Konten dari Pengguna

Awas Hadis Palsu di Media Sosial: 4 Cara Mengeceknya Sebelum Dibagikan

Rakha Arkana

Rakha Arkana

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rakha Arkana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Generated by AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Generated by AI (Gemini)

Pernahkah kamu menerima pesan berantai di grup WhatsApp yang diawali "Rasulullah bersabda..." lalu diakhiri ajakan "Sebarkan, jangan putus di kamu"? Banyak dari kita langsung menekan tombol bagikan karena niatnya baik. Padahal, tidak semua yang mengatasnamakan hadis benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Kenapa Ini Penting?

Hadis adalah sumber ajaran Islam setelah Al-Qur'an, sehingga menisbatkan sesuatu kepada Nabi bukan perkara sepele. Ada hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim yang memperingatkan bahwa orang yang sengaja berdusta atas nama Nabi akan mendapat ancaman keras. Hadis lain riwayat Muslim menyebut bahwa seseorang sudah dianggap pendusta jika menceritakan semua yang ia dengar tanpa menyaring.

Di era media sosial, pesan yang terlihat religius mudah sekali menyebar tanpa diperiksa. Maka sebelum menekan tombol bagikan, ada baiknya kita menyaring terlebih dahulu.

1. Cek Sumbernya

Hadis yang asli memiliki rujukan jelas: kitab hadis, nama perawi, dan biasanya nomor hadis. Misalnya "HR. Bukhari" atau "HR. Muslim".

Waspadai pesan yang hanya berbunyi "Rasulullah bersabda" tanpa keterangan apa pun, atau yang sumbernya sekadar "dari grup sebelah". Kalau sumbernya tidak jelas, tahan dulu jempolmu.

2. Cek Derajatnya

Tidak semua hadis berderajat sama. Ada yang sahih, hasan, dhaif (lemah), hingga maudhu' (palsu). Hadis dhaif dan palsu tidak boleh diperlakukan seperti hadis sahih, apalagi disebarkan seolah-olah pasti dari Nabi.

Kamu bisa mengeceknya lewat situs atau aplikasi hadis yang dikelola lembaga atau ulama terpercaya. Cukup ketik potongan teksnya, lalu lihat apakah ada dan bagaimana penilaian ulama terhadapnya.

3. Cocokkan dengan Ajaran Pokok Islam

Isi hadis tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur'an dan prinsip dasar agama. Curigai pesan yang menjanjikan pahala berlebihan untuk amalan ringan, atau yang disertai ancaman menakut-nakuti jika tidak disebarkan. Gaya seperti itu sering menjadi ciri pesan berantai, bukan ciri hadis yang kuat.

4. Tanyakan kepada Ahlinya

Jika masih ragu, tanyakan kepada ustaz, kiai, atau lembaga keislaman yang kompeten. Bertanya bukan tanda kita lemah, justru tanda kita berhati-hati menjaga agama.

Penutup

Menyebarkan kebaikan itu mulia, tetapi akan lebih mulia jika dibarengi ketelitian. Mulai sekarang, biasakan jeda sebentar sebelum membagikan: sumbernya jelas, derajatnya diketahui, isinya sejalan dengan ajaran pokok, dan sudah dikonfirmasi. Dengan begitu, kita tidak hanya terhindar dari hoaks, tetapi juga ikut menjaga kemurnian hadis Nabi di ruang digital.