Konten dari Pengguna

KOPI RASA POLITIK MENYAMBUT 'PILBUP' PAMEKASAN

raja weleh

raja weleh

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari raja weleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KOPI RASA POLITIK MENYAMBUT 'PILBUP' PAMEKASAN
zoom-in-whitePerbesar

Dari warung kopi, mari para jamaah kopi pagi mulai memikirkan politik dari sekedar adu urat pemolesan sang ‘idola’ ke debat sehat perihal ‘program kerja’. Dan lalalalala, politik Pamekasan dimulai.

***

Seorang penyuka kopi, yang berlagak genit mengaku pujangga, menulis: “pemandangan asri nan menyegarkan selalu memanjakan mata di kala pagi membuka cakrawala”. Dan memang seperti biasa (ini pun kalau anda percaya, wahai jamaah kopi), kegiatan tak resmi waktu pagi sebagian masyarakat di kabupaten Pamekasan adalah menikmati kopi di warung-warung kopi di pinggir jalan. Datanya dimana? Datang saja ke kampung saya yang ditumbuhi kemilau peradaban, pastilah kau temui kami dengan secangkir kopi, sebungkus rokok dan ditemani korek api.

Konon pada abad ke-11, kata seminar di kampusnya orang-orang terpelajar, minuman kopi hanya dapat dijangkau oleh kalangan bangsawan saja. Tapi kali ini, bapak saya yang petani, yang menghabiskan hari-hari syorganya di sawah bersama tarian angin kampung yang berdesir syahdu, dapat menikmati kopi. Minuman ini sudah bisa dinikmati semua kalangan. Asal kalian tahu, selalu ada bumbu penyedapnya bagi kopi dan pengopi. Membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari adalah satu jenis bumbu itu.

Beberapa minggu terakhir obrolan – yang biasanya sering jadi debat kusir yang tak ketolongan – di warung kopi mulai berganti topik. Sekarang mulai rame-ramenya debat kusir soal politik dan kandidat yang akan bertarung menjadi orang nomor satu di kabupaten Pamekasan. Dua pasangan calon sudah muncul ke permukaan dengan lipstik politik yang menarik dan menggemeskan. Uh so sweet! Secara resmi mereka telah mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Debat kusir di kalangan masyarakat mulai meluas dengan intensitas yang kian naik. Entahlah kapan turunnya.

Dua kandidat calon bupati ini adalah individu-individu yang memiliki kriteria ideal dalam kehidupan masyarakat Pamekasan. Setidaknya bumbu-bumbu positif dilekatkan kepada mereka oleh sebagian yang pro dan bumbu-bumbu negatif oleh mereka yang kontra. Dunia di kampung saya, kata tetangga yang pernah kuliah tapi masih belum lulus-lulus, diramaikan oleh kampanye politik dan segala pencitraannya. Desas-desus pro-kontra mengisi monyong-monyong debat kusir orang-orang di warung kopi.

Kedua pasang calon ini menjadi idola – atau tepatnya diidolakan – melalui berbagai upaya yang dilakukan tim resmi, tak resmi atau segerombolan orang yang suka ria dengan politik. Dalam bingkai politik yang dipoles dengan kampanye yang baik, kedua pasangan calon menjadi sosok yang menarik. Dan tentu mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilih (konstituen) pada pemilihan bupati kali ini.

Hal di atas tentu tidak menyalahi aturan dalam sistem demokrasi. Memilih berdasarkan identitas atau yang biasa disebut kedekatan sosiologis, sah-sah saja. Sehingga jualan yang berkaitan dengan ikatan atau trah seseorang masih menjadi isu yang santer dibicarakan. Bahkan tidak hanya sebatas itu, kedekatan dengan kalangan tertentu menjadi jualan menarik dalam memikat pemilihnya.

Kalau sampeyan tak punya ‘bau’ dengan tokoh tertentu, jangan dulu berpikir merebut kursi nomor satu di Pamekasan. Kira-kira begitu nasehat politik yang sampai ke telinga saya dari seseorang tetangga yang tetangganya punya tetangga pengamat politik.

Pengidolaan dan yang sejenis dengan ‘cara’ itu tentu tidak sepenuhnya ‘salah’ dalam memilih seorang pemimpin. Namun memilih atas dasar kedekatan sosiologis saja dan sekedar meng-IDOLA-kan sang kandidat sudah tentu akan menumpulkan daya pikir kritis. Sebab perdebatan yang muncul tidak lagi mengenai program kerja atau program unggulan sang calon selama 5 tahun ke depan.

Sebab itu, hai jamaah kopi, sudah saatnya para pegiat demokrasi dan warung kopi memberikan wacana baru seputar perdebatan di masyarakat: yang semula baru berkutat pada sisi ideal kehidupan sang idola (Cabup atau cawabup), mulailah beralih menonjok program kerja yang ditawarkan mereka. Sehingga kompetisi kali ini menjadi perang gagasan dan program unggulan untuk kesejahteraan masyarakat Pamekasan.