Sesat Pikir Pemuka Agama Kristen dan Boomers dalam Konflik Palestina-Israel

ASN yang sedang Tugas Belajar di Kampusnya Kemenkeu
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Raja Pranatha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beredarnya sebuah video khotbah seorang pendeta Kristen legendaris menggelitik pikiran dengan nurani saya. Pendeta tersebut mengutarakan opininya tentang “perdamaian” dalam konflik Palestina-Israel, dengan tone yang terkesan utopis dan mengawang-ngawang.
Narasi yang dibawa, secara mengejutkan, adalah idiom Perjanjian Lama mengenai “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”, bahwa Israel hanya “membalas dan mempertahankan diri”. Sebelumnya, saya tegaskan bahwa stand saya jelas disini: Israel adalah occupier (penjajah) dan Palestina adalah occupied (yang dijajah).
Omong kosong tentang narasi usang “Bangsa Pilihan Tuhan”. Ketika Yesus datang ke dunia dan melaksanakan karyaNya, keselamatan adalah milik segala bangsa dan seluruh umat yang percaya kepadaNya. Narasi “Bangsa Pilihan Tuhan” sudah tidak relevan.
Kritik saya adalah pendeta tersebut seharusnya menyampaikan tentang cara seorang Kristen bersikap, bukan malah terkesan mengompori. Mengenai idiom perjanjian lama yang dibawa pendeta tersebut, prinsip “mata ganti mata, dan gigi ganti gigi” sebenarnya adalah prinsip zaman baheula yang aslinya dimuat di Codex Hammurabi (1750 SM) sebelum dimuat kembali dalam kitab Ulangan dan Keluaran.
Inti dari idiom tersebut adalah reciprocal justice atau keadilan yang bersifat timbal balik. Sebagai seorang Kristen, kita perlu tahu bahwa prinsip jahiliyah ini jelas terpatahkan oleh Yesus di dalam Matius 5:38-48, ketika Yesus memerintahkan suatu hal yang sangat sulit:
(5:38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. 5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
Seorang Kristen wajib “mengasihi musuh dan mendoakan pembenci” walaupun sulitnya setengah mati. Love is the point. Harusnya pendeta tersebut cukup mengkampanyekan posisi seorang Kristen yang mengutamakan kasih dalam berbagai konflik. Pendeta tersebut seolah mewajarkan tindakan brutal pembalasan, alih-alih mengajak untuk mengasihi.
Secara tidak langsung, pendeta tersebut berpandangan “wajar” untuk membalas kejahatan dan kejahatan. Sungguh sangat aneh jika seorang pendeta yang harusnya memiliki tingkat intelektualitas tinggi dalam Kekristenan malah mengkampanyekan prinsip jahiliyah balas dendam dalam khotbahnya. Sungguh ironi karena Kristen sendiri dikenal adalah Agama Kasih.
Masalah semakin pelik mengingat pandangan “Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan” juga dipegang oleh mayoritas orang-orang tua atau boomers Kristen. Sering sekali saya temui pandangan jemaat-jemaat gereja yang di luar nalar. Mereka malah mendukung pendudukan dan penjajahan Israel. Gila. Warga dari negara yang pernah dijajah ratusan tahun malah menjadi diehard fans bangsa penjajah yang brutal. Saya tegaskan, tidak ada lagi God’s chosen nation.
Semua setara dan sama berharganya di mata Tuhan. Anugerah adalah milik semua orang tanpa eksklusifitas pada golongan tertentu. Trivianya, sebuah fenomena menyedihkan terjadi: semakin kontemporer & kekinian suatu denominasi Kekristenan, biasanya semakin mereka mendukung Israel dan semakin klasik/tua suatu Kekristenan (Katolik, Ortodoks, Lutheran, Kalvinis) semakin mereka berpihak pada kasih & perdamaian.
Untuk kasus ini saya hanya bisa mendoakan agar Tuhan ubahkan hati orang-orang tersebut. Semakin banyak yang berubah, semakin banyak pula yang mendoakan. Mendoakan perjuangan mereka yang dijajah dan mendoakan agar segera terjadi perdamaian.
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”
-Roma 12:8
