Konten dari Pengguna

Perubahan Sosial Di Era Digital

Raka Dwi Purnama

Raka Dwi Purnama

Mahasiswa Universitas Pamulang - Ilmu Komunikasi

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raka Dwi Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber:pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber:pexels.com

Bayangkan kita sekarang hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu terasa serba mudah. Berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi dengan orang lain, memperoleh pendidikan, hingga melakukan aktivitas ekonomi, dapat diakses hanya melalui genggaman tangan. Jarak yang dahulu menjadi penghalang kini terasa semakin dekat, waktu yang sebelumnya dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dapat dipersingkat, dan berbagai aktivitas yang dulunya memerlukan tenaga serta proses panjang kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Sungguh luar biasa, bukan?

Perkembangan teknologi telah membawa manusia menuju kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Internet, media sosial, AI (Artificial Intelligence), dan berbagai inovasi digital lainnya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Manusia tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memproduksi, menyebarkan, bahkan memengaruhi informasi yang dikonsumsi oleh orang lain atau sekarang disebut (Prosumen). Dalam banyak hal, kemajuan ini memberikan peluang yang begitu besar bagi manusia untuk berkembang, menciptakan sesuatu, dan memperluas jangkauan kemampuannya.

Tetapi pernahkah terlintas di benak anda bahwa di balik segala kemudahan tersebut, terdapat perubahan yang secara perlahan memengaruhi cara manusia menjalani kehidupannya?

Ada sebuah pemikiran bahwa setiap perkembangan dan inovasi selalu memiliki konsekuensi. Ketika manusia menciptakan sesuatu yang baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan, bukan berarti hasilnya akan selalu membawa dampak positif bagi seluruh aspek kehidupan. Artinya, perkembangan tidak hanya berbicara tentang seberapa canggih suatu teknologi diciptakan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menerima, menggunakan, dan mengelola teknologi tersebut. Dampak yang muncul sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari kesadaran individu, lingkungan keluarga, pendidikan, kebijakan pemerintah, hingga kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Inovasi pada dasarnya merupakan sebuah alat. Ia dapat menjadi sarana untuk menciptakan kemajuan, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan apabila penggunaannya tidak diimbangi dengan pemahaman, tanggung jawab, dan kemampuan untuk beradaptasi.

Semakin berkembangnya teknologi, semakin besar pula perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, seperti gedung-gedung modern, infrastruktur digital, transportasi, dan fasilitas publik, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yaitu kehidupan sosial manusia. Cara seseorang berkomunikasi, membangun hubungan, memperoleh pengetahuan, bekerja, berpikir, bahkan memandang dirinya sendiri dapat mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan. Dalam perkembangannya, teknologi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola interaksi, kebiasaan, nilai, dan perilaku masyarakat. Hal yang sebelumnya dianggap tidak biasa dapat berubah menjadi sesuatu yang lumrah. Sebaliknya, kebiasaan yang dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat bisa saja mulai ditinggalkan karena dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. Salah satu fenomena yang menarik untuk dibahas dalam konteks ini adalah perubahan sosial yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat karena manusia selalu hidup dalam lingkungan yang dinamis dan tidak pernah berhenti berkembang.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan perubahan sosial?

Sederhananya sebuah perubahan yang terjadi dalam pola kehidupan masyarakat, termasuk cara manusia berinteraksi, menjalankan peran sosial, membangun hubungan, mempertahankan nilai dan norma, serta mengorganisasi kehidupannya. Perubahan ini dapat dipengaruhi karena berbagai faktor seperti perkembangan teknologi, pendidikan, kondisi ekonomi, kebudayaan, lingkungan, hingga masuknya gagasan-gagasan baru ke dalam masyarakat.

