Anomi di Jalanan Bali: Efek Domino Kegagalan Pasokan BBM terhadap Tatanan Sosial

Saya seorang mahasiswi aktif Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Raj Hulwatunnisaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antrean kendaraan bak ular yang melingkar memakan sebagian badan jalan, bunyi klakson bersahutan, ekspresi frustrasi dan lelah yang tercetak jelas di wajah para pengendara, belakangan ini menjadi pemandangan yang tidak asing di berbagai SPBU di Bali. Papan bertuliskan “BBM Habis” atau “Dalam Pengiriman” terpampang jelas di pintu masuk SPBU yang menandakan bahwa stok BBM kosong, hal tersebut memicu kepanikan kolektif masyarakat Bali.
Bagi beberapa orang, peristiwa kelangkaan BBM ini dianggap sebagai permasalahan teknis semata: minimnya kuota, kendala logistik, atau hambatan distribusi. Padahal, jika kita gali lebih dalam, ketidakadaan sumber energi dasar ini berdampak besar dalam kehidupan masyarakat. Rantai distribusi BBM yang mandek pada akhirnya mengoyak keteraturan hidup sehari-hari masyarakat Bali.
Krisis BBM di Pulau Dewata bukan sekadar kelangkaan komoditas energi, melainkan pemantik munculnya keadaan anomi, sebuah kondisi di mana tatanan norma dan keteraturan sosial melonggar akibat adanya disfungsi sistem. Situasi ini menciptakan amarah publik sekaligus menyulut benih gesekan sosial di jalanan.
Memahami Anomi di Jalanan
Émile Durkheim menyebut suatu keadaan ‘tanpa norma’ dengan anomi. Anomi lahir ketika masyarakat mendapatkan guncangan mendadak yang mengakibatkan aturan sosial yang menjadi pedoman di masyarakat kehilangan posisinya.
Wujud anomi sangat kasat mata di lapangan. Ketika ketersediaan bahan bakar tidak bisa dipastikan, norma kesabaran dan kebiasaan tertib terkikis oleh ketakutan akan kelangkaan. Dorongan bertahan hidup memaksa setiap orang mengutamakan kepentingannya sendiri, yang kemudian membentuk panic buying.
Dalam waktu yang singkat, tatanan sosial yang awalnya stabil berubah berantakan. Masyarakat mulai menyerobot antrean, terlibat adu mulut antarpengendara, perdebatan dengan petugas SPBU, hingga munculnya oknum pengecer tanpa izin yang sengaja mengambil untung lebih besar. Peristiwa tersebut merupakan wujud nyata bahwa norma ketertiban mulai musnah ditekan keadaan krisis.
Efek Domino Kelangkaan
Disfungsi pada satu elemen krusial ini memicu efek domino yang mengacak-acak tatanan dan keseimbangan roda kehidupan masyarakat Bali. Guncangan paling keras menghantam sektor esensial dan pekerja informal.
Sopir travel pariwisata dan pengemudi ojek online terpaksa berhenti mengangkut penumpang, kurir logistik, hingga pedagang kecil mendadak tidak bisa berkutik. Kelangkaan BBM menonaktifkan alat produksi primer mereka: mobilitas.
Krisis ini tidak berhenti di SPBU, tetapi juga di kalangan masyarakat. Keharmonisan dan ikatan sosial antarwarga ikut terkikis di dalamnya. Tingkat kepercayaan antarwarga yang menjadi modal sosial masyarakat Bali mulai menurun, tergantikan oleh sifat kompetitif dan individualis yang meningkat demi mengamankan sumber daya yang terbatas.
Sebagai wajah pariwisata internasional, Bali menanggung risiko kerentanan berkali lipat. Pergerakan wisatawan yang terhambat, jadwal tur yang berantakan, dan ketidaknyamanan umum tidak hanya berdampak pada kerugian ekonomi jangka pendek, tetapi juga berpotensi mengikis reputasi Bali sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman.
Erosi Kepercayaan Publik
Situasi anomi ini menjadi makin buruk karena adanya krisis komunikasi otoritas. Kalimat-kalimat yang dilontarkan untuk menenangkan masyarakat sering kali tidak sesuai dengan keadaan SPBU yang kosong, justru memicu kebingungan. Tidak adanya transparansi informasi hanya akan menjadi bola liar dan memperkeruh suasana.
Ketidakmampuan pemerintah dan BUMN menjamin ketersediaan BBM secara langsung meruntuhkan rasa percaya warga terhadap usaha negara dalam mengelola keberlangsungan hidup warga negaranya.
Menambal Disfungsi Sistem
Dalam usaha mencegah anomi meluas, pendekatan teknis-logistik tidaklah cukup. Pemulihan sistem sosial juga perlu dilakukan.
Pertama, mengevaluasi cara berkomunikasi. Dalam hal ini, transparansi informasi harus ditingkatkan untuk membangun kembali kepercayaan publik.
Kedua, terapkan aturan yang tegas di lapangan. Perusahaan harus memastikan tidak ada celah bagi oknum penimbun atau pengecer yang memanfaatkan kepanikan warga. Ketatnya pengawasan menjadi tembok terakhir untuk menjaga agar tatanan norma tidak sepenuhnya hancur.
Ketiga, pemerintah harus meninjau kembali ketahanan energi di wilayah kepulauan seperti Bali. Harus menyiapkan skema mitigasi krisis dan penyediaan cadangan (buffer stock) yang memadai, agar letak geografis tidak menjadi alasan bagi kerentanan distribusi.
BBM bukan hanya benda cair pembakar mesin, lebih dari itu. Ia adalah jantung perekonomian sekaligus penopang ketertiban harian publik. Mengabaikan kelangkaan ini berarti memberi ruang bagi kekacauan untuk mengoyak kebersamaan masyarakat. Memastikan ketersediaan bahan bakar di Bali bukan hanya soal hitungan liter, melainkan upaya krusial untuk menjaga napas kerukunan dan stabilitas sosial di Pulau Dewata.
