Konten dari Pengguna

Petakan Ulang Hidupmu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raka Dwi Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber:pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber:pexels.com

Banyak orang merasa kurang puas dengan dirinya sendiri. Bukan karena mereka tidak bersyukur, tetapi karena mereka belum benar-benar memahami posisi dirinya dalam kehidupan.

Kalau melihat kehidupan manusia saat ini, setidaknya ada tiga keadaan yang mungkin sedang kita jalani. Pertama, mereka yang belum mencapai apa yang selama ini diimpikan, baik dalam kehidupan maupun karier. Kedua, mereka yang telah mencapai keberhasilan, bahkan mungkin mendapatkan lebih dari apa yang pernah mereka bayangkan. Ketiga, mereka yang merasa gagal, terpuruk, atau tersesat karena menyadari bahwa selama ini mereka mungkin berjalan di jalur yang tidak sesuai dengan dirinya.

Lantas, bagaimana cara memandang ketiga keadaan tersebut?

Jawabannya bukan dengan terus membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, melainkan dengan menentukan kembali tujuan dari posisi yang sedang kita jalani. Bagi mereka yang belum mencapai keberhasilan, tujuan utamanya bukan langsung menjadi sukses, tetapi membangun keyakinan bahwa dirinya masih mampu sampai ke sana. Kalimat sederhana seperti, “Saya bisa berhasil,” bukan sekadar omongan semata. Kalimat itu menjadi titik awal untuk menerima keadaan sekaligus memberikan arah baru bagi kehidupan.

Bagi mereka yang telah berhasil, tujuan hidup tidak berhenti hanya karena apa yang diinginkan sudah tercapai. Tetapi justru bagaimana agar diri lebih bernilai atau tidak kehilangan arah setelah mendapatkan apa yang selama ini dikejar. Sementara bagi mereka yang merasa gagal, terpuruk, atau tersesat, tujuan pertama bukan memaksa diri untuk segera bangkit. Tetapi yang perlu dilakukan adalah berhenti sejenak, memahami apa yang salah, lalu menentukan kembali jalan yang ingin ditempuh. Inilah yang disebut PETA ULANG HIDUP

Peta ulang hidup adalah bentuk keberanian untuk menerima keadaan saat ini, mengakui bahwa arah sebelumnya mungkin tidak selalu benar, lalu menentukan kembali siapa diri kita dan ke mana kita ingin pergi

Dengan begitu, menjadi “manusia baru” bukan berarti menghapus diri kita yang lama. Manusia baru adalah versi diri yang lahir setelah kita memahami kesalahan, menerima keadaan, dan memiliki tujuan yang lebih jelas.

Saat menghadapi berbagai situasi kegalauan hidup, terlihat ada yang sadar dan langsung melakukan tindakan untuk mengubah hidupnya. Ada yang sadar, tetapi berdiam diri dan hanya bisa melihat orang lain telah berubah. Ada yang sadar dan berpura-pura tidak tahu bahwa orang lain telah berubah lebih baik. Lalu ada yang sama sekali tidak sadar bahwa orang-orang di sekelilingnya telah berubah dan dirinya tetap terpuruk.

Dalam pemetaan ulang hidup, ada 3 tahapan self-assesment yang mampu menjadi kekuatan penggerak;

(Mengintrospeksi Diri -> Mencoba Hal Baru -> Melangkah Maju)

Hidup kita sehari hari mandek bukan karena tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi sehari hari kita hanya mengulang rutinitas yang sama, tanpa mendayagunakan potensi-potensi kreatif untuk memunculkan sebuah inovasi. Sementara itu waktu terus berjalan. Dalam menjalankan proses ini cobalah menemukan kembali diri sejati dengan menggali hal-hal yang merupakan bagian dari diri sesungguhnya. Cukup mawas diri supaya bisa menangkap dengan jeli bahwa hal-hal yang kerap dianggap sebagai anasir-anasir diri itu belum tentu bagian dari diri yang asli.

Keberanian kita haruslah diuji dengan memutus lingkaran kemandekan, bukan berarti menyudahi semua hal yang sudah kita lakukan selama bertahun tahun. bukan juga keluar dari pekerjaan atau mencoba profesi yang kita sendiri tidak punya keterampilan apapun tentangnya. Hanya, jika mampu menjalani rutinitas keseharian sebagai diri sendiri. Kita akan selalau bisa memaknainya, kemudaian mengahayatinya, dan pda akhirnya menjadikan rutinitas itu selalu terasa baru dan menyenangkan.

Dengan cara ini rutinitas tak akan lagi kita alami sebagai pengulangan yang mengekang kreativitas, melainkan hal hal yang sehari-hari itu bisa menjadi lahan untuk bercocok tanam bagi krreativitas dan inovasi.

Di akhiri dengan kutipan

Semua orang percaya setiap orang punya impiannya masing-masing. Namun hanya sebagian orang yang kemudian melihat rute yang tepat, yang akan mengantarkannya kepada impian tersebut. Sebagian sisanya lebih memilih rute orang banyak, karena disana lebih banyak senasib dan lebih sedikit rintangan di luar dugaan.

Raka Dwi Purnama, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang