Konten dari Pengguna

Perang Korea 1950-1953, Korban Intervensi Negara Adidaya

Raka Yudhistira Wibowo

Raka Yudhistira Wibowo

Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raka Yudhistira Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah Perang Dunia II berakhir, terdapat negara pemenang yang berasal dari blok sekutu, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara tersebut bersaing menjadi negara terkuat dan adidaya di dunia.

"Ilustrasi Perang Korea 1950-1953. Sumber: Wikipedia.com."
zoom-in-whitePerbesar
"Ilustrasi Perang Korea 1950-1953. Sumber: Wikipedia.com."

Sebagai negara adidaya, tentunya memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan negara lain di dunia yang menyangkut segala aspek, termasuk politik dan ekonomi. Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet disebut dengan Perang Dingin. Dalam perang dingin ini, Amerika Serikat dan Uni Soviet berusaha menyebarkan pengaruhnya terhadap negara-negara di dunia termasuk di kawasan Asia Timur. Dalam kawasan Asia Timur, negara yang terkena akibatnya adalah negara Korea. Korea mengalami konflik yang disebut dengan Perang Korea yang terjadi antara tahun 1950 hingga berakhir. Jadi, antara Korea Utara dan Korea Selatan yang melibatkan kekuatan militer antar kedua negara. Selain adanya intervensi atau pengaruh dari perang dingin, faktor lain seperti mempertahankan wilayah dan tidak ingin kalah dari lawan menjadi latar belakang terjadinya perang.

Sebelum mengalami konflik dan terbagi menjadi dua, Korea Selatan dan Korea Utara merupakan sebuah wilayah yang disebut dengan Semenanjung Korea. Sebelum terbentuknya Korea, Semenanjung Korea memiliki tiga kerajaan, yaitu Goguryeo, Baekje, dan Silla. Kemudian kerajaan itu bersatu dalam satu pimpinan. Pada tahun 1910, terjadi penjajahan yang dilakukan oleh Jepang selama 35 tahun lamanya. Setelah Perang Dunia II berakhir, timbul kekhawatiran dari pihak sekutu jika Jepang mengalami kebangkitan.

Oleh karena itu, dilakukan pelepasan wilayah yang dikuasai Jepang di kawasan Asia Timur, yaitu Semenanjung Korea. Karena belum terbentuknya pemerintahan, maka wilayah dibagi menjadi dua atas perwalian. Wilayah utara didukung langsung oleh Uni Soviet dengan paham komunis dan wilayah selatan didukung oleh Amerika Serikat dan barat dengan paham liberalis. Tentu saja, pembagian wilayah ini menimbulkan perbedaan pendapat dan terjadilah konflik bersenjata pada tahun 1950. Masing – masing wilayah utara dan selatan didukung oleh negara terkuat, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Tahun 1953 perang berakhir dan pihak Amerika Serikat melakukan perjanjian Mutual Security Treaty dengan Korea Selatan sehingga keberadaan pasukan Amerika Serikat dipertahankan guna mencegah terjadinya serangan dari pihak Utara. Konflik ini tahun 1953 dianggap telah berakhir. Namun, masih sering terjadi konflik antar negara dengan sekutunya hingga saat ini. Kedua belah pihak berulang kali mencoba mengadakan percobaan perundingan damai, tetapi pada akhirnya selalu gagal dan tidak menghasilkan titik terang.

Hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara semakin memburuk setelah terjadinya konflik. Namun, beberapa perjanjian diplomatik membuahkan hasil pada tahun 1971. Palang Merah Internasional melakukan program Red Cross Contact and Family Reunification Project. Setelah itu, hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara semakin membaik lagi setelah muncul “Agreement on Reconciliation, Nonaggression and Exchanges and Cooperation between the South and the North,” yang sering dikenal sebagai “Basic Agreement,” yang mengakui niatan baik reunifikasi kedua Negara tersebut. Pada tahun 1992 juga muncul kesepakatan “Joint Declaration of the Denuclearization of the Korean Peninsula.”

Namun setelah meninggalnya Kim II Sung, hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara mengalami pasang surut. Terkadang disebabkan oleh perbedaan pendapat antara kedua negara tersebut. Pada tahun 2009, hubungan kedua negara tersebut kembali memanas setelah Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik di laut Jepang secara terang-terangan. Amerika Serikat turut andil dalam menghentikan konfrontasi ini dengan mendirikan UN Security Council Resolution (UNSCR) pada tahun 2009. Hubungan diplomasi antara Korea Selatan dan Korea Utara tidak pernah benar-benar baik dan aman. Dalam situasi dan kondisi tertentu terkadang terjadi perbedaan pendapat antara kedua negara tersebut yang membuat bertambah panas.

Bahkan, setelah Uni Soviet runtuh Korea Selatan dan Korea Utara terkadang masih konflik karena memang pada dasarnya perbedaan ideologi lah yang membuat negara tersebut susah untuk mencapai kesepakatan damai. Amerika Serikat selaku negara yang memberikan pengaruh dan dukungan kepada Korea Selatan dengan ideologi liberalisnya, sedangkan setelah Uni Soviet runtuh, Korea Utara didukung oleh Tiongkok, karena sama berideologi komunis. Beberapa kali melakukan perjanjian perdamaian, beberapa kali perjanjian itu gagal dan sulit untuk benar-benar disepakati.

Namun, pada tahun 2018 untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melewati perbatasan dan menawarkan kerja sama dan menyambung kembali hotline komunikasi antara Korea Utara dan Korea Selatan yang sempat terputus. Hal ini dilakukan agar lebih menjaga hubungan diplomasi kedua negara tersebut, dan tidak mudah untuk terprovokasi oleh negara lain, seperti Amerika Serikat yang selalu berusaha mengintervensi Korea Selatan. Semua itu dilakukan karena urusan bisnis. Reunifikasi yang dilakukan oleh salah satu pimpinan terkadang menghasilkan dan menuju kedamaian. Namun, kedua negara tersebut mudah terpengaruh hanya karena perbedaan pendapat dan perbedaan ideologi. Konflik Korea Utara dan Korea Selatan sangat disoroti karena dapat membahayakan keamanan internasional.