Konten dari Pengguna

Mengejar Gelar di Antara Lelah

RAJA PURNAMA

RAJA PURNAMA

Teknik Elekro Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RAJA PURNAMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber:pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber:pribadi

"Kisah Mahasiswa Yang Bekerja Siang Dan Kuliah Malam"

Mengejar Gelar di Antara Lelah: Kisah Mahasiswa yang Bekerja Siang dan Kuliah Malam

Pukul 17.05, Saya menutup laptop kantornya, menyambar jaket, dan setengah berlari ke kampus. Di tasnya ada buku catatan, kotak makan yang isinya sudah dingin, dan satu botol air minum. Jam kerjanya baru saja selesai. Kelas pertamanya mulai pukul 18:20 di kampus yang jaraknya satu jam perjalanan dari kantor.

Bagi sebagian orang, hari baru mulai melambat di jam seperti ini. Bagi Saya, dan ribuan mahasiswa kelas karyawan di seluruh Indonesia, hari justru memasuki babak kedua.

Dua Dunia dalam Satu Tubuh

Mahasiswa yang bekerja siang dan kuliah malam hidup di dua dunia sekaligus. Pagi sampai sore, mereka adalah karyawan dengan target, rapat, dan atasan yang menunggu laporan. Malam hari, mereka berganti peran menjadi mahasiswa yang dituntut aktif berdiskusi, mengerjakan tugas kelompok, dan lulus ujian.

Pergantian peran itu tidak pernah benar-benar mulus. Tubuh masih membawa penat dari kantor ketika dosen mulai menjelaskan teori. Mata berat, kepala penuh, tetapi catatan tetap harus ditulis. Banyak dari mereka mengaku pernah tertidur sebentar di sela perkuliahan, lalu terbangun dengan rasa bersalah dan bergegas menyalin catatan teman.

Alasan mereka menempuh jalan ini beragam. Ada yang bekerja karena harus menopang keluarga. Ada yang ingin naik jabatan dan mendapati ijazah menjadi syarat yang tak bisa dilewati. Ada pula yang dulu tidak sempat kuliah karena terhalang biaya, lalu memutuskan kembali ketika keadaan sudah memungkinkan. Apa pun alasannya, semuanya bertemu di satu titik: tekad untuk tidak berhenti belajar.

Harga yang Dibayar

Pilihan ini punya harga yang tidak kecil.

Waktu. Hari-hari dihitung per jam. Makan malam sering berupa bekal yang disantap di kampus atau di perjalanan. Akhir pekan, yang bagi orang lain adalah waktu istirahat, berubah menjadi waktu mengerjakan tugas dan belajar untuk ujian.

Tenaga. Tidur menjadi kemewahan. Pulang kuliah sering kali mendekati tengah malam, sementara pagi menuntut bangun lagi sebelum matahari terbit. Kelelahan yang menumpuk perlahan menggerogoti fokus dan kesehatan.

Hubungan. Undangan kumpul keluarga, acara teman, hingga waktu bersama pasangan kerap harus ditolak. Tidak sedikit yang merasa terasing dari lingkaran sosialnya sendiri. "Maaf, ada kuliah" menjadi kalimat yang terlalu sering diucapkan.

Mental. Di balik semangat yang tampak, ada keraguan yang datang diam-diam. Apakah semua ini sepadan? Kapan semua ini selesai? Pertanyaan-pertanyaan itu biasanya muncul tepat ketika tugas menumpuk dan tubuh sudah di batas.

Lebih dari Sekadar Selembar Ijazah

Orang sering melihat kuliah malam semata-mata sebagai jalan menuju gelar. Padahal, apa yang didapat jauh lebih luas. Mahasiswa pekerja belajar mengatur waktu dengan disiplin yang sulit ditandingi. Mereka terbiasa menghadapi tekanan, mengambil keputusan cepat, dan menghargai setiap kesempatan belajar. Teori di kelas langsung diuji di tempat kerja, dan pengalaman kerja memperkaya pemahaman di kelas.

Di atas semuanya, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Gelar yang diraih dengan cara ini membawa makna yang berbeda. Ia bukan sekadar bukti kelulusan, melainkan catatan panjang tentang ketekunan.

Hari Itu Akhirnya Tiba

Beberapa tahun kemudian, Saya berdiri di barisan toga, dengan keluarganya duduk di antara kursi para tamu. Ketika namanya dipanggil, ia teringat semua malam yang dilewatinya: perjalanan larut, mata yang perih, dan tugas yang selesai menjelang subuh. Lelah itu tidak hilang begitu saja, tetapi kini ia punya tempat. Lelah itu telah menjadi bagian dari cerita yang membawanya sampai ke panggung ini.

Bagi siapa pun yang sedang berada di tengah perjalanan serupa, kisah ini adalah pengingat sederhana: lelah itu nyata dan wajar dirasakan, tetapi ia bukan garis akhir. Selama langkah kecil terus diambil, malam demi malam, gelar itu tidak lagi sekadar impian.