Konten dari Pengguna

Ironi Guru Indonesia: Tuntutan Setinggi Langit, Kesejahteraan Menjerit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raj Hulwatunnisaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang guru honorer terbelenggu krisis kesejahteraan saat tenggelam dalam tumpukan administrasi. Dihasilkan oleh Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang guru honorer terbelenggu krisis kesejahteraan saat tenggelam dalam tumpukan administrasi. Dihasilkan oleh Gemini AI

Setiap kali membicarakan masa depan bangsa, telunjuk kita selalu mengarah pada satu muara: pendidikan. Pada garda terdepan perjuangan inilah, guru mengambil peran sebagai aktor utamanya. Pemerintah selalu berbicara tentang pentingnya inovasi pembelajaran, peningkatan skor literasi dan numerasi, hingga implementasi Kurikulum Merdeka agar kualitas pendidikan Indonesia tidak tertinggal di kancah internasional. Namun, di balik jargon-jargon ideal tersebut, terselip sebuah kontradiksi tajam: kita menyuruh guru berlari mengejar ketertinggalan zaman, padahal ruang gerak mereka dibatasi oleh krisis finansial dan tuntutan administratif.

Faktanya, kondisi pendidikan Indonesia sangat kontras. Guru ditekan dengan ekspektasi profesionalisme yang tinggi. Mereka dituntut melek teknologi, mampu menjadi fasilitator yang baik, dan memahami kondisi psikologis setiap siswa. Faktanya, wajah media massa kita terus disuguhi ironi guru honorer yang gajinya jauh di bawah upah minimum, hingga terpaksa gali lubang tutup lubang melalui pinjol dan mencari pekerjaan sampingan.

Menurut perspektif sosiologi konflik dari Karl Marx, fenomena menjadi salah satu bentuk alienasi dan eksploitasi tenaga kerja dalam struktur pendidikan Indonesia. Mereka dituntut untuk menghasilkan siswa yang siap menghadapi persaingan dalam dunia kerja, tetapi guru justru diasingkan dari kesejahteraan yang layak—khususnya guru honorer. Mereka diwajibkan bekerja melampaui batas kewajaran dengan dalih pengabdian, tetapi kompensasi yang cair tidak bisa menjamin keberlangsungan hidup. Pada akhirnya, dunia pendidikan gagal menjadi ruang emansipasi, dan justru melanggengkan kemiskinan di antara para pendidiknya.

Selain masalah ketimpangan ekonomi, administrasi birokratis juga menjadi beban yang menghabiskan energi guru berstatus tetap. Alih-alih mendampingi siswa dan menjadi pendengar yang baik bagi keresahan murid, tenaga dan waktu para guru hari ini justru tersita habis oleh kewajiban mengetik laporan di depan monitor.

Alih-alih fokus mengajar, guru terjebak membuat dokumen pembelajaran yang rumit, menyetor bukti di dunia maya, dan menyusun laporan ganda. Sistem justru menilai mutu guru dari kerapian portofolio, bukan dari dampak nyatanya bagi siswa. Ujungnya, makna sejati pendidikan hilang ditelan ketaatan buta pada prosedur.

Kondisi ini sejalan dengan kritik sosiolog Max Weber mengenai "sangkar besi" (iron cage) birokrasi. Sistem yang terlalu kaku justru memenjarakan profesionalisme guru. Segala sesuatu diukur dengan angka, sementara karakter penting seperti nalar kritis dan empati siswa terabaikan karena tak bisa dimasukkan ke dalam format laporan. Lebih parah lagi, meminjam kacamata Pierre Bourdieu, sistem ini paling merugikan siswa dari kelas bawah. Guru yang kelelahan mengurus berkas tak lagi punya sisa tenaga untuk menularkan "modal budaya" seperti kebiasaan membaca dan tata krama. Ujungnya, sekolah gagal menjadi ruang pembebasan dan hanya melanggengkan kemiskinan antargenerasi.

Perubahan nyata wajah pendidikan tak akan terwujud bila aktor utamanya terus dikesampingkan. Kuncinya bukan pada rutinitas bongkar-pasang kurikulum tiap kali menteri berganti, tapi pada upaya memanusiakan guru. Pemerintah harus berani bertindak: pertama, pastikan guru honorer mendapat upah minimum yang layak. Kedua, pangkas habis beban administrasi yang tidak substansial. Kembalikan guru ke habitat aslinya di ruang kelas, bukan di depan lautan kertas. Menghargai profesi guru tidak cukup hanya dengan upacara dan himne setahun sekali di Hari Guru. Penghargaan sejati adalah membebaskan mereka dari cekikan ekonomi dan kerumitan birokrasi. Hanya dari guru yang merdeka, akan lahir generasi bangsa yang tangguh dan cerdas.