Konten dari Pengguna

PISA 2025 dan Paradoks "Nalar Mandek" Generasi Muda

Raka Ismaya

Raka Ismaya

Dosen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raka Ismaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : OCED (2026) PISA 2025 Result (Volume I): Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : OCED (2026) PISA 2025 Result (Volume I): Indonesia

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 baru saja dirilis, dan Indonesia kembali dihadapkan pada sebuah paradoks yang mengganggu. Di satu sisi, data menunjukkan bahwa 80 persen siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi bahkan melampaui rata-rata OECD sebesar 73 persen. Sebanyak 74 persen siswa juga mengaku akan berusaha lebih keras ketika menghadapi kesulitan.

Namun, di sisi lain, capaian akademik mereka justru stagnan, bahkan menurun di bidang matematika. Inilah yang kemudian disebut sebagai "nalar mandek": sebuah kesenjangan antara semangat belajar yang membara dan kemampuan bernalar yang tidak kunjung berkembang.

Membaca Data PISA 2025

Secara nominal, skor Indonesia pada PISA 2025 menunjukkan sedikit perbaikan di dua dari tiga domain utama. Skor sains naik enam poin menjadi 389, dan skor membaca juga naik enam poin menjadi 365. Namun, skor matematika justru turun dua poin menjadi 364. Peringkat Indonesia pun masih berada di kelompok bawah: peringkat 73 dari 91 negara untuk sains, peringkat 74 dari 90 negara untuk membaca, dan peringkat 78 dari 90 negara untuk matematika.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah data tentang kompetensi minimum. Hanya sekitar 17 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika, 27 persen dalam membaca, dan 37 persen dalam sains. Padahal, Level 2 adalah ambang batas kompetensi dasar PISA—tingkat di mana siswa mulai mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan sederhana dan familiar.

Artinya, mayoritas siswa Indonesia belum mencapai tingkat kecakapan dasar yang diharapkan. Sejak 2015, proporsi siswa di bawah Level 2 bahkan meningkat 14 poin persentase dalam matematika, 18 poin dalam membaca, dan 7 poin dalam sains.

Mengapa "Nalar Mandek" Terjadi?

Pertanyaan kuncinya adalah: mengapa rasa ingin tahu yang tinggi tidak berbanding lurus dengan kemampuan bernalar? Ada beberapa faktor yang perlu dicermati.

Pertama, lemahnya dukungan keluarga. PISA 2025 mencatat hanya 48 persen siswa Indonesia yang mengatakan bahwa orang tua atau wali menanyakan apa yang mereka lakukan di sekolah setidaknya sekali seminggu. Hanya 36 persen yang berdiskusi dengan orang tua mengenai masalah yang mereka hadapi di sekolah. Angka ini turun signifikan dibandingkan 2022, ketika masih 57 persen dan 48 persen. Pendidikan, dengan demikian, seolah hanya menjadi tanggung jawab sekolah, padahal keluarga adalah fondasi pertama pembentukan nalar.

Kedua, rendahnya growth mindset. Meskipun siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, hanya sekitar 30 persen yang memiliki growth mindset—keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan kerja keras. Bandingkan dengan rata-rata OECD yang mencapai 69 persen. Siswa dengan growth mindset di Indonesia memperoleh skor sains sekitar 17 poin lebih tinggi daripada siswa dengan fixed mindset. Artinya, keyakinan bahwa kecerdasan bisa diasah adalah kunci untuk mengubah rasa ingin tahu menjadi kemampuan bernalar yang nyata.

Ketiga, paradoks teknologi. PISA 2025 menunjukkan bahwa 53 persen siswa Indonesia mengaku pernah menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam seminggu. Kemudahan akses informasi ini di satu sisi menguntungkan, tetapi di sisi lain bisa menjadi bumerang jika menggantikan proses berpikir yang justru ingin dibangun sekolah. Ketika jawaban bisa diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan untuk menganalisis, menimbang bukti, dan menarik kesimpulan justru terancam tergerus.

Dari "Nalar Mandek" ke "Nalar Bergerak"

Pemerintah melalui Kemendikdasmen telah menetapkan empat pilar strategi utama sebagai tindak lanjut hasil PISA 2025, termasuk penguatan kompetensi guru dan implementasi pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan deep learning menitikberatkan pada pengembangan daya nalar kritis dan pemahaman reflektif siswa, bukan sekadar hafalan.

Namun, kebijakan saja tidak cukup. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, guru perlu dibekali dengan metode pembelajaran yang secara eksplisit melatih nalar, bukan hanya menyampaikan materi. Pembelajaran berbasis masalah, diskusi terbimbing, dan proyek kolaboratif yang menuntut analisis adalah beberapa contoh pendekatan yang dapat mengubah rasa ingin tahu menjadi kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kedua, keluarga perlu dilibatkan secara lebih aktif. Sekolah dapat membangun program yang mendorong orang tua untuk terlibat dalam proses belajar anak, misalnya melalui diskusi rutin tentang apa yang dipelajari di sekolah atau proyek belajar bersama di rumah.

Ketiga, literasi digital perlu diarahkan bukan hanya pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis dalam menggunakannya. Siswa perlu diajarkan untuk tidak sekadar menerima jawaban dari AI, tetapi juga mempertanyakan, memverifikasi, dan mengembangkan jawaban tersebut.

PISA 2025 adalah cermin, bukan vonis. Hasilnya menunjukkan bahwa fondasi nalar generasi muda Indonesia masih rapuh, meskipun semangat belajar mereka tidak pernah padam. Tugas kita bersama pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat adalah memastikan bahwa rasa ingin tahu yang tinggi tidak berhenti di permukaan, tetapi benar-benar menjelma menjadi kemampuan bernalar yang kokoh. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang dihafal, melainkan seberapa dalam seseorang mampu berpikir.