Konten dari Pengguna

Hadis tentang Menyambung Silaturahmi di Era Grup WhatsApp

Rakha Arkana

Rakha Arkana

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rakha Arkana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Generated by AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Foto Generated by AI (Gemini)

Coba buka ponselmu sekarang. Kemungkinan besar ada grup keluarga besar di sana, penuh ucapan "selamat pagi", gambar bunga, dan pesan terusan yang entah dari mana asalnya. Kita merasa dekat karena selalu terhubung. Tapi kapan terakhir kali kamu menyapa paman, bibi, atau sepupu secara langsung, bukan lewat grup?

Silaturahmi dalam Hadis

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan dengan keluarga dalam Islam. Silaturahmi bukan sekadar tradisi saat Lebaran, tapi amalan yang dijanjikan kebaikan oleh Allah.

Terhubung Belum Tentu Bersilaturahmi

Grup WhatsApp memang membuat kita merasa selalu dekat. Padahal mengirim stiker atau meneruskan pesan belum tentu berarti kita peduli. Silaturahmi artinya hadir: menanyakan kabar, mendengarkan cerita, dan membantu saat ada yang kesulitan.

Banyak orang akhirnya hanya menjadi "penghuni grup". Mereka membaca semua pesan, tapi tidak pernah benar-benar menyapa. Bahkan kadang grup keluarga berubah jadi tempat debat politik atau penyebar hoaks, yang justru membuat renggang.

Teknologi Itu Alat, Bukan Musuh

Meski begitu, kita tidak perlu menyalahkan WhatsApp. Berkat aplikasi ini, kabar dari saudara yang jauh bisa sampai dalam hitungan detik. Keluarga yang terpisah pulau pun tetap bisa saling melihat lewat video call.

Jadi masalahnya bukan pada teknologinya, tapi cara kita memakainya. Kalau dipakai dengan baik, grup keluarga bisa menjadi pintu untuk mempererat hubungan, bukan penggantinya.

Cara Sederhana Menghidupkan Silaturahmi

Beberapa hal kecil yang bisa dicoba mulai hari ini:

Chat pribadi seminggu sekali. Pilih satu kerabat, lalu tanyakan kabarnya dengan tulus.

Telepon atau video call. Suara dan wajah terasa lebih hangat daripada teks.

Hadir saat suka dan duka. Balas kabar bahagia atau musibah dengan kata-kata yang tulus, bukan sekadar emoji.

Jaga suasana grup. Hindari debat panas dan jangan sembarangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

Kunjungi kalau bisa. Tidak ada yang menggantikan duduk bersama dan ngobrol langsung.

Penutup

Silaturahmi tidak butuh hal besar. Sebuah pesan singkat, telepon lima menit, atau kunjungan sederhana bisa menghangatkan hubungan yang mulai dingin.

Jadi, sebelum menutup artikel ini, coba pikirkan satu kerabat yang sudah lama tidak kamu sapa. Hubungi dia hari ini, bukan lewat grup, tapi langsung. Siapa tahu, itulah pintu rezeki dan keberkahan yang selama ini kita cari.