Akan tetapi, entah mengapa setiap halamannya terus menggoda otak untuk lanjut membaca dan mencari tahu. Bingung, penasaran, tersentuh, sampai rasa kupu-kupu yang sering digunakan untuk mendeskripsikan perasaan jatuh cinta juga saya rasakan.
Diceritakan dari sudut pandang Emina, cewek kantoran yang suka ganti warna rambut. Tapi sepertinya dia lebih suka bicara soal babi. Iya, babi. Buku ini hampir seluruhnya didominasi oleh si orang pertama untuk membahas, maupun membandingkan sifat teman-temannya dengan babi.
Misal Nissa, sahabat kantornya yang disamakan dengan yan pi. Kulit dimsum dari darah babi. Awalnya malas untuk melanjutkan, karena apa sih? Bahas ini melulu. Tetap saja akhirnya kembali ke pernyataan di paragraf sebelum ini, penasaran.
Penggambaran karakter Emina sebenarnya agak aneh. Apalagi di luar lingkarannya dengan Nissa, ia hanya bergaul dengan nenek dan kakeknya alias para jompo. Sebab ia kehilangan kedua orang tuanya kala hendak menjemput dari rutinitas akhir pekan ke rumah jompo. Makanya cuma mereka yang ia punya.
Oh, ada satu lagi, Pak meneer namanya. Tetangga para jompo yang perannya seperti rekan klub buku Emina, menjadi mentor juga sumber nomor satu rekomendasi buku bagi sang tokoh utama Jakarta Sebelum Pagi ini.
"Emina, kamu bukan takut karena tidak tahu apa-apa soal dia; kamu takut kehilangan. Semua orang merasa takut kehilangan ketika mereka ada di ambang hubungan batu. Mereka takut kehilangan hubungan yang sudah ada, kesempatan untuk membina hubungan yang lain ..."
Poin utama dari cerita kehidupan perempuan yang namanya terinspirasi dari puisi Serbia ini, yaitu operasi balon pagi hari yang selalu bertengger di balkon apartemennya. Bersamaan dengan balon, diikatkan bunga mawar, melati, dan hyacinth. Tanpa mencantumkan nama pengirim maupun pesan yang sekiranya bisa memberi clue akan siapa sebenarnya penguntit yang tahu akan bunga tersebut juga alamat tempat tinggal Emina.
Bukan pemeran utama namanya, kalau tidak penasaran dan pemberani—nyerempet bodoh—dan mencari tahu penguntit ini. Seperti memiliki hidung sebesar hidung babi, ia berusaha mengendus segala kemungkinan maupun jejak yang sekiranya bisa menuntunnya sampai ke pengirim balon. Larangan Nissa juga tak didengar, yang penting bisa bertemu dengan pemilik tangan yang setiap harinya menerbangkan balon misterius tersebut.
Batu loncatan pertama, mendarat di seorang gadis kecil penjaga kedai teh fancy bernama Suki. Kakaknya juga mengelolatoko bunga. Suatu kebetulan yang terlalu pas untuk diabaikan. Dan benar saja, memang Suki yang selama ini menjadi kaki tangan penggemar rahasia Emina. Lambat laun informasi mulai terkuak, terima kasih kepada strategi mendekatkan anak kecil kolot yang digunakannya.
Semua usaha ngotot Emina, mengarahkan langkahnya bertemu dengan Abel. Abel Fergani, cowok yang selamat dari perang Al-Jazair, mengidap fobia suara dan sentuhan. Yang bertahun-tahun lamanya menaruh perhatian juga menantikan cerita baru tentang Emina. Satu-satunya yang bisa mengeluarkan Abel dari zona nyamannya, pindah ke Jakarta atas dasar khawatir sang gadis akan kesepian pasca kehilangan orang tuanya.
Kalau mau berpikir realistis, mungkin siapa saja akan kabur jika setiap hari menerima kiriman balon dan bunga dari orang yang tak dikenal. Namun, mengingat ketakutan besar yang dimiliki Abel, gesture ini sangat menghangatkan hati.
Usaha menarik perhatian dan membuka obrolan tanpa harus bicara langsung. Tahu mayoritas cerita di hidup Emina, meskipun tidak berlaku sebaliknya. Masih seram sih, tapi dynamic antara Abel dan Emina terlalu indah untuk diragui.
"Karena kamu bukan keluarga saya! Kalau saya berbuat bodoh sekali saja, saya bisa dengan mudah kehilangan kamu; dan saya nggak mau kehilangan kamu!"
Mereka menghabiskan banyak waktu, sambil pendekatan, dengan berburu lokasi yang lagi-lagi misterius. Asalnya dari sobekan halaman buku milik Pak Meneer, yang isinya surat tanpa penerima. Sedih, makanya duo Emina dan Abel merasa ini tugas mereka untuk mempertemukan sang pencurah dengan target curahan hati tersebut.
Waktu yang mereka habiskan berdua tidak seperti pasangan muda lainnya. Entah karena bias pernah terlarut dalam buku ini atau bagaimana, tapi benar sangat spesial dan menyenangkan hati. Meskipun untuk bersentuhan saja tidak mungkin, pesona serta gerak-gerik Abel berhasil memenangkan hati Emina.
Mungkin memang sudah semestinya mereka jadi rumah untuk satu sama lain. Belum tentu orang lain bisa mentoleransi kekurangan mereka, seperti mereka menerima keunikan masing-masing.