Sebagai contoh banyak dari kita mungkin baru menyadari bahwa saat ini smartphone seolah sudah menjadi benda yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Perangkat yang dulu lebih identik dengan kebutuhan orang dewasa, pekerja, atau mereka yang memiliki kepentingan tertentu, sekarang sudah digunakan oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

sumber:pinterest.com (The Guardian)

Jika kita membandingkannya dengan pengalaman masa lalu, terdapat perbedaan yang cukup menarik. Dulu, membawa smartphone ke sekolah sering kali dianggap melanggar aturan. Bahkan, ketika seorang siswa memilikinya dan nekat membawanya ke sekolah, bukan tidak mungkin perangkat tersebut akan disita oleh pihak sekolah. Dengan alasan dipandang berpotensi mengganggu konsentrasi belajar, memicu perilaku konsumtif, atau membuat siswa lebih sibuk dengan dunianya sendiri daripada memperhatikan pelajaran. Namun seiring berkembangnya zaman, cara pandang terhadap teknologi mulai mengalami perubahan. Penggunaan perangkat digital dalam pendidikan semakin banyak dibicarakan, terutama ketika muncul kebutuhan untuk meningkatkan literasi digital, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, dan mengenalkan kecerdasan buatan (AI) kepada generasi muda.

Sekarang, kita mulai mendengar berbagai pembahasan mengenai pentingnya menguasai teknologi sejak dini. Siswa didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengolah, dan memanfaatkannya secara produktif. Perubahan kebutuhan pendidikan tersebut turut mendorong munculnya pendekatan dan kebijakan yang berbeda dalam memandang penggunaan perangkat digital. Luar biasa bukan?

Dalam rentang waktu yang tidak terlalu panjang, cara kita memandang sebuah benda dapat berubah begitu jauh. Smartphone yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang perlu dijauhkan dari lingkungan belajar, sekarang justru dapat menjadi salah satu perangkat yang mendukung proses pembelajaran. Bukan semata-mata karena benda tersebut berubah, melainkan karena kebutuhan, lingkungan, dan cara manusia memandang teknologi juga ikut berubah. Ada lagi contoh lain yang jauh lebih sederhana yang tak pernah kita bayangkan yaitu ketika membeli jajanan.

Coba ingat kembali masa sekolah dasar. Ketika ingin membeli makanan di kantin atau jajan di depan sekolah, uang tunai menjadi alat pembayaran yang paling umum digunakan. Cukup mengeluarkan uang dari saku, menyerahkannya kepada pedagang, kemudian menerima makanan dan uang kembalian jika ada. Prosesnya sederhana bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa suatu hari cara tersebut akan mengalami perubahan. Tetapi sekarang situasinya mulai berbeda. Perkembangan sistem pembayaran digital membuat transaksi dapat dilakukan tanpa harus menggunakan uang tunai. Melalui QRIS misalnya, seseorang dapat membayar makanan atau minuman hanya dengan memindai kode menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut.

sumber:pinterest.com

Fenomena ini bukan hanya ditemukan di pusat perbelanjaan, restoran besar, atau toko modern. Kita bahkan dapat menjumpainya pada pedagang kaki lima, penjual makanan di pinggir jalan, hingga pelaku usaha kecil yang sebelumnya identik dengan transaksi tunai. Sebagian dari mereka mulai menyediakan kode QR agar pelanggan dapat melakukan pembayaran secara digital.

Bayangkan, pedagang yang setiap hari berjualan di pinggir jalan pun perlu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumennya. Ketika semakin banyak pelanggan terbiasa menggunakan pembayaran digital, kemampuan untuk menerima transaksi tersebut dapat menjadi salah satu cara agar usaha mereka tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Sekali lagi sungguh luar biasa bukan ?

Dengan demikian transformasi digital bukan hanya terjadi pada perusahaan besar atau masyarakat perkotaan dengan fasilitas modern. Melainkan menyentuh kehidupan pada kelompok kecil yang ada di sekitar kita. Perubahan sosial di era digital juga bukan hanya tentang masyarakat yang mulai menggunakan teknologi modern, melainkan juga tentang perubahan cara manusia menjalani kehidupan di tengah kemajuan tersebut. Tantangan yang sebenarnya bukan semata-mata bagaimana kita mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi bagaimana kita tetap memiliki kesadaran untuk mengendalikan teknologi, mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, dan membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya ketika manusia berhasil menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan juga ketika manusia mampu menggunakan kemajuan tersebut tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, berempati, dan hidup berdampingan dengan sesamanya.

Raka Dwi Purnama, Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang